Trump Intervensi ke FIFA: Kartu Merah Balogun Dibatalkan, Kontroversi Mengguncang Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump mengakui telah meminta FIFA meninjau kartu merah Folarin Balogun, yang akhirnya dihapuskan.
- Keputusan FIFA menunda larangan satu pertandingan Balogun menuai kritik dari UEFA, Belgia, dan pelatih Inggris Thomas Tuchel.
- Insiden ini memicu perdebatan tentang independensi badan yudisial FIFA dan potensi campur tangan politik dalam sepak bola global.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengonfirmasi bahwa dirinya telah meminta Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) untuk meninjau kartu merah yang diterima penyerang timnas AS, Folarin Balogun, pada Piala Dunia 2026. Langkah ini memicu kontroversi besar setelah FIFA memutuskan menunda hukuman larangan bermain satu pertandingan untuk Balogun, yang seharusnya membuatnya absen pada laga 16 besar melawan Belgia.
Balogun, 25 tahun, mendapat kartu merah langsung setelah melanggar bek Bosnia-Herzegovina, Tarik Muharemovic, di babak sebelumnya. Namun, FIFA secara mengejutkan menggunakan Pasal 27 kode disiplin mereka untuk menunda larangan tersebut selama 12 bulan masa percobaan, sehingga pemain yang telah mencetak tiga gol di turnamen ini itu bisa tampil di Seattle. Keputusan ini langsung menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk Uni Sepak Bola Eropa (UEFA), Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA), dan pelatih Inggris Thomas Tuchel.
Trump, dalam pernyataannya di Gedung Putih, menyebut wasit Raphael Claus dari Brasil sebagai "curiga" dan menilai keputusan kartu merah itu "mengerikan". Ia mengaku telah berbicara dengan Presiden FIFA Gianni Infantino, namun hanya meminta peninjauan, bukan memerintahkan pembatalan hukuman. "Saya pikir itu akan meninggalkan noda besar pada turnamen," ujar Trump. Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) dengan tegas membela integritas Claus, menyebutnya sebagai profesional teladan tanpa cacat dalam rekam jejaknya.
FIFA, melalui pernyataan resmi, menegaskan bahwa komite banding mereka menolak permohonan banding Belgia dengan alasan RBFA bukan pihak yang berkepentingan dalam proses asli. "Permintaan dinyatakan tidak dapat diterima karena Federasi Belgia bukan bagian dari proses dan tidak memiliki kedudukan untuk mengajukan banding," tulis FIFA. RBFA menyatakan "terkejut" dan menganggap keputusan itu melanggar regulasi FIFA, serta masih menunggu alasan resmi penolakan banding mereka.
UEFA menyebut intervensi yang secara efektif membatalkan larangan di turnamen telah "melewati batas merah". Pelatih Inggris Thomas Tuchel, yang juga menghadapi situasi serupa dengan kartu merah Jarell Quansah, mempertanyakan preseden yang ditetapkan. "Di mana batasnya? Apakah kami akan banding untuk kartu kuning? Siapa yang memutuskan?" katanya. Asosiasi Sepak Bola Swiss juga menyebut keputusan itu "tidak dapat dipahami" dan menimbulkan ketidakpastian terhadap otoritas wasit, terutama dengan adanya VAR.
Bagi publik Indonesia, insiden ini menyoroti betapa besarnya pengaruh politik dalam sepak bola global. Di tengah euforia Piala Dunia 2026 yang digelar di AS, Meksiko, dan Kanada, campur tangan langsung seorang kepala negara dalam keputusan yudisial FIFA menjadi pengingat bahwa sepak bola tidak pernah lepas dari kepentingan kekuasaan. Hal ini juga mempertanyakan konsistensi FIFA dalam menegakkan aturan, terutama ketika menghadapi tekanan dari negara adidaya.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah: apakah FIFA akan mampu mempertahankan independensi badan yudisialnya, atau justru semakin rentan terhadap intervensi politik? Dengan kritik yang datang dari berbagai federasi dan pelatih, keputusan ini berpotensi mengguncang kredibilitas FIFA sebagai penjaga integritas sepak bola dunia.



