Thomas Frank Kembali ke Bangku Pelatih: Strasbourg Jadi Pelabuhan Baru?
Baca dalam 60 detik
- Strasbourg dikabarkan membuka negosiasi dengan Thomas Frank, yang menganggur sejak dipecat Tottenham pada Februari lalu.
- Frank menginginkan kendali penuh atas rekrutmen pemain dan staf pelatih, selaras dengan pendekatan suksesnya di Brentford.
- Wilfried Nancy, mantan bos Celtic, menjadi opsi cadangan jika negosiasi dengan Frank gagal.

Thomas Frank, pelatih asal Denmark yang dipecat Tottenham Hotspur pada awal Februari setelah kurang dari delapan bulan menjabat, dikabarkan segera kembali ke dunia kepelatihan. Klub Ligue 1, Strasbourg, disebut telah membuka pembicaraan dengan Frank sebagai kandidat utama pelatih anyar mereka.
Frank meninggalkan Tottenham setelah timnya terpuruk di peringkat ke-16 Premier League, hanya meraih tujuh kemenangan dari 26 laga, dan mencatat rekor tanpa kemenangan terlama dalam lebih satu dekade. Sejak itu, ia sempat dikaitkan dengan Crystal Palace dan sejumlah klub Premier League lainnya, namun memilih rehat dan menjadi komentator selama Piala Dunia.
Menurut jurnalis Sky Switzerland, Sacha Tavolieri, Strasbourg telah melakukan kontak awal dengan Frank. "Racing Strasbourg telah menghubungi Thomas Frank untuk menjajaki kemungkinan kesepakatan. Pelatih yang pernah menangani Tottenham dan Brentford itu ingin memiliki suara dalam rekrutmen dan meminta perekrutan sejumlah besar asisten," tulis Tavolieri. Ia juga menyebut mantan pelatih Celtic, Wilfried Nancy, menjadi opsi kedua jika negosiasi dengan Frank gagal.
Ketertarikan Strasbourg pada Frank bukan tanpa alasan. Sebelum gagal di Tottenham, Frank membangun reputasi gemilang di Brentford selama tujuh tahun. Ia menerapkan pendekatan berbasis data, merekrut pemain yang nilainya melesat, dan kerap mengejutkan klub-klub besar Premier League dengan organisasi permainan, pressing cerdas, dan skema bola mati. Kemampuannya memaksimalkan potensi pemain muda dengan anggaran minim menjadi daya tarik utama bagi Strasbourg, yang mengadopsi model serupa.
Frank sendiri sempat menyatakan tidak akan kembali melatih sebelum musim baru, namun laporan Tavolieri mengindikasikan ia bisa berbalik arah. Secara finansial, Strasbourg tidak perlu membayar kompensasi karena Frank berstatus bebas transfer. Tantangan utamanya adalah memenuhi ekspektasi gaji dan staf pendukung yang ia minta, yang bisa membuat paket keseluruhan lebih mahal dari biasanya.
Bagi Frank, Strasbourg bisa menjadi kesempatan memulihkan reputasi setelah kegagalan di Tottenham. Ia membutuhkan struktur rekrutmen yang jelas dan kebebasan membentuk staf pelatihโdua hal yang dulu menjadi kunci suksesnya di Brentford. Jika terwujud, ia berpotensi mengulang prestasi membawa tim kelas menengah bersaing di papan atas Eropa.
Pertanyaan besarnya: mampukah Frank meninggalkan bayang-bayang kegagalan di London Utara dan kembali menjadi arsitek kebangkitan klub seperti yang ia lakukan di Brentford? Strasbourg tampaknya bersedia memberi jawaban.



