Moriyasu Tetap Latih Jepang Hingga Piala Asia, Kontrak Jangka Pendek Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Hajime Moriyasu akan memperpanjang masa baktinya sebagai pelatih timnas Jepang dengan kontrak enam bulan usai tampil impresif di Piala Dunia 2026.
- Kontrak singkat ini dirancang agar Moriyasu fokus membawa Jepang juara Piala Asia 2027 di Arab Saudi, sebelum regenerasi pelatih pada Maret mendatang.
- Keputusan JFA memberikan kontrak pendek dinilai langka, namun dianggap strategis untuk menjaga momentum positif tim Samurai Blue.

Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) memutuskan mempertahankan Hajime Moriyasu sebagai pelatih kepala timnas, meski hanya untuk jangka pendek. Keputusan ini diambil setelah performa gemilang Samurai Blue di Piala Dunia 2026 yang berakhir di babak 32 besar usai kalah tipis 2-1 dari Brasil.
Menurut sumber internal JFA, Moriyasu telah menerima tawaran kontrak berdurasi sekitar enam bulan. Perjanjian ini akan diformalkan setelah mendapat persetujuan komite teknis dan dewan direksi JFA. Langkah ini tergolong tidak biasa, mengingat biasanya pelatih diberikan kontrak multi-tahun.
Durasi kontrak yang pendek ini sengaja dirancang untuk menyelaraskan dengan jadwal Piala Asia AFC 2027 yang akan digelar di Arab Saudi pada Januari hingga Februari mendatang. JFA berencana menunjuk pelatih baru mulai Maret 2027, memberikan waktu transisi yang cukup sebelum kualifikasi Piala Dunia 2030 dimulai.
Moriyasu, 57 tahun, adalah mantan gelandang bintang Sanfrecce Hiroshima dan timnas Jepang. Ia diangkat sebagai pelatih pada 2018 dan sukses membawa Jepang lolos ke Piala Dunia 2022 dan 2026. Prestasinya di Qatar 2022, saat Jepang menaklukkan Jerman dan Spanyol, membuatnya mendapat pujian luas. Di edisi 2026, Jepang kembali menunjukkan performa solid dengan tidak terkalahkan di grup, termasuk hasil imbang melawan Belanda.
Keputusan JFA memberikan kontrak pendek ini menuai beragam reaksi. Sebagian pengamat menilai langkah ini sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian Moriyasu, namun juga memberikan tekanan untuk meraih gelar Piala Asia. Jika gagal, JFA bisa dengan mudah melakukan pergantian tanpa harus membayar kompensasi besar.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Jepang adalah salah satu raksasa sepak bola Asia yang kerap menjadi tolok ukur. Konsistensi mereka di bawah Moriyasu menunjukkan pentingnya stabilitas kepelatihan. Namun, keputusan kontrak pendek ini juga mengindikasikan bahwa JFA tidak segan melakukan perubahan jika target tidak tercapaiโsebuah pelajaran bagi federasi sepak bola di kawasan.
Pertanyaan selanjutnya adalah: akankah Moriyasu mampu membawa pulang trofi Piala Asia untuk pertama kalinya sejak 2011? Atau justru kegagalan di turnamen tersebut akan mempercepat perpisahan?



