Di Tengah Demam Piala Dunia, Wales Datang ke Argentina dengan Misi Balas Dendam
Baca dalam 60 detik
- Wales menghadapi Argentina dalam laga Nations Championship di San Juan, saat seluruh negeri terfokus pada perjuangan Lionel Messi di Piala Dunia.
- Tim tamu hanya punya satu hari latihan penuh setelah perjalanan 18 jam, namun kapten Dewi Lake menolak menjadikan logistik sebagai alasan.
- Kemenangan akan membawa Wales naik ke 10 besar ranking dunia dan membalas kekalahan telak 52-28 di Cardiff November lalu.

Di kota San Juan yang sunyi di kaki Pegunungan Andes, timnas rugby Wales bersiap menghadapi Argentina pada Sabtu (13/7) malam waktu setempat—tepatnya empat jam sebelum Lionel Messi dan kawan-kawan turun lapangan melawan Swiss di perempat final Piala Dunia. Namun, di negeri yang sedang demam sepak bola, Wales datang bukan sekadar sebagai penonton: mereka membawa misi balas dendam dan ambisi merebut kembali posisi 10 besar ranking dunia.
Argentina sedang dilanda euforia setelah Messi membalikkan ketertinggalan 0-2 menjadi 3-2 atas Mesir di babak 16 besar. Ribuan orang memadati alun-alun di Buenos Aires, berteriak dan membunyikan klakson hingga larut malam, bahkan sempat diintervensi polisi anti huru-hara. Di tengah hingar-bingar itu, Wales tiba dengan perjalanan melelahkan: 18 jam penerbangan dari London Heathrow, terbagi dalam dua kelompok yang tiba dengan selisih sehari, dan hanya satu sesi latihan penuh selama satu jam di Buenos Aires.
Pelatih Steve Tandy, yang sebelumnya menjadi pelatih pertahanan Skotlandia, menolak bersikap mengeluh. “Anda bisa mengeluh tentang perjalanan dan penerbangan, tetapi banyak atlet dari negara lain sudah terbiasa,” ujar kapten Dewi Lake. “Argentina juga sering melakukannya saat datang ke kami. Beberapa hari pertama memang berat, tapi kami akan kembali ke ritme.” Sikap itu menjadi mantra tim: tidak ada alasan.
Pertandingan di Stadion San Juan del Bicentenario—berkapasitas 25.000 kursi biru-putih dengan pagar unik yang memisahkan pemain dan suporter—bukan sekadar laga biasa. Wales pernah menang 23-10 di tempat yang sama pada 2018, saat Aaron Wainwright menjalani debut internasionalnya. Kini, delapan pemain dari skuad itu masih tersisa, termasuk Adam Beard dan Josh Adams. Namun, catatan pertemuan terakhir menyakitkan: kekalahan 28-52 di Cardiff November lalu, yang juga menjadi laga pertama Tandy sebagai pelatih kepala.
Keputusan Tandy menurunkan Costelow sebagai playmaker menjadi sorotan, terutama di negeri yang memuja nomor 10 seperti Maradona dan Messi. Sementara itu, Louis Rees-Zammit—yang disebut “golden boy” Wales—harus puas di bangku cadangan setelah penampilan kurang meyakinkan melawan Fiji. Mantan pemain Wales Jonathan Davies bahkan menilai Rees-Zammit perlu menunjukkan lebih banyak “lapar” untuk terlibat dalam permainan.
Bagi Indonesia, laga ini bisa menjadi cerminan bagaimana tim rugby dari negara kecil mampu bersaing di tengah hiruk-pikuk olahraga global yang lebih populer. Meski rugby belum sepopuler sepak bola di Tanah Air, pertandingan seperti ini menunjukkan bahwa disiplin, persiapan matang, dan mentalitas pantang menyerah bisa mengalahkan keterbatasan logistik. Apalagi, Wales membawa cerita debutan Kane James yang ayahnya rela terbang 24 jam hanya untuk melihat anaknya menjadi pemain internasional—sebuah pengingat bahwa olahraga selalu punya sisi manusiawi yang menyentuh.
Jika Wales mampu mengulang kemenangan 2018, dan Argentina juga lolos ke semifinal Piala Dunia, maka malam Sabtu ini akan menjadi pesta ganda bagi tuan rumah—meski dengan skala euforia yang berbeda. Namun, jika Wales menang, mereka tidak hanya membalaskan dendam, tetapi juga mengirim pesan bahwa di tengah gemuruh sepak bola, rugby tetap punya panggung sendiri.



