Liza Minnelli Buka Suara: 'Self-Medicated to Foggy Perfection' Sebelum Rehab Pertama
Baca dalam 60 detik
- Legenda hiburan Liza Minnelli mengaku pernah menyembunyikan kecanduan alkohol dan pil di balik rutinitas panggungnya.
- Pengakuan ini muncul di Instagram, menyoroti perjuangan panjangnya melawan adiksi sejak era kejayaan di New York dan Los Angeles.
- Kisahnya menjadi pengingat akan pentingnya dukungan keluarga dan profesional dalam pemulihan, relevan bagi publik Indonesia.

Liza Minnelli, ikon hiburan berusia 80 tahun, untuk pertama kalinya membuka detail kelam di balik layar kehidupannya sebelum menjalani rehabilitasi pertamanya pada 1984. Dalam unggahan Instagram yang emosional, putri Judy Garland itu mengaku telah 'self-medicated to foggy perfection'โsebuah kondisi di mana ia sengaja menumpulkan perasaan dengan alkohol dan obat-obatan agar tak ada yang bisa menyakitinya.
Unggahan tersebut disertai foto lawas yang memperlihatkan Liza duduk di sofa dengan wajah lelah dan berkeringat. Ia menulis bahwa di Manhattan, ia memiliki bar-bar favorit yang melayaninya kapan pun, serta menyimpan kotak pil dan botol minuman di apartemennya. 'Dengan tidak ada yang mengawasi, saya membuat diri saya mabuk hingga sempurna, ke tempat di mana saya merasa tidak ada yang bisa menyakiti saya,' tulisnya.
Perjalanan Liza tidak berhenti di New York. Setelah meraih ketenaran, ia pindah ke Los Angeles, namun kabut yang sama justru semakin pekat. 'Di California, saya tersesat dalam kabut yang sama. Itu omong kosong yang sama, hanya dengan lebih banyak sinar matahari. Itulah salah satu alasan saya segera masuk rehab. Saya kehabisan pilihan,' ungkapnya.
Rehabilitasi pertamanya dijalani di Betty Ford Center, Los Angeles. Liza mengaku sangat ketakutan, namun ia mendapat dukungan dari keluarga. Ia berterima kasih kepada saudarinya, Lorna Luft, yang bahkan harus membelikannya hot dog untuk membujuknya naik jet pribadi Frank Sinatra menuju pusat rehabilitasi. Selain Lorna, ia juga menyebut Michael Feinstein, suaminya Terrence Flannery, dan Dr. Lawrence D. Piro sebagai 'kuartet yang benar-benar menyelamatkan hidup saya'.
Kisah Liza menjadi pengingat bahwa kecanduan tidak mengenal status sosial. Di Indonesia, isu kesehatan mental dan adiksi seringkali masih dianggap tabu. Padahal, data menunjukkan peningkatan kasus gangguan mental di tanah air, dan akses terhadap layanan rehabilitasi masih terbatas. Kisah Liza bisa menjadi titik awal untuk membuka percakapan yang lebih jujur tentang pentingnya mencari bantuan, tanpa stigma.
Para penggemar pun ramai memberikan dukungan di kolom komentar. Salah satunya menulis, 'Liza, saya membaca biografimu - kamu adalah orang yang brilian dan cantik! Selalu menjadi manusia yang baik. Tetap kuat dan ketahuilah bahwa orang-orang mencintaimu!' Dukungan serupa juga datang dari penggemar lain yang menyebutnya 'ratu' dan 'pahlawan'.
Kisah Liza Minnelli tidak hanya tentang masa lalu seorang bintang, tetapi juga tentang keberanian untuk mengakui kelemahan dan memilih hidup. Di tengah industri hiburan yang kerap menuntut kesempurnaan, pengakuannya menjadi pengingat bahwa kesehatan mental adalah fondasi yang tak bisa ditawar. Pertanyaannya, akankah publik Indonesia semakin terbuka untuk mendukung mereka yang berjuang melawan adiksi, atau justru terus membiarkan mereka terpuruk dalam diam?



