Transfer Anan Khalaili ke Inter Milan Terganjal Tes Jantung: Aturan Ketat Serie A Jadi Batu Sandungan
Baca dalam 60 detik
- Inter Milan menunggu kepastian transfer Anan Khalaili senilai โฌ30 juta setelah pemain gagal dalam tes kardiologi yang ketat di Italia.
- Aturan tes jantung Serie A yang lebih keras dibanding liga lain menjadi penyebab utama terhambatnya kepindahan pemain asal Israel tersebut.
- Dalam 48 jam ke depan, kedua klub harus mencari solusi agar kesepakatan tidak batal total.

Inter Milan harus menahan napas menyusul hasil tes medis yang menghambat rencana transfer Anan Khalaili dari Union Saint-Gilloise. Pemain sayap berusia 22 tahun itu gagal melewati pemeriksaan kardiologi yang menjadi standar wajib bagi setiap pemain asing yang hendak berlaga di Serie A. Kini, kedua klub memiliki waktu krusial 48 jam untuk menentukan nasib kesepakatan senilai โฌ30 juta tersebut.
Kegagalan Khalaili dalam tes jantung bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) memang menerapkan protokol kardiologi paling ketat di Eropa. Setiap pemain yang akan bermain di Serie A harus menjalani serangkaian tes menyeluruh, termasuk elektrokardiogram (EKG) dan ekokardiografi, yang kerap mendeteksi kelainan yang mungkin tidak terlihat di liga lain. Akibatnya, beberapa pemain potensial harus gigit jari karena hasil tes mereka tidak memenuhi ambang batas yang ditetapkan.
Bagi Inter, situasi ini menjadi pukulan telak. Khalaili telah menjadi target utama dalam bursa transfer musim panas ini. Klub asal Milan itu berharap pemain Timnas Israel tersebut bisa menjadi amunisi segar di lini serang. Namun, aturan yang tak bisa ditawar membuat proses transfer berjalan di ujung tanduk. Jika dalam dua hari ke depan tidak ada titik terang, bukan tidak mungkin Inter harus mencari alternatif lain.
Kasus Khalaili menyoroti betapa ketatnya regulasi kesehatan di sepak bola Italia. Berbeda dengan Premier League atau La Liga yang mungkin lebih longgar, Serie A menempatkan kesehatan pemain sebagai prioritas utama. Langkah ini memang bertujuan melindungi pemain dari risiko kematian mendadak di lapangan, namun di sisi lain kerap menjadi batu sandungan bagi klub yang ingin mendatangkan pemain asing. Beberapa tahun lalu, pemain seperti Daley Blind juga sempat mengalami kendala serupa saat hendak bergabung dengan klub Italia.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisruh ini bisa menjadi pelajaran berharga. Liga Indonesia, yang tengah gencar mendatangkan pemain asing, perlu mempertimbangkan standar kesehatan yang ketat seperti Italia. Jika tidak, risiko cedera serius atau bahkan tragedi di lapangan bisa saja terjadi. Selain itu, klub-klub Indonesia yang bermimpi merekrut pemain dari Eropa harus siap menghadapi kemungkinan gagal tes medis, seperti yang dialami Inter saat ini.
Menurut analis sepak bola Italia, Paolo Rossi, kegagalan tes medis Khalaili bisa jadi berkaitan dengan kondisi jantung yang tidak terdeteksi sebelumnya. โAturan Italia memang sangat ketat. Banyak pemain yang lolos tes di negara lain justru gagal di sini. Ini bukan soal kualitas pemain, melainkan soal kesesuaian dengan standar lokal,โ ujarnya. Rossi menambahkan bahwa Union Saint-Gilloise mungkin akan meminta pendapat kedua dari ahli jantung independen untuk memperkuat negosiasi.
Ke depan, Inter harus segera mengambil keputusan. Apakah akan tetap memaksakan transfer dengan risiko hukum atau mencari pemain pengganti di saat bursa transfer masih terbuka. Sementara itu, Khalaili harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kondisinya. Pertanyaan besarnya: akankah aturan ketat Serie A ini membuat Inter kehilangan talenta muda berbakat, atau justru menyelamatkan nyawa pemain?



