Tammy Beaumont Pensiun: Api Juang yang Padam di Tengah Transformasi Inggris
Baca dalam 60 detik
- Tammy Beaumont memutuskan gantung sepatu setelah 17 tahun membela Inggris, dengan Test melawan India di Lord's sebagai laga pamungkas.
- Keputusan itu dipicu oleh hilangnya motivasi setelah tersingkir dari skuad ODI, berbeda dengan masa-masa sebelumnya saat ia selalu bangkit.
- Pensiunnya Beaumont menyoroti minimnya kesempatan Test bagi kriket wanita, yang hanya 12 pertandingan dalam 17 tahun.

Tammy Beaumont, salah satu pilar kriket wanita Inggris, mengumumkan pensiun dari kancah internasional setelah Test melawan India di Lord's akhir pekan ini. Keputusan itu diambil bukan karena cedera atau performa menurun, melainkan karena api kompetitif yang selama ini membara perlahan padam.
Dalam wawancara dengan BBC Sport, pemain berusia 35 tahun itu mengaku sudah mulai meragukan masa depannya sejak Piala Dunia 50-over tahun lalu. Namun, titik balik terjadi ketika pelatih kepala Charlotte Edwards tidak memasukkannya ke skuad ODI melawan Selandia Baru musim panas ini. "Untuk pertama kalinya saya tidak merasakan dorongan untuk bangkit lagi, membuktikan bahwa mereka salah, dan merebut kembali tempat saya," ujar Beaumont.
Ia bahkan merasa terhubung dengan pernyataan Ben Stokes, kapten Test pria Inggris, yang baru saja pensiun. "Ketika Stokes bicara tentang 'kembali ke sumur', saya tidak pernah merasa begitu sepaham dengan orang lain. Saya selalu bilang, jatuh tujuh kali, bangun delapan kali. Tapi kali ini, saya sadar sudah tidak sanggup dan tidak mau lagi," tambahnya.
Karier Beaumont diwarnai pasang surut. Debutnya pada 2009 langsung dari kampus ke Karibia, lalu puncaknya pada 2017 saat menjadi pemain terbaik dan pencetak run terbanyak di Piala Dunia 50-over yang dimenangkan Inggris di kandang sendiri. Namun, ia juga pernah tersingkir dari tim T20 pada 2022 dan melewatkan Commonwealth Games di Birmingham. Setiap kali, ia bangkit. Kali ini tidak.
Beaumont juga menyoroti minimnya kesempatan bermain Test bagi kriket wanita. "Jika ditanya format favorit, saya tidak bisa bilang Test, meskipun sebenarnya itu favorit saya โ jika kami cukup sering memainkannya. 12 Test dalam 17 tahun membuat kami selalu merasa tertinggal. Di kriket pria, pemain hebat diukur dari rekor Test-nya. Wanita tertinggal dalam hal itu," kritiknya.
Ia menambahkan bahwa para pemain profesional ingin menguasai format Test, bukan sekadar menjadi seremonial. "Kami ingin menjadi hebat di apa yang kami lakukan, tapi bermain satu Test setiap dua tahun menghalangi itu," tegasnya.
Bagi Indonesia, kriket memang belum menjadi olahraga utama, namun kisah Beaumont relevan dalam konteks perjuangan atlet wanita mendapatkan kesetaraan kesempatan. Minimnya turnamen Test wanita dibandingkan pria menjadi cermin ketimpangan yang juga terjadi di banyak cabang olahraga lain. Di Indonesia, atlet kriket wanita juga menghadapi tantangan serupa: jadwal kompetisi yang jarang dan dukungan yang terbatas.
Meski pensiun, Beaumont berencana terus bermain di level domestik. Ia belum memikirkan langkah selanjutnya, tapi saat sesi latihan terakhir, ia tetap bersemangat berjaga di posisi dekat pemukul โ salah satu tugas tersulit di Test. "Itulah Tammy Beaumont," pungkas artikel BBC.
Pertanyaan yang tersisa: akankah pengunduran diri Beaumont menjadi momentum bagi badan kriket dunia untuk memperbanyak jadwal Test wanita, atau justru semakin menegaskan bahwa format ini hanya menjadi pelengkap?



