Balas Dendam Maroko: Saatnya Buktikan 2022 Bukan Puncak, Melainkan Awal
Baca dalam 60 detik
- Maroko dan Prancis kembali bertemu di perempat final Piala Dunia, empat tahun setelah Les Bleus menghentikan langkah bersejarah tim Afrika pertama yang lolos ke semifinal.
- Dengan investasi pembinaan usia muda yang matang dan dukungan emosional dari ibu pemain, Maroko kini datang sebagai penantang serius, bukan sekadar kuda hitam.
- Laga ini sarat muatan identitas dan sejarah kolonial, dengan beberapa pemain Maroko memilih membela tanah leluhur ketimbang Prancis.

Empat tahun setelah mimpi indah Maroko di Piala Dunia Qatar dipupus Prancis di semifinal, kedua tim kembali bersua di Boston, Kamis (27/3) dini hari WIB, dalam laga perempat final yang tidak hanya mempertaruhkan tiket ke semifinal, tetapi juga harga diri dan pembuktian bahwa capaian 2022 bukanlah kebetulan belaka.
Pada 2022, Maroko menjadi negara Afrika dan Arab pertama yang menembus semifinal Piala Dunia. Kekalahan 0-2 dari Prancis di Al Bayt Stadium meninggalkan luka yang belum sembuh. “Ini laga balas dendam, terutama bagi pemain yang merasakan kekalahan itu,” ujar jurnalis olahraga Maroko, Hamza Shteiwy. “Mereka ingin melunasi utang, untuk diri sendiri dan tim.”
Namun, atmosfer kali ini berbeda. Jika empat tahun lalu Maroko datang sebagai pemimpi, kini mereka hadir sebagai penantang serius. “Ekspektasi publik jauh lebih tinggi. Capaian di bawah semifinal tidak akan dianggap sebagai prestasi,” tambah Shteiwy. Keyakinan itu bukan nostalgia kosong. Tim U-20 Maroko telah menjuarai Piala Dunia U-20, tim senior meroket ke peringkat keenam FIFA, dan Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (RMFF) menuai hasil investasi jangka panjang di pembinaan usia muda. “Apa yang terjadi di Qatar bukanlah keberuntungan,” tegas jurnalis veteran Hameed Bel Hassan. “Itu hasil perencanaan strategis bertahun-tahun. Ini proyek nasional.”
Di atas kertas, Prancis tetap unggul. Dengan Kylian Mbappé sebagai ujung tombak, Les Bleus tampil cair dan efisien. Namun, Maroko percaya pada kekuatan kolektif. “Lini tengah kami seimbang. Jika bisa menekan awal seperti saat melawan Brasil, kami bisa merepotkan,” ujar Shteiwy. Lebih dari taktik, Maroko mengandalkan ikatan emosional yang unik: kehadiran ibu-ibu pemain di stadion. Kebijakan RMFF yang mendatangkan ibu pemain ke turnamen besar dinilai sebagai “strategi dukungan psikologis paling efektif” oleh Presiden RMFF Fouzi Lekjaa. Pelukan Achraf Hakimi dengan ibunya setelah setiap laga di Qatar menjadi ikon. Di turnamen ini, Ismael Saibari langsung berlari ke tribun memeluk ibunya usai mencetak penalti kemenangan lawan Belanda. “Doa seorang ibu, tidak ada yang bisa menandinginya,” kata Bel Hassan.
Laga ini juga sarat muatan sejarah. Prancis dan Maroko terikat masa lalu kolonial yang rumit, dengan diaspora Maroko terbesar di Eropa berada di Prancis. Beberapa pemain Maroko seperti Hakimi dan Sofiane Boufal memilih membela negara leluhur ketimbang Prancis, meski sempat masuk pembinaan muda Les Bleus. “Mereka akan bermain dengan perasaan kuat dan ingin membuktikan diri,” ujar Shteiwy. Duel Hakimi vs Mbappé, rekan setim di Paris Saint-Germain yang kini menjadi rival, menjadi simbol narasi identitas tersebut.
Pertanyaan besarnya bukan sekadar apakah Maroko bisa menaklukkan Prancis. Melainkan apakah tim yang mengejutkan dunia di Qatar mampu membuktikan bahwa capaian itu bukan puncak, melainkan fondasi. Jika menang, Maroko tidak hanya melaju ke semifinal, tetapi juga menegaskan bahwa sepak bola Afrika telah memasuki era baru. Jika kalah, mereka setidaknya telah menunjukkan bahwa perjalanan ini baru dimulai.



