Belgium Bangkit dari Bayang-Bayang Generasi Emas: Peran Baru Para Senior
Baca dalam 60 detik
- Belgia melaju ke perempat final Piala Dunia setelah comeback dramatis melawan Senegal dan kemenangan telak atas Amerika Serikat.
- Para pemain senior seperti De Bruyne dan Lukaku kini lebih berperan sebagai penentu momen krusial, bukan tulang punggung permainan.
- Pelatih Rudi Garcia berhasil memadukan pengalaman para veteran dengan energi pemain muda, menciptakan skuad yang solid dan adaptif.

Belgia kembali menunjukkan taringnya di Piala Dunia. Setelah awal turnamen yang diragukan banyak pihak, tim berjuluk Setan Merah itu kini melenggang ke perempat final setelah menaklukkan Senegal lewat comeback dramatis dan menghancurkan Amerika Serikat 4-1 di kandang lawan. Transformasi ini bukan sekadar kebangkitan, melainkan bukti bahwa era baru tengah dibangun di atas fondasi pengalaman para pemain senior.
Di Piala Dunia 2014 dan 2018, Belgia identik dengan generasi emas yang diisi nama-nama seperti Eden Hazard, Vincent Kompany, dan Marouane Fellaini. Namun, kegagalan di Qatar 2022—tersingkir di fase grup—menjadi titik balik. Kini, hanya segelintir pemain seperti Thibaut Courtois, Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku, dan Axel Witsel yang tersisa. Mereka tidak lagi menjadi pusat permainan, melainkan lebih banyak berperan sebagai pemecah kebuntuan di momen-momen genting.
Data mencatat pergeseran peran ini. Courtois, kiper utama, bermain penuh di setiap laga. Namun, De Bruyne yang cedera saat melawan Senegal baru bermain sekitar 130 menit, dan sejak ketidakhadirannya Belgia justru mencetak tujuh gol dalam dua kemenangan. Lukaku, meski sudah mengoleksi tiga gol, hanya bermain kurang dari 50% menit, sering kali menjadi supersub yang memanfaatkan kelelahan lawan. Sementara Witsel hanya dimainkan semenit saat melawan AS. Pelatih Rudi Garcia dengan tegas menolak label "veteran" untuk para pemimpinnya. "Saya sangat tidak suka jika empat pemimpin saya disebut veteran. Itu jelek. Jika Anda beruntung memiliki pemain sekaliber ini, dukunglah mereka. Inilah yang bisa dilakukan oleh 'orang tua' Belgia," ujarnya.
Di sisi lain, pemain muda seperti Charles De Ketelaere dan Leandro Trossard tampil impresif. Trossard, pemain Arsenal, menjadi kreator utama dengan 17 peluang tercipta. De Ketelaere, meski bukan pencetak gol prolifik, sukses menciptakan ruang bagi rekan-rekannya. Kapten Youri Tielemans, yang baru berusia 27 tahun, menjadi pahlawan saat melawan Senegal. Garcia memuji kedewasaan skuadnya: "Kelompok ini sangat matang. Kami memiliki pemimpin yang membantu kami."
Keunikan lain dari Belgia adalah keragaman bahasa di ruang ganti. Dengan pemain yang berasal dari latar belakang Belanda, Prancis, dan berbagai negara lain, komunikasi menjadi tantangan tersendiri. Dr. Jim Ureel, ahli linguistik dari Universitas Antwerp, menilai penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa netral adalah langkah cerdas. "Bahasa adalah topik sensitif di Belgia. Dengan menggunakan Inggris, mereka menghindari konflik identitas dan politik," jelasnya. Lukaku, yang fasih dalam enam bahasa, menjadi jembatan komunikasi antar pemain.
Bagi Indonesia, perjalanan Belgia ini memberikan pelajaran tentang manajemen transisi generasi. Di tengah sorotan terhadap regenerasi timnas Indonesia, pendekatan Garcia—mempertahankan pemain senior sebagai mentor tanpa membebani mereka secara fisik—bisa menjadi referensi. Keberhasilan Belgia membuktikan bahwa pengalaman dan masa muda bisa berpadu harmonis jika dikelola dengan tepat. Kini, Belgia akan menghadapi Spanyol di perempat final. Mampukah para 'orang tua' ini membawa pulang trofi? Atau justru para pemain mudalah yang akan menuliskan nama mereka dalam sejarah?



