Bintang Tercepat di Galaksi Mengorbit Lubang Hitam, Ilmuwan Berpeluang Ukur Putarannya
Baca dalam 60 detik
- Sebuah bintang bernama S301 melesat dengan kecepatan hingga 8% kecepatan cahaya, memecahkan rekor sebagai objek tercepat yang pernah terdeteksi di galaksi kita.
- Penemuan ini membuka peluang pertama untuk mengukur rotasi lubang hitam supermasif Sagittarius A*, yang selama ini sulit diamati karena tidak memancarkan cahaya.
- Jika berhasil, pengukuran ini akan menguji teori relativitas umum Einstein dan memberikan pemahaman baru tentang evolusi galaksi, termasuk implikasi bagi penelitian astrofisika di Indonesia.

Para astronom baru saja mengonfirmasi keberadaan bintang dengan kecepatan orbit tertinggi yang pernah tercatat, melesat mengelilingi lubang hitam raksasa di pusat Bima Sakti. Temuan ini bukan sekadar rekor baru, melainkan kunci untuk mengungkap salah satu misteri terbesar astrofisika: laju rotasi lubang hitam supermasif yang selama ini mustahil diukur langsung.
Bintang yang dijuluki S301 ini memiliki massa 50 persen lebih besar dari Matahari dan lima kali lebih terang. Kecepatannya mencapai 90 juta kilometer per jam, atau setara 8 persen kecepatan cahaya. Tak ada bintang lain di galaksi mana pun yang pernah tercatat bergerak secepat itu. S301 mengelilingi Sagittarius A* (Sgr A*), lubang hitam dengan massa empat juta kali Matahari yang berjarak 26.000 tahun cahaya dari Bumi, dalam lintasan elips yang sangat lonjong. Satu orbitnya memakan waktu 8,7 tahun, dengan jarak terdekat hanya 11,5 kali jarak Bumi–Matahari, sedikit lebih jauh dari orbit Saturnus.
Yang menarik, S301 diperkirakan bukan bintang tunggal sejak awal. Menurut Stefan Gillessen, astrofisikawan dari Max Planck Institute for Extraterrestrial Physics di Jerman yang memimpin riset ini, S301 kemungkinan besar adalah anggota sistem bintang ganda yang terpisah oleh interaksi gravitasi dengan Sgr A*. Saat kedua bintang itu melintas terlalu dekat, tarikan lubang hitam mengoyak ikatan mereka. Satu bintang terlempar keluar galaksi dengan kecepatan tinggi, sementara yang lain—S301—terperangkap dalam orbit yang sangat dekat dengan lubang hitam. "S301 tidak akan ditelan dalam waktu dekat. Orbitnya memang berubah orientasi, tapi tidak dalam bahaya," ujar Gillessen, seperti dikutip dalam publikasi jurnal Nature edisi Rabu lalu.
Keberadaan S301 yang bergerak begitu dekat dengan Sgr A* menjadi peluang emas bagi para ilmuwan. Selama ini, rotasi lubang hitam hanya bisa diduga dari efeknya pada materi di sekitarnya, karena lubang hitam sendiri tak memancarkan atau memantulkan cahaya. Namun, karena S301 setiap kali melintas sangat dekat, ia "merasakan" efek putaran Sgr A* yang memengaruhi ruang-waktu di sekitarnya. Akibatnya, orbit S301 sedikit bergeser setiap kali melewati titik terdekatnya. Dengan mengamati pergeseran ini selama sekitar satu dekade, para peneliti yakin mereka dapat mengukur spin lubang hitam secara langsung—sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Bagi Indonesia, temuan ini punya arti penting dalam konteks pengembangan sains antariksa dan pendidikan tinggi. Meski riset ini dilakukan dengan Very Large Telescope Interferometer milik European Southern Observatory di Chile, keterlibatan ilmuwan dari berbagai negara menunjukkan bahwa kolaborasi internasional adalah kunci kemajuan astrofisika. Indonesia, yang tengah mengembangkan program antariksa dan memiliki potensi besar di bidang astronomi, dapat menjadikan riset ini sebagai inspirasi untuk meningkatkan kapasitas peneliti muda dan memperkuat kerja sama dengan lembaga internasional seperti ESO.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah: akankah pengukuran spin Sgr A* ini berhasil? Jika ya, hasilnya akan menguji teori relativitas umum Einstein dalam kondisi ekstrem dan mungkin membuka jalan bagi pemahaman baru tentang bagaimana lubang hitam supermasif tumbuh dan berinteraksi dengan galaksi induknya. Sementara itu, para astronom akan terus memantau S301 dengan harapan bisa menangkap setiap detail perubahan orbitnya. Satu hal yang pasti: langit malam kita menyimpan lebih banyak kejutan daripada yang bisa kita bayangkan.



