Norway vs England: Nostalgia dan Luka Lama yang Membara di Perempat Final Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Norwegia, Stale Solbakken, mengirimkan pesan dukungan untuk legenda Inggris Kevin Keegan yang tengah berjuang melawan kanker stadium empat.
- Kekaguman Norwegia terhadap sepak bola Inggris berakar sejak 1969, ketika siaran langsung liga Inggris pertama kali mengudara di negara Skandinavia itu.
- Pertemuan di perempat final ini membangkitkan kenangan kekalahan memalukan Inggris 1-2 dari Norwegia pada kualifikasi Piala Dunia 1981.

Stale Solbakken, pelatih timnas Norwegia, secara khusus menyampaikan salam hangat untuk Kevin Keegan pada Jumat (10/7/2026) menjelang laga perempat final Piala Dunia 2026 melawan Inggris. Bukan sekadar basa-basi, gestur itu menjadi cerminan ikatan emosional yang dalam antara Negeri Fjord dan sepak bola Inggris—sebuah hubungan yang telah terjalin lebih dari setengah abad.
Keegan, mantan kapten dan manajer timnas Inggris, pada bulan lalu mengumumkan bahwa dirinya tengah berjuang melawan kanker stadium empat. Bagi Solbakken, nama Keegan bukanlah figur asing. Justru, momen yang melibatkan sang legenda menjadi salah satu kekecewaan terbesar dalam hidupnya. “Penyesalan terbesar saya dalam sejarah Piala Dunia adalah Kevin Keegan tidak mencetak gol saat masuk sebagai pemain pengganti melawan Spanyol pada 1982,” ujar Solbakken dalam konferensi pers di Miami Stadium. “Dia adalah pahlawan besar saya. Saya dengar dia sedang sakit. Saya harap dia baik-baik saja.”
Kekaguman Solbakken terhadap Keegan bukanlah anomali. Di Norwegia, demam sepak bola Inggris telah menjadi fenomena budaya sejak 1969, ketika stasiun penyiaran publik NRK—saat itu satu-satunya saluran televisi—mulai menayangkan pertandingan liga Inggris setiap pekan selama musim libur panjang Norwegia. Kebiasaan itu menanamkan kecintaan yang mendalam terhadap klub-klub Inggris, bukan hanya Liverpool, Manchester United, atau Arsenal, tetapi juga Wolverhampton Wanderers dan Ipswich Town yang berjaya pada era 1970-an.
“Saya pikir Brasil dan Inggris adalah dua negara terbesar yang bisa kami hadapi di Piala Dunia ini dalam hal sejarah,” kata Solbakken. “Setiap orang di Norwegia yang mengikuti sepak bola Inggris punya tim atau pemain favorit. Itu yang membuat laga besok terasa spesial.”
Namun, rasa hormat itu tidak akan mengendurkan tekad Norwegia di lapangan. Setelah menyingkirkan Brasil, juara dunia lima kali, di babak 16 besar, tim Solbakken siap memberikan perlawanan sengit. Inggris pun harus waspada terhadap warisan lisan yang melekat: jika kalah, komentator Norwegia mungkin akan mengulang momen legendaris 1981, ketika Bjorge Lillelien berteriak histeris, “Maggie Thatcher, can you hear me? Your boys took a hell of a beating!”—sebuah ledakan emosi yang ditujukan kepada Perdana Menteri Inggris saat itu.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menyajikan tontonan menarik tentang bagaimana sebuah negara kecil bisa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan sepak bola Inggris. Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia, di mana Liga Inggris telah menjadi bagian dari budaya populer selama puluhan tahun. Pertandingan perempat final ini bukan hanya soal taktik, melainkan juga nostalgia dan kebanggaan yang melampaui batas negara.
Apakah Inggris mampu membayar lunas utang sejarah 45 tahun lalu, atau justru Norwegia kembali menuliskan kisah kejutan? Satu hal pasti: laga di Miami Stadium nanti akan menjadi panggung bagi dua bangsa yang terikat oleh cinta dan luka lama.



