Karier Kyrgios di Ujung Tanduk: Tes Kokain Positif Bisa Berujung Larangan Empat Tahun
Baca dalam 60 detik
- Petenis Australia Nick Kyrgios terdeteksi memakai metabolit kokain pada turnamen Mallorca Open Juni lalu, memicu investigasi dan skorsing sementara.
- Jika terbukti bersalah, ia menghadapi larangan bermain hingga empat tahun, yang praktis mengakhiri kariernya di usia 31 tahun.
- Kasus ini menyoroti inkonsistensi sistem anti-doping tenis, terutama setelah hukuman ringan yang diterima Sinner dan Swiatek.

Nick Kyrgios, petenis Australia yang pernah menjadi finalis Wimbledon 2022, kini berada di persimpangan jalan. Tes positifnya terhadap metabolit kokain pada turnamen Mallorca Open, Juni lalu, tidak hanya mencoreng reputasinya, tetapi juga bisa menjadi akhir dari karier yang penuh gejolak. Dengan skorsing sementara yang berlaku, ia tidak akan bisa tampil di turnamen mana pun hingga proses investigasi selesai.
Kyrgios, yang kini berusia 31 tahun, mengakui kesalahannya melalui media sosial. Ia menyebutnya sebagai "kesalahan besar" dan siap bertanggung jawab penuh. Namun, di balik pengakuan itu, tersirat beban berat yang ia pikul. Sejak awal 2023, ia hanya tampil di delapan turnamen dan memenangkan dua pertandingan. Cedera lutut dan pergelangan tangan yang berkepanjangan membuatnya sulit kembali ke performa terbaik.
"Menerima kenyataan bahwa karier saya hampir berakhir ternyata lebih sulit dari yang saya bayangkan," tulisnya. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa Kyrgios sendiri sudah merasakan akhir dari perjalanan profesionalnya. Namun, hasil investigasi ini bisa mempercepat proses tersebut. Jika terbukti melanggar aturan anti-doping, ia menghadapi larangan bermain hingga empat tahun, sebuah hukuman yang setara dengan pensiun paksa.
Karier Kyrgios memang selalu diwarnai kontroversi. Pada 2015, ia mendapat hukuman 28 hari karena komentar tidak senonoh tentang pacar Stan Wawrinka. Setahun kemudian, ia dilarang bermain delapan minggu karena perilaku tidak sportif di Shanghai Masters. Puncaknya pada 2019, ia didiskualifikasi dari Italian Open setelah melempar kursi ke lapangan, dan didenda 113.000 dolar AS karena mengumpat wasit di Cincinnati. ATP bahkan sempat menjatuhkan hukuman 16 minggu karena pola perilaku buruknya yang berulang.
Di luar lapangan, kehidupan pribadinya juga tak kalah rumit. Dalam dokumenter Netflix, ia mengaku pernah mengalami depresi, menyakiti diri sendiri, dan dirawat di rumah sakit jiwa di London. Ia juga blak-blakan tentang kebiasaan minum alkohol yang berlebihan, bahkan mengaku bisa minum 20-30 gelas sebelum bertanding. Pada 2023, ia mengaku menyerang mantan pacarnya, Chiara Passari, dan hanya lolos dari catatan kriminal karena hakim menyebutnya "kebodohan sesaat".
Kyrgios memang bukan sosok yang asing dengan sistem anti-doping. Ia kerap mengkritiknya, bahkan menyebutnya "mengerikan". Ia menilai hukuman yang diberikan kepada Jannik Sinner dan Iga Swiatek terlalu ringan. Setelah Sinner menerima larangan tiga bulan karena positif clostebol, Kyrgios menulis, "Hari yang menyedihkan untuk tenis. Keadilan di tenis tidak ada." Kini, ia sendiri harus berhadapan dengan sistem yang ia kecam.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa doping bukan hanya soal zat terlarang, tetapi juga tentang kesehatan mental dan tekanan psikologis atlet. Kyrgios adalah contoh nyata bagaimana masalah pribadi bisa berdampak pada karier profesional. Federasi Tenis Indonesia (Pelti) bisa menjadikan kasus ini sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat program pendampingan psikologis bagi atlet muda, agar mereka tidak terjebak dalam situasi serupa.
Langkah Kyrgios berikutnya adalah menjalani proses hukum yang bisa memakan waktu berbulan-bulan. Ia berencana mundur dari kehidupan publik selama 28 hari untuk "memperbaiki diri". Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah ia akan kembali ke lapangan setelah semuanya selesai? Atau akankah ini menjadi babak penutup dari karier yang penuh warna? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: tenis akan kehilangan salah satu karakternya yang paling kontroversial.



