Kanada, Tuan Rumah yang Terlupakan, Ukir Sejarah di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Timnas Kanada menembus babak 16 besar Piala Dunia untuk pertama kalinya, mencatat kemenangan perdana dan poin pertama mereka di turnamen.
- Di balik sorotan Amerika Serikat, Kanada berhasil membangkitkan kebanggaan nasional dan memberikan dampak ekonomi positif bagi kota-kota tuan rumah.
- Keberhasilan ini membuka peluang bagi sepak bola Kanada untuk tumbuh, dengan investasi besar pada pembinaan usia muda dan infrastruktur.

Kanada mungkin kerap disebut sebagai "tuan rumah yang terlupakan" dalam gelaran Piala Dunia 2026, namun bagi tim nasional pria dan para pendukungnya, performa mereka di turnamen ini menjadi pencapaian yang tak terlupakan. Dipimpin oleh pelatih asal Amerika yang blak-blakan, Jesse Marsch, Kanada berhasil melaju hingga babak 16 besar—pencapaian terbaik mereka sepanjang sejarah—sebelum akhirnya takluk dari Maroko.
Perjalanan Kanada sebagai tim underdog—dari meraih poin pertama, kemenangan pertama, hingga kemenangan di babak gugur—adalah catatan sejarah yang membanggakan. "Mereka mengejutkan semua orang," kata Matt Lorincz, seorang penggemar di Calgary, kepada BBC. Meski sepak bola adalah olahraga yang paling banyak dimainkan di Kanada, kesuksesan komersialnya masih kalah pamor dibandingkan hoki es, bisbol, dan bola basket. Namun, ada harapan bahwa turnamen ini akan mengubah hal tersebut.
Selama beberapa pekan di Juni dan Juli, Kanada menikmati sorotan di panggung olahraga terbesar dunia, menjadi tuan rumah bersama Amerika Serikat dan Meksiko. Toronto dan Vancouver menjadi tuan rumah total 13 pertandingan dari 104 pertandingan turnamen. Suasana meriah terasa di Toronto, dengan suara pertandingan terdengar hingga ke jalan-jalan dan para penggemar menggelar pawai penuh warna menuju stadion. Di Vancouver, Kanada menghancurkan Qatar 6-0, meski kemenangan itu ternoda oleh cedera patah kaki yang dialami gelandang bintang Ismaël Koné.
Perdana Menteri Mark Carney, penggemar olahraga yang setia, menjadi satu-satunya pemimpin dari tiga negara tuan rumah yang hadir di stadion. Ia memberikan pidato penyemangat di ruang ganti setelah kemenangan melawan Qatar. "Kalian menunjukkan tingkat karakter yang tidak pernah dicapai sebagian orang seumur hidup mereka," kata Carney. Menteri Olahraga Adam van Koeverden menyebut Kanada "tumbuh sedikit sebagai kekuatan menengah" dan menganggap kesempatan menjadi tuan rumah sebagai "hak istimewa yang tidak dianggap enteng".
Namun, di balik euforia, ada kritik terkait biaya. Wajib pajak mengeluarkan sekitar C$1,1 miliar untuk persiapan Piala Dunia, dengan Toronto sendiri menghabiskan C$380 juta. Anggota dewan kota Josh Matlow meragukan pengeluaran tersebut di tengah kondisi keuangan kota yang tertekan. Sebaliknya, van Koeverden membela pengeluaran itu sebagai "bijaksana" dan menekankan manfaat ekonomi. "Stadion, taman, restoran, dan hotel yang penuh adalah masalah yang menyenangkan untuk dihadapi pada tahun 2026," ujarnya.
Dampak ekonomi langsung terasa di sektor bisnis. Ian Tostenson, kepala Asosiasi Restoran dan Jasa Makanan British Columbia, mencatat penjualan alkohol naik sekitar 5% dibanding tahun lalu. "Ini mengangkat semangat seluruh provinsi. Selama empat pekan terakhir, percakapan hanya tentang sepak bola," katanya. Meski Kanada menghadapi kesulitan ekonomi, Tostenson menambahkan, "jika Anda memberi orang alasan nyata untuk membelanjakan uang dan memberi mereka nilai, mereka akan membelanjakannya."
Bagi Indonesia, kisah Kanada ini relevan sebagai contoh bagaimana sebuah negara dengan basis penggemar sepak bola yang belum dominan dapat memanfaatkan status tuan rumah untuk mendongkrak popularitas olahraga tersebut. Indonesia sendiri tengah berupaya mengembangkan sepak bola nasional, dan pengalaman Kanada dalam mengelola investasi infrastruktur serta membangun basis penggemar bisa menjadi pelajaran berharga. Keberhasilan Kanada menarik perhatian publik—dengan angka penonton TV yang melampaui acara hoki—menunjukkan bahwa even besar dapat menggeser preferensi olahraga masyarakat.
Ke depannya, keberhasilan ini diharapkan menjadi katalis bagi pertumbuhan sepak bola Kanada. Dana segar dari penggalangan dana sebesar C$25 juta akan digunakan untuk pembinaan usia muda, pelatihan pelatih, dan tim nasional senior serta junior. Canada Soccer juga berencana membangun pusat pelatihan nasional. Pertanyaannya, akankah momentum ini bertahan lama? Ataukah sepak bola akan kembali tenggelam oleh dominasi hoki es? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: Piala Dunia 2026 telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan di Kanada.



