Wasit Final Piala Dunia 2006 Bongkar Momen Zidane: Kartu Merah Itu Benar, Tapi...
Baca dalam 60 detik
- Horacio Elizondo mengungkap Zinedine Zidane mengakui kartu merahnya benar, namun mempertanyakan apakah wasit melihat provokasi sebelumnya.
- Elizondo mengaku pura-pura berdiskusi dengan asisten untuk memberi kesan keputusan diambil secara kolektif, demi meredakan kemarahan penonton.
- Kartu merah Zidane menjadi momen paling ikonik dalam kariernya sekaligus penutup tragis perjalanan legenda Prancis di pentas dunia.

Dua dekade setelah momen kontroversial yang mengakhiri karier Zinedine Zidane, wasit yang memimpin final Piala Dunia 2006 akhirnya membuka tabir percakapan singkat di balik kartu merah tersebut. Horacio Elizondo, pengadil asal Argentina, menceritakan bahwa Zidane justru menenangkannya dan mengakui keputusan itu tepat, namun menyisakan satu pertanyaan menggantung: apa yang terjadi sebelumnya?
Pertandingan final antara Italia dan Prancis pada 9 Juli 2006 di Berlin menjadi salah satu laga paling dramatis dalam sejarah Piala Dunia. Italia keluar sebagai juara setelah adu penalti, tetapi sorotan justru tertuju pada Zidane yang diusir keluar lapangan pada menit ke-110 setelah kepalanya membentur dada Marco Materazzi. Bagi Zidane, itu adalah pertandingan terakhirnya sebagai pesepak bola profesional.
Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, Elizondo mengaku tidak melihat langsung insiden tersebut. โSaya melihat Materazzi tidak bangun, jadi saya menghentikan permainan dan berlari ke arahnya,โ ujarnya. Asisten pertama dan kedua sama-sama menyatakan tidak melihat apa-apa. Barulah wasit keempat, Medina Cantalejo, memberi tahu bahwa Zidane melakukan headbutt.
Elizondo khawatir penonton di stadion tidak akan memahami keputusannya. Karena itu, ia berpura-pura berdiskusi dengan asistennya. โSaya mulai berbicara dengan asisten, berpura-pura dia tahu sesuatu. Saya ingin akting ini membuat orang mengerti bahwa kami mengambil keputusan. Saya bilang: โSepuluh menit lagi, tetap fokus.โ Lalu saya berbalik dan memberikan kartu merah kepada Zidane,โ kenangnya.
Saat Elizondo bersiap mencatat nama Zidane di buku, sang kapten Prancis menepuk pundaknya. โTenang, kartu merah itu benar. Tapi apakah Anda tidak mendengar atau melihat apa yang terjadi sebelumnya?โ tanya Zidane. Elizondo menjawab tidak tahu, namun Zidane hanya berbalik dan pergi tanpa menjelaskan lebih lanjut. Pertanyaan itu hingga kini masih menjadi misteri.
Insiden ini menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah sepak bola. Zidane, yang sebelumnya dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen, harus mengakhiri kariernya dengan cara yang kontroversial. Materazzi sendiri kemudian mengaku telah menghina saudara perempuan Zidane, yang memicu reaksi emosional sang legenda.
Bagi Indonesia, kisah ini mengingatkan pada pentingnya pengendalian emosi di panggung terbesar. Sepak bola Indonesia kerap diwarnai insiden serupa, baik di level pemain maupun suporter. Pelajaran dari Zidane menunjukkan bahwa sekecil apa pun provokasi, respons impulsif bisa menghancurkan karier dan reputasi yang telah dibangun bertahun-tahun.
Kini, dua puluh tahun berselang, Italia belum pernah lagi memenangkan Piala Dunia dan bahkan gagal lolos ke tiga edisi terakhir. Sementara Prancis justru bangkit menjadi juara dunia pada 2018. Pertanyaan yang tersisa: akankah Zidane suatu hari nanti mengungkap apa yang sebenarnya dikatakan Materazzi? Atau misteri itu akan tetap terkubur bersama karier gemilangnya?



