Jelajahi 16 Stadion Piala Dunia 2026 dengan Taksi Hitam London, Dua Pemuda Ini Buktikan Mimpi Bukan Sekadar Angan
Baca dalam 60 detik
- Ollie Jenks dan Seth Scott menempuh 16.000 km melintasi AS, Kanada, dan Meksiko dengan taksi hitam London untuk menyambangi 16 stadion Piala Dunia 2026.
- Perjalanan ini terinspirasi dari dokumenter Stephen Fry dan misi sosial memberikan tumpangan gratis kepada suporter dari negara berpenghasilan rendah.
- Taksi 'Abby the Cabby' yang dibeli seharga ยฃ1.000 dalam kondisi rusak berat, namun berhasil melaju hingga 560 km per hari meski dihantam berbagai masalah teknis.

Dua pemuda, satu taksi hitam khas London, dan misi gila: mengunjungi 16 stadion Piala Dunia 2026 di tiga negara hanya dalam 39 hari. Ollie Jenks, warga Inggris, bersama sahabatnya asal Kanada, Seth Scott, memulai petualangan epik ini tepat pada hari pembukaan turnamen, dengan kendaraan yang nyaris tak layak jalan.
Perjalanan sejauh 16.000 kilometer ini bukan sekadar hobi. Jenks mengaku terinspirasi dari dokumenter BBC "Stephen Fry in America" yang tayang pada 2008, di mana sang komedian menjelajahi Amerika Serikat dengan taksi hitam. "Saya mudah bosan," canda Jenks, namun di balik itu ada misi kemanusiaan: memberikan tumpangan gratis kepada suporter dari negara-negara dengan ekonomi rendah, seperti Bosnia, Kolombia, Ghana, dan Argentina.
"Gaji rata-rata di Bosnia sekitar 800 dolar AS per bulan. Mereka harus bekerja tiga hingga empat bulan hanya untuk membeli tiket," ujar Jenks. "Jika kami bisa membantu sedikit, itu sudah menjadi kebaikan." Semangat komunitas inilah yang mendorong mereka menempuh risiko besar, termasuk meninggalkan pekerjaan demi mengejar mimpi.
Ini bukan kali pertama kedua sahabat ini melakukan perjalanan ekstrem. Pada 2025, mereka berhasil menjadi orang pertama yang melintasi Afrika dari London ke Cape Town dengan mobil roda tiga Reliant Robin. Pengalaman itu membuat mereka nekat membeli taksi hitam yang ditemukan di lokasi syuting film di Vancouver. "Tangki bahan bakar berkarat, rem macet, rodanya tidak bisa berputar. Mesin penuh lumpur. Sangat mengerikan," kenang Scott. Namun, setelah sebulan perbaikan, 'Abby the Cabby'โnama panggilan taksi ituโakhirnya bisa melaju.
Rintangan tak berhenti di situ. Mesin sering overheat, lampu pecah, dan polisi Meksiko sempat menggeledah taksi hingga menyita sebagian perlengkapan. Meski demikian, mereka mampu menempuh rata-rata 560 km per hari. "Kami terus berpikir, apakah taksi ini akan bertahan?" kata Jenks. "Tapi justru tantangan itulah yang membuat perjalanan ini berharga."
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kisah ini menjadi pengingat bahwa Piala Dunia bukan hanya soal tim-tim besar. Semangat akar rumput seperti yang dilakukan Jenks dan Scott menunjukkan bahwa turnamen ini mampu menyatukan orang dari berbagai latar belakang. Di tengah mahalnya biaya perjalanan dan tiket, aksi mereka menjadi alternatif inspiratif bagi suporter Tanah Air yang bermimpi menyaksikan langsung pesta sepak bola terbesar di dunia.
Jenks berharap petualangannya memicu orang lain untuk berani mengambil risiko. "Orang bilang tidak semua orang bisa melakukannya. Padahal bisa, asal mau mengambil risiko. Kami tidak punya anak atau cicilan rumah, tapi kami tetap harus mencari cara," ujarnya. "Semakin banyak orang bepergian, semakin bijak mereka dan saling menghormati."
Kini, setelah melewati setengah perjalanan, mereka berlomba dengan waktu untuk tiba di New Jersey sebelum final 19 Juli. Pertanyaan besarnya: akankah 'Abby the Cabby' mampu bertahan hingga garis akhir? Atau justru kegagalan teknis yang akan menjadi cerita paling berkesan?



