Angka Infertilitas Wanita Jepang Tembus 37,8%, Lebih dari Dua Kali Lipat Rata-rata Global
Baca dalam 60 detik
- Hampir empat dari sepuluh wanita Jepang usia 25-49 tahun pernah atau sedang mengalami infertilitas, jauh di atas estimasi WHO sebesar 17,5%.
- Faktor utama adalah tren menunda usia pernikahan dan kehamilan, dengan rata-rata usia ibu pertama kali mencapai 31 tahun pada 2024.
- Frekuensi hubungan intim yang rendah (hanya 8,3% lebih dari sekali seminggu) diduga memperpanjang waktu untuk hamil dan meningkatkan angka infertilitas.

Angka infertilitas di kalangan wanita Jepang usia produktif mencapai 37,8 persen, lebih dari dua kali lipat rata-rata global yang diperkirakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 17,5 persen. Temuan ini berasal dari studi terbaru Universitas Hokkaido yang dirilis Selasa (8/7/2025), mengungkap krisis reproduksi yang semakin dalam di negara dengan salah satu tingkat kelahiran terendah di dunia.
Penelitian yang melibatkan 853 responden wanita yang sudah menikah atau tinggal bersama pasangan pria ini menunjukkan bahwa tren menunda pernikahan dan kehamilan menjadi penyebab utama. Rata-rata usia ibu saat melahirkan anak pertama di Jepang pada 2024 mencapai 31,0 tahun, naik signifikan dari 27,5 tahun pada 1995. Angka ini menempatkan Jepang di jajaran tertinggi di antara negara-negara Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).
Eri Maeda, profesor asosiasi di Universitas Hokkaido yang memimpin riset, menegaskan bahwa infertilitas bukan semata masalah perempuan. "Infertilitas juga umum terjadi pada pria. Adalah keliru jika menganggap ini sebagai 'masalah wanita'," ujarnya. Studi ini juga menyoroti faktor gaya hidup, seperti jam kerja panjang, lingkungan tempat tinggal, dan budaya yang kurang memberi ruang bagi kehidupan seksual, sebagai pemicu menurunnya kesuburan.
Salah satu temuan mencolok adalah rendahnya frekuensi hubungan intim di kalangan responden. Hanya 8,3 persen yang melakukannya lebih dari sekali seminggu, jauh di bawah angka 60 persen pada wanita menikah di Amerika Serikat berdasarkan studi 2020. Maeda menduga hal ini memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kehamilan dan pada akhirnya meningkatkan angka infertilitas.
Di tengah krisis ini, angka kelahiran melalui fertilisasi in vitro (IVF) di Jepang justru mencapai rekor pada 2023, yakni sekitar 85.000 bayi, setara dengan satu dari 8,6 kelahiran. Pemerintah Jepang telah memperluas cakupan asuransi kesehatan publik untuk perawatan infertilitas sejak April 2022, namun masih ada tuntutan untuk menghapus batasan usia dan frekuensi terapi.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi peringatan dini. Meski angka infertilitas nasional belum setinggi Jepang, tren penundaan usia pernikahan dan kehamilan juga mulai terlihat di kota-kota besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata usia kawin pertama perempuan Indonesia meningkat dari 22,3 tahun (2010) menjadi 24,4 tahun (2023). Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan kesehatan reproduksi yang komprehensif, bukan tidak mungkin Indonesia akan menghadapi masalah serupa dalam satu atau dua dekade ke depan.
Studi sebelumnya oleh National Institute of Population and Social Security Research Jepang pada 2021 mencatat 39,2 persen pasangan telah menyatakan kekhawatiran tentang infertilitas. Angka ini menunjukkan bahwa masalah ini bukan hanya statistik, tetapi telah menjadi kecemasan nyata di kalangan masyarakat. Pertanyaan besarnya: akankah negara lain, termasuk Indonesia, belajar dari pengalaman Jepang sebelum terlambat?



