Kontroversi Balogun di Piala Dunia 2026: Tebas Sesalkan 'Diam Seribu Bahasa' FIFA
Baca dalam 60 detik
- Presiden La Liga Javier Tebas mengecam keputusan FIFA yang menunda skorsing Folarin Balogun, menilai langkah itu sebagai puncak dari praktik otoriter yang menggerogoti kredibilitas sepak bola global.
- UEFA menyebut keputusan tersebut 'tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak bisa dibenarkan', sementara konfederasi lain seperti Conmebol memilih bungkam, hanya membela wasit yang terlibat.
- Kasus ini memicu pertanyaan tentang transparansi FIFA di bawah tekanan politik, terutama setelah Presiden AS Donald Trump mengakui telah meminta peninjauan ulang larangan bermain Balogun.

Presiden La Liga, Javier Tebas, melontarkan kritik pedas terhadap apa yang ia sebut sebagai 'diam seribu bahasa' yang menyelimuti FIFA, menyusul keputusan kontroversial badan sepak bola dunia itu yang membebaskan striker timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun, dari hukuman skorsing di Piala Dunia 2026. Tebas menilai insiden ini bukan sekadar anomali, melainkan bukti nyata dari praktik pengambilan keputusan sepihak yang telah lama menggerogoti kredibilitas sepak bola global.
Balogun, yang mendapat kartu merah dalam laga melawan Bosnia-Herzegovina setelah tinjauan VAR, seharusnya menjalani larangan bermain satu pertandingan. Namun, komite disiplin FIFA memutuskan untuk menunda hukuman tersebut selama 12 bulan, sehingga pemain berusia 23 tahun itu tetap bisa tampil saat Amerika Serikat tumbang 1-4 dari Belgia di babak 16 besar. Keputusan ini langsung memicu gelombang protes dari UEFA, yang menyebut langkah FIFA sebagai 'tidak pernah terjadi sebelumnya, tidak masuk akal, dan tidak bisa dibenarkan'.
Yang menarik, di luar Eropa, nyaris tidak ada suara kritis dari para pejabat sepak bola. Conmebol, konfederasi Amerika Selatan, hanya mengeluarkan pernyataan untuk membela wasit Raphael Claus—yang memimpin pertandingan tersebut—setelah Presiden AS Donald Trump menyebut wasit asal Brasil itu 'agak mencurigakan'. Conmebol sama sekali tidak mengkritik FIFA atau Trump, yang secara terbuka mengakui telah meminta FIFA untuk meninjau ulang larangan Balogun. Sikap diam ini, menurut Tebas, adalah bagian dari budaya 'diam seribu bahasa' yang lebih nyaman daripada membela independensi dan transparansi.
Tebas, yang telah memimpin La Liga sejak 2013, menegaskan bahwa kasus Balogun hanyalah 'puncak gunung es' dari serangkaian insiden yang telah mengikis kepercayaan terhadap FIFA selama bertahun-tahun. Dalam cuitannya di media sosial, ia menuduh FIFA sebagai 'lingkaran tertutup' di mana keputusan sudah ditentukan sebelum pemungutan suara dilakukan, tanpa konsultasi dengan liga-liga domestik. 'Yang terburuk dari semua ini adalah bahwa sebagian besar dunia sepak bola mengetahuinya, tetapi terlalu banyak yang memilih untuk tetap diam,' tulis Tebas. 'Karena diam lebih nyaman daripada membela independensi, transparansi, dan tata kelola yang baik.'
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya tata kelola yang bersih dalam organisasi olahraga. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, Indonesia kerap menjadi sasaran keputusan FIFA yang kontroversial, seperti sanksi pembekuan PSSI di masa lalu. Jika FIFA terus mengambil keputusan yang dianggap sewenang-wenang dan tidak transparan, kepercayaan publik—termasuk di Indonesia—bisa semakin tergerus. Apalagi, dengan adanya tekanan politik dari tokoh sekelas Trump, pertanyaan tentang independensi FIFA semakin mengemuka.
Ke depan, kasus Balogun bisa menjadi batu ujian bagi FIFA untuk membuktikan komitmennya terhadap transparansi dan akuntabilitas. Jika tidak, kritik seperti yang dilontarkan Tebas akan terus bergema, dan sepak bola global berisiko kehilangan kepercayaan dari para penggemar, klub, dan liga. Pertanyaannya, akankah FIFA mendengarkan, atau justru semakin memperkuat tembok 'diam seribu bahasa' yang dikeluhkan banyak pihak?



