Ambisi Ancelotti Berujung Petaka: Brasil Tenggelam di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan dari Norwegia mengakhiri harapan Brasil di Piala Dunia 2026, memperpanjang puasa gelar sejak 1994.
- Keputusan Ancelotti mempertahankan pemain senior seperti Casemiro, Danilo, dan Neymar yang cedera menjadi bumerang.
- Kegagalan ini memicu pertanyaan besar tentang regenerasi tim Samba dan masa depan pelatih asal Italia tersebut.

Kekalahan 1-2 dari Norwegia di New Jersey, Minggu (5/7/2026), memupus harapan Brasil untuk merebut gelar Piala Dunia keenam. Hasil ini sekaligus mengonfirmasi bahwa keputusan menunggu Carlo Ancelotti selama tiga tahun hanyalah langkah sia-sia yang justru menjerumuskan tim Samba ke dalam krisis yang lebih dalam.
Ancelotti, yang dianggap sebagai juru kunci sukses, ternyata tak mampu menyulap tim yang dibangun di atas fondasi pemain-pemain uzur dan harapan nostalgia. Dalam pertandingan yang berlangsung di bawah terik matahari, Brasil tampil tanpa identitas. Dua gol Norwegia lahir dari sisi kanan pertahanan Brasil yang dikawal Danilo (34 tahun), pemain yang sudah lama tak menghuni pos bek kanan secara reguler. Andreas Schjelderup, pemain pengganti Norwegia, dengan mudah mempermalukan Danilo yang kewalahan menghadapi kecepatan lawan.
Casemiro, gelandang bertahan yang diandalkan, juga tampil pincang. Ia kerap kehilangan bola dan terlambat mengantisipasi pergerakan lawan. Sementara Neymar, yang dimasukkan pada babak kedua saat skor masih 0-0, hanya mampu mencetak gol penalti di masa injury timeโterlambat untuk mengubah hasil akhir. Neymar, yang datang dengan cedera, tak lagi memiliki akselerasi dan kelincahan seperti masa jayanya.
Kegagalan ini memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat sepak bola Brasil. Banyak yang mempertanyakan strategi Ancelotti yang lebih memilih mempertahankan pemain senior ketimbang memberikan kesempatan kepada generasi muda. Dengan siklus Piala Dunia yang baru dimulai, seharusnya Ancelotti bisa memanfaatkan turnamen ini untuk regenerasi. Namun, ia justru mencoba merangkul masa lalu dan masa depan sekaligus, dan akhirnya jatuh di antara keduanya.
Bagi Indonesia, kegagalan Brasil menjadi pelajaran berharga. Sepak bola Indonesia, yang tengah berbenah, harus menghindari jebakan serupa: terlalu bergantung pada pemain senior atau pelatih asing tanpa membangun fondasi jangka panjang. Regenerasi pemain dan konsistensi program pembinaan usia muda adalah kunci agar tidak mengalami nasib serupa.
Ancelotti kini menghadapi masa depan yang tidak pasti. Kontraknya bersama Brasil masih panjang, tetapi tekanan publik dan media sudah sangat besar. Pertanyaan besarnya: akankah ia bertahan untuk membangun ulang tim, atau justru meninggalkan kapal yang mulai karam? Satu hal yang pasti, Brasil butuh lebih dari sekadar nama besar untuk kembali ke puncak dunia.



