Guru di Jepang Latihan Evakuasi Pakai Seluncur Darurat, Pelajaran bagi Sekolah di Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Dinas pendidikan di Ibaraki, Jepang, menggelar pelatihan penggunaan seluncur evakuasi bagi guru setelah insiden sekolah di Tokyo yang tidak memanfaatkan alat serupa saat kebakaran.
- Pelatihan ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan dan pemahaman prosedur darurat di lingkungan sekolah, yang masih menjadi tantangan di banyak negara termasuk Indonesia.
- Pengalaman langsung guru yang mencoba seluncur setinggi 12 meter menekankan perlunya ketenangan dan kepatuhan pada manual, sebuah pesan yang relevan untuk diterapkan di sekolah-sekolah Indonesia.

Dinas Pendidikan Kota Kasama, Prefektur Ibaraki, Jepang, baru-baru ini mengadakan pelatihan praktis bagi para guru untuk menggunakan seluncur evakuasi darurat dari lantai atas saat terjadi kebakaran. Langkah ini diambil setelah terungkap bahwa sebuah sekolah dasar di Tokyo tidak menggunakan alat serupa yang sudah terpasang saat kebakaran terjadi pada Juni lalu.
Pelatihan yang digelar pada 6 Juli di Sekolah Menengah Pertama Negeri Tomobe itu diikuti oleh 23 guru dan staf dari sekolah dasar, menengah pertama, dan sekolah wajib belajar. Mereka berlatih memasang dan meluncur menggunakan seluncur setinggi sekitar 12 meter dari balkon lantai empat sekolah.
Seorang petugas pemadam kebakaran setempat menjelaskan langkah-langkah perakitan melalui video. Ia menegaskan bahwa petunjuk penggunaan selalu tertera pada kotak penyimpanan, sehingga tidak sulit untuk digunakan. Peserta kemudian dibagi menjadi dua kelompok: satu kelompok menurunkan seluncur dari balkon, sementara kelompok lain mengamankannya di tanah. Dua guru menjadi relawan untuk meluncur dan merasakan langsung pengalaman evakuasi tersebut.
Yuta Suzuki, seorang guru berusia 23 tahun yang ikut meluncur, mengaku menyadari bahwa hal terpenting adalah tetap tenang dan mengikuti manual saat menyiapkan seluncur. Ia juga menemukan beberapa langkah keselamatan yang perlu diperhatikan saat meluncur, yang ingin ia bagikan kepada murid-muridnya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pelatihan langsung memberikan pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan sekadar teori.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan bencana di sekolah. Banyak sekolah di Indonesia, terutama di daerah rawan gempa dan kebakaran, belum memiliki perlengkapan evakuasi yang memadai atau pelatihan rutin bagi guru dan siswa. Padahal, prosedur evakuasi yang jelas dan latihan berkala dapat menyelamatkan nyawa saat keadaan darurat. Pemerintah daerah dan Kementerian Pendidikan dapat menjadikan pelatihan seperti di Jepang sebagai contoh untuk meningkatkan standar keselamatan sekolah.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah sekolah-sekolah di Indonesia akan mengadopsi sistem serupa atau setidaknya mengintensifkan pelatihan evakuasi? Dengan frekuensi bencana yang tinggi, investasi pada peralatan dan pelatihan darurat bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.



