Ryan Christie: Rasa Lapar akan Panggung Besar Usai Piala Dunia Bersama Skotlandia
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Bournemouth, Ryan Christie, mengaku 'lapar' untuk kembali tampil di turnamen besar setelah debut Piala Dunia bersama Skotlandia berakhir di fase grup.
- Skotlandia mengakhiri penantian 28 tahun tampil di Piala Dunia, namun gagal lolos ke babak gugur, memicu pengunduran diri pelatih Steve Clarke.
- Dengan Euro 2028 yang akan digelar sebagian di Skotlandia, Christie optimistis timnya bisa melangkah lebih jauh di turnamen mendatang.

Ryan Christie, gelandang Bournemouth yang menjadi salah satu pilar Skotlandia di Piala Dunia, mengaku merasa 'hancur' setelah timnya tersingkir di fase grup, namun justru semakin lapar untuk kembali merasakan atmosfer turnamen besar. Bagi Christie, pengalaman perdana bermain di panggung tertinggi sepak bola dunia meninggalkan rasa yang campur aduk: bangga karena berhasil memutus puasa panjang, tetapi juga kecewa karena gagal melaju lebih jauh.
Skotlandia akhirnya tampil di Piala Dunia setelah absen selama 28 tahun. Namun, perjalanan mereka terhenti di babak penyisihan grup setelah hanya meraih satu kemenangan atas Haiti, serta kalah dari Maroko dan Brasil. Christie, yang bermain di ketiga laga tersebut, menggambarkan momen itu sebagai pengalaman yang luar biasa, terutama karena dukungan suporter Skotlandia yang memadati stadion. "Atmosfernya luar biasa," ujarnya kepada BBC Scotland.
Namun, euforia itu segera berubah menjadi kekecewaan. "72 jam pertama setelahnya, rasanya sangat menyesakkan karena kami sangat ingin lolos dari grup, tapi itu tidak terjadi," kata pemain berusia 31 tahun itu. Meski demikian, Christie menegaskan bahwa kebersamaan dengan rekan setim yang sudah lama membela Skotlandia membuat pengalaman itu tetap berharga. "Saya menikmati waktu bersama mereka. Begitu semuanya berakhir, Anda justru merasa lapar untuk lebih banyak lagi."
Kepergian Steve Clarke menjadi momen emosional bagi skuad. Christie mengungkapkan bahwa pelatih yang membawa Skotlandia ke dua turnamen besar Eropa dan satu Piala Dunia itu mengumumkan pengunduran dirinya dalam sebuah pertemuan tim. "Semua orang terpukul dan kecewa. Dia sudah berbuat banyak untuk kami dan akan dikenang sebagai legenda Skotlandia," kenang Christie. Kini, ia menantikan siapa pelatih baru yang akan datang dan berharap tim bisa kembali ke jalur positif.
Bagi Indonesia, perjalanan Skotlandia ini bisa menjadi cermin bagaimana sebuah tim yang lama absen dari turnamen besar akhirnya bisa kembali bersaing. Dengan populasi yang lebih kecil dan persaingan ketat di Eropa, Skotlandia membuktikan bahwa konsistensi dan regenerasi pemain bisa membuahkan hasil. Pelajaran ini relevan bagi pengembangan sepak bola Indonesia yang tengah berupaya menembus level internasional.
Christie, yang baru saja meneken kontrak tiga tahun baru bersama Bournemouth, kini fokus pada target berikutnya: Euro 2028 yang akan digelar sebagian di Skotlandia. Meski tuan rumah otomatis lolos, Skotlandia tetap harus melalui kualifikasi. Namun, dengan dua slot otomatis yang disediakan bagi tuan rumah yang gagal lolos, peluang Skotlandia untuk tampil di turnamen tersebut cukup besar. "Kami sudah membuktikan bisa lolos ke Piala Dunia. Sekarang, langkah selanjutnya adalah membuat dampak di turnamen," tegas Christie. Pertanyaannya, mampukah Skotlandia melewati fase grup untuk pertama kalinya dalam sejarah?



