Drama VAR dan Comeback Argentina: Mesir Tersingkir dengan Kekecewaan
Baca dalam 60 detik
- Argentina membalikkan ketertinggalan 0-2 menjadi 3-2 di menit akhir, menyingkirkan Mesir dari Piala Dunia.
- Keputusan VAR yang menganulir gol Mesir dan tidak meninjau pelanggaran pada Mohamed Salah memicu kemarahan tim dan pengamat.
- Mesir pulang dengan kepala tegak setelah penampilan bersejarah, namun masa depan Mohamed Salah di Piala Dunia masih diragukan.

Argentina memastikan tiket perempat final Piala Dunia setelah membalikkan ketertinggalan 0-2 menjadi 3-2 atas Mesir dalam laga yang diwarnai kontroversi kepemimpinan wasit dan sistem VAR, Minggu (25/6) waktu setempat. Kemenangan dramatis ini tidak hanya mengakhiri mimpi Mesir untuk pertama kalinya lolos ke babak delapan besar, tetapi juga menyisakan luka mendalam bagi skuad 'Firaun' yang merasa diperlakukan tidak adil.
Dalam pertandingan yang berlangsung di Atlanta Stadium, Mesir tampil gemilang dan unggul dua gol melalui Yasser Ibrahim (15') dan Mostafa Zico (45+2'—dianulir VAR). Namun, Argentina yang tidak mau kalah bangkit melalui sundulan Cristian Romero (79') dan dua gol cepat Lionel Messi (83') serta Enzo Fernandez (90+2'). Kemenangan ini menjadi comeback terbesar Argentina di Piala Dunia sejak 1998.
Kontroversi dimulai ketika wasit Francois Letexier menganulir gol Zico setelah meninjau VAR. Wasit menilai Marwan Attia melakukan pelanggaran ringan terhadap Lisandro Martinez pada awal serangan, meskipun insiden terjadi 17 detik sebelum gol. Keputusan ini dinilai inkonsisten dengan kebijakan FIFA yang mendorong wasit untuk memberikan kelonggaran kontak fisik demi kelancaran pertandingan. Sepanjang turnamen, rata-rata pelanggaran per laga hanya 22,6, lebih rendah dibandingkan 25 pada 2022 dan 27 pada 2018.
Kekecewaan Mesir memuncak ketika Mohamed Salah dijatuhkan di kotak penalti Argentina saat kedudukan 2-2, namun wasit dan VAR tidak meninjau insiden tersebut. Beberapa detik kemudian, Argentina justru mencetak gol kemenangan. Pelatih Mesir Hossam Hassan meluapkan kemarahannya: “Kami diperlakukan tidak adil hari ini. Saya tidak bisa menerima hasil ini.” Penyerang Zico menambahkan, “Wasit benar-benar tidak adil. Ketidakadilan sudah terlihat sejak awal pertandingan.”
Bagi Indonesia, laga ini menjadi pengingat betapa pentingnya kejelasan aturan VAR dan konsistensi wasit. Di tengah gairah sepak bola nasional yang terus meningkat, keputusan kontroversial seperti ini kerap memicu perdebatan di kalangan penggemar dan analis. Pengalaman Mesir juga menunjukkan bahwa tim non-unggulan mampu bersaing dengan raksasa sepak bola dunia, asalkan mendapat dukungan perangkat pertandingan yang adil.
Kekalahan ini memupus harapan Mesir untuk menjadi wakil Afrika di perempat final. Kini hanya Maroko yang tersisa dari sepuluh perwakilan Afrika setelah menaklukkan Prancis di babak sebelumnya. Sementara itu, masa depan Mohamed Salah di Piala Dunia masih tanda tanya. Pemain berusia 36 tahun itu akan berusia 38 tahun saat Piala Dunia 2030 digelar. Dengan performa yang kurang gemilang di turnamen ini—tanpa tembakan atau umpan kunci saat melawan Argentina—Salah mungkin telah memainkan laga Piala Dunia terakhirnya.
Meski kecewa, publik Mesir tetap berbangga. Tim asuhan Hossam Hassan menunjukkan perlawanan sengit dan hampir mencatat sejarah. Slogan 'Mekameleen' (kami akan terus berjuang) menjadi bukti semangat pantang menyerah. Pertanyaan besarnya: apakah FIFA akan mengevaluasi kembali penggunaan VAR untuk menghindari kontroversi serupa di masa depan? Ataukah ini hanya bagian dari drama yang membuat Piala Dunia tetap menarik?



