Matias Soule Tolak Tawaran Saudi, Kini Incar Sunderland: Ambisi Eropa di Atas Uang
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Roma, Matias Soule, memilih tidak bergabung dengan klub Saudi Pro League dan lebih mempertimbangkan tawaran Sunderland.
- Sunderland, yang akan berlaga di Europa League, melihat Soule sebagai investasi jangka panjang dengan banderol โฌ35 juta.
- Keputusan Soule menunjukkan pergeseran prioritas pemain muda yang lebih memilih kompetisi Eropa ketimbang iming-iming finansial dari Timur Tengah.

Gelandang serang AS Roma, Matias Soule, dikabarkan menolak tawaran menggiurkan dari klub kaya Liga Arab Saudi dan kini serius mempertimbangkan langkah ke Sunderland. Keputusan ini menegaskan ambisi sang pemain untuk tetap bersaing di panggung sepak bola Eropa, meski harus menolak limpahan uang dari Timur Tengah.
Soule, yang musim lalu tampil gemilang bersama Roma dengan torehan tujuh gol dan delapan assist di Serie A, menjadi incaran utama Sunderland. Klub yang musim depan akan berlaga di Europa League itu melihat Soule sebagai sosok tepat untuk memperkuat lini serang. Menurut laporan Corriere dello Sport yang dikutip Sport Witness, pemain berusia 23 tahun itu "serius" mempertimbangkan pindah ke Stadion of Light setelah menolak tawaran dari Saudi Pro League.
Roma sendiri membutuhkan dana segar musim panas ini dan telah mematok harga โฌ35 juta (sekitar ยฃ30 juta) untuk Soule. Angka tersebut akan menjadikannya pembelian termahal dalam sejarah Sunderland jika terealisasi. Namun, Roma mungkin terpaksa menurunkan harga seiring meningkatnya kebutuhan akan penjualan pemain. Sunderland, yang belum melakukan satu pun pembelian di bursa transfer musim panas ini, bisa memanfaatkan situasi tersebut dengan bersabar menunggu.
Keputusan Soule menolak tawaran Saudi menjadi sinyal menarik di tengah maraknya pemain top yang hijrah ke Liga Arab. Bagi Sunderland, langkah ini menunjukkan bahwa klub masih memiliki daya tarik kompetitif, terutama dengan tiket ke Europa League. Kehadiran Soule diprediksi akan langsung mengisi posisi inti dan memicu persaingan ketat di skuad asuhan Regis Le Bris. Namun, hal itu juga berpotensi memicu kepergian beberapa pemain kunci.
Dari perspektif Indonesia, pergerakan Soule ini menarik untuk dicermati. Liga Arab Saudi belakangan gencar mendatangkan pemain bintang, termasuk beberapa yang pernah merumput di Indonesia atau Asia Tenggara. Namun, pilihan Soule untuk tetap di Eropa menunjukkan bahwa kompetisi level atas seperti Premier League dan Europa League masih menjadi magnet utama bagi pemain muda yang ingin mengembangkan karier. Ini menjadi pelajaran bagi klub-klub Asia, termasuk Indonesia, bahwa membangun daya saing olahraga jangka panjang lebih penting daripada sekadar mengandalkan kekuatan finansial.
Jika transfer ini jadi terwujud, Sunderland tidak hanya mendapatkan pemain berkualitas, tetapi juga mengirimkan pesan bahwa mereka serius bersaing di kancah Eropa. Pertanyaan besarnya, mampukah Sunderland mempertahankan status klub Europa League dengan Soule sebagai motor serangan? Atau justru pemain Argentina itu akan menjadi batu loncatan untuk pindah ke klub yang lebih besar? Hanya waktu yang akan menjawab.



