Marchena Nostalgia: Duel Spanyol vs Portugal Selalu Penuh Intensitas, Kenang Puncak Karier di 2010
Baca dalam 60 detik
- Carlos Marchena, bek legendaris Spanyol, mengingat kembali kemenangan 1-0 atas Portugal di Piala Dunia 2010 yang menjadi batu loncatan menuju gelar juara.
- Ia menyebut rivalitas Iberia selalu sarat emosi karena kedekatan geografis dan saling kenal antar pemain, seperti yang akan terjadi di babak 16 besar Piala Dunia 2026.
- Marchena menegaskan bahwa tidak ada pencapaian yang bisa menandingi euforia mengangkat trofi Piala Dunia, sebuah momen yang tetap membekas hingga kini.

Carlos Marchena, bek tengah yang menjadi bagian dari generasi emas Spanyol, menegaskan bahwa duel antara La Roja dan Portugal selalu menyajikan intensitas tinggi. Menjelang pertemuan kedua tim di babak 16 besar Piala Dunia 2026, ia mengenang kembali pertarungan sengit di Afrika Selatan 2010 yang menjadi titik balik sejarah sepak bola Spanyol.
Dalam wawancara dengan FIFA, Marchena mengungkapkan bahwa rivalitas Iberia lahir dari kedekatan geografis dan pemahaman mendalam antar pemain. “Pertandingan Spanyol melawan Portugal selalu penuh intensitas karena kedekatan kedua negara dan seberapa baik mereka saling mengenal,” ujarnya. Pada Piala Dunia 2010, Spanyol menang tipis 1-0 berkat gol tunggal David Villa, sebelum akhirnya menjuarai turnamen dengan mengalahkan Paraguay, Jerman, dan Belanda.
Marchena, yang lahir di Las Cabezas de San Juan, Andalusia, pada 1979, merupakan bagian dari skuad Spanyol yang memenangkan Euro 2008 dan Piala Dunia 2010. Dengan 69 penampilan, ia masih berada di antara 25 pemain dengan caps terbanyak Spanyol. Kariernya yang gemilang juga diwarnai kesuksesan di level klub bersama Valencia, di mana ia meraih dua gelar La Liga, Copa del Rey, Piala UEFA, dan Piala Super UEFA.
Kenangan pertamanya tentang Piala Dunia berasal dari Italia 1990, saat ia menyaksikan kekecewaan Spanyol yang gagal lolos dari fase grup. Namun, momen itu justru menumbuhkan kecintaannya pada turnamen. “Saya ingat kekecewaan, tetapi yang lebih utama adalah saya terpesona oleh Piala Dunia. Kami menonton pertandingan di rumah bersama ayah saya. Saat itulah saya benar-benar mulai menyukai kompetisi ini,” kenangnya.
Debut Piala Dunia Marchena terjadi pada 2006 di Jerman, di mana Spanyol tampil impresif di fase grup sebelum akhirnya kalah 3-1 dari Prancis di babak 16 besar. Ia menganggap kekalahan itu sebagai titik balik. “Kami tiba dalam kondisi prima. Kami adalah tim muda, tetapi siap. Prancis tampak menurun, tetapi mereka masih memiliki pemain dengan pengalaman luar biasa dan bakat yang menonjol. Kami kalah, tetapi saya pikir itu adalah titik balik. Di situlah fondasi untuk segala hal berikutnya diletakkan,” jelasnya.
Dua tahun kemudian, Spanyol memenangkan gelar Eropa kedua mereka, 44 tahun setelah yang pertama, dengan Marchena berduet dengan Carles Puyol di jantung pertahanan. La Roja tiba di Afrika Selatan sebagai juara Eropa bertahan dan salah satu favorit. Mereka memulai dengan kekalahan mengejutkan dari Swiss, tetapi tetap setia pada gaya bermain mereka, bangkit dengan impresif, dan lolos sebagai juara grup. Portugal, yang dipimpin Cristiano Ronaldo setelah musim perdananya di Real Madrid, menjadi lawan di babak 16 besar.
Marchena mengakui bahwa Cristiano Ronaldo berada di puncak performanya saat itu, dan Portugal memiliki pemain berpengalaman yang telah tampil kuat di turnamen sebelumnya. Pertandingan berubah setelah Fernando Llorente masuk pada menit ke-59. “Dia adalah rencana B kami. Dia bermain fantastis karena bertarung dengan kedua bek tengah dan menciptakan ruang bagi yang lain. Dia menyebabkan banyak masalah bagi mereka. Pertahanan mereka harus fokus padanya, yang membuka ruang bagi kami,” jelas Marchena. Villa mencetak gol empat menit kemudian, tidak lama setelah masuknya Llorente.
Setelah lolos ke final, Marchena menggambarkan perasaan campur aduk antara tanggung jawab dan peluang. Saat Iniesta mencetak gol kemenangan, Marchena justru berlari ke arah berlawanan dari rekan-rekannya. “Saya satu-satunya yang tidak berlari ke arah Andrés. Saya berlari ke lingkaran tengah untuk berjaga-jaga dan mencegah Belanda memulai dengan cepat. Saya tidak ada di foto perayaan karena saya berdiri di lingkaran tengah,” kenangnya 16 tahun kemudian.
Ia juga mengingat emosi setelah peluit akhir berbunyi. “Tubuh Anda mengalami syok dan Anda tidak percaya apa yang baru saja terjadi. Itu adalah campuran perasaan yang luar biasa.” Kini, menjelang pertemuan kembali Spanyol dan Portugal di Piala Dunia 2026, Marchena menegaskan bahwa tidak ada yang bisa menandingi kebahagiaan menjadi juara dunia. “Seiring waktu, Anda menyadari bahwa apa pun yang Anda capai, tidak akan pernah melampaui kemenangan atau kegembiraan itu. Anda bisa memenangkan satu, lima, atau bahkan sepuluh gelar liga, tetapi mengangkat Piala Dunia bersama negara Anda mengalahkan segalanya. Setiap kali turnamen datang, saya tidak bisa tidak berpikir, 'Saya pernah memegang trofi itu,'” pungkasnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, rivalitas Spanyol-Portugal selalu menyajikan tontonan kelas dunia. Dengan gaya bermain yang khas dan pemain bintang di kedua sisi, duel di babak 16 besar Piala Dunia 2026 ini diprediksi akan berlangsung sengit. Mampukah generasi baru Spanyol mengulang kesuksesan 2010, atau justru Portugal yang akan membalas dendam? Pertandingan Senin mendatang akan menjadi jawabannya.



