Jason Ritter: Dialog dengan Ayah yang Tiada, 13 Tahun Setelah Kepergian John Ritter
Baca dalam 60 detik
- Aktor Jason Ritter mengaku masih sering 'berbincang' dengan mendiang ayahnya, John Ritter, untuk meminta nasihat meski sang legenda telah tiada lebih dari satu dekade.
- Dalam wawancara terbaru, ia menceritakan bagaimana kenangan dan nilai-nilai sang ayah menjadi panduan hidupnya, termasuk dalam mengasuh anak perempuannya.
- Fenomena 'dialog imajiner' dengan orang terkasih yang telah wafat ini menyoroti cara masyarakat, termasuk di Indonesia, mengelola duka dan mempertahankan ikatan emosional.

Dua belas tahun setelah kepergian John Ritter akibat diseksi aorta di lokasi syuting, putranya, Jason Ritter, mengaku masih sering 'berbincang' dengan sang ayah untuk meminta petunjuk hidup. Dalam sebuah wawancara dengan podcast Joy 101, aktor berusia 44 tahun itu membuka ritual pribadinya: membayangkan sang ayah duduk di sudut ruangan, lalu menanyakan berbagai persoalan yang tengah dihadapinya.
Bagi Jason, cara ini bukan sekadar nostalgia. Ia meyakini bahwa jawaban yang ia peroleh adalah hasil dari pemahaman mendalam tentang karakter ayahnya semasa hidup. "Ada kalanya saya bertanya tentang hal yang saya tidak tahu jawabannya, lalu saya saring melalui apa yang saya ketahui tentang beliau sebagai ayah dan pribadi, dan saya bisa menebak kira-kira apa yang akan beliau katakan," tuturnya. Pendekatan ini menjadi semacam kompas moral yang membantunya mengambil keputusan, baik dalam karier maupun kehidupan pribadi.
John Ritter, yang dikenal lewat sitkom klasik "Three's Company" dan "8 Simple Rules", meninggal dunia pada 11 September 2003, hanya sepekan sebelum ulang tahunnya yang ke-55. Kepergiannya yang mendadak meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, termasuk Jason yang saat itu masih berusia 23 tahun. Namun, bagi Jason, kehadiran ayahnya tetap terasa melalui berbagai cara, salah satunya melalui fenomena alam yang ia yakini sebagai 'tanda'.
Pada peringatan kematian John di tahun 2021, Jason mengaku menyaksikan langit senja yang seluruhnya berwarna unguโwarna favorit sang ayah. Kenangan itu membawanya pada momen ketika John mengecat mobilnya dengan warna ungu, yang sempat membuat Jason malu di masa remaja. "Saya punya pilihan untuk menganggap itu kebetulan belaka, bahwa dunia ini acak dan penuh kekacauan. Tapi memilih untuk percaya bahwa ada hal-hal yang bekerja di luar pemahaman saya justru memberi lebih banyak kebahagiaan," ungkapnya. Bagi Jason, momen-momen seperti ini adalah cara alam mengingatkannya pada sosok yang sangat ia cintai.
Di tengah budaya populer yang seringkali menampilkan duka secara linear, kisah Jason menawarkan perspektif berbeda: bahwa berduka bisa menjadi proses kreatif dan berkelanjutan. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, dr. Ria Wulandari, M.Psi., menilai praktik seperti ini sejalan dengan konsep 'continuing bonds' dalam psikologi modern. "Masyarakat Indonesia, yang kental dengan nilai kekeluargaan, sebenarnya sudah akrab dengan cara-cara simbolis untuk mengenang yang wafat, seperti ziarah atau kirim doa. Dialog imajiner bisa dilihat sebagai perpanjangan dari tradisi itu, hanya saja lebih personal," jelasnya.
Fenomena ini juga menyentuh bagaimana publik memandang figur publik yang telah tiada. John Ritter, dengan energi dan tawa khasnya, meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu. Jason mengenang ayahnya sebagai sosok dengan 'gravitasi' yang mampu menarik orang-orang di sekitarnya. "Ketika beliau pergi, rasanya seperti dunia berhenti berputar. Sungguh masa yang mengejutkan dan menyakitkan," kenang Jason. Namun, dari rasa kehilangan itu, ia justru menemukan cara untuk terus merasakan kehadiran sang ayahโbukan sebagai hantu, melainkan sebagai sumber kekuatan batin.
Kisah Jason Ritter mengajarkan bahwa ikatan emosional tidak berakhir saat seseorang meninggal. Ia memilih untuk percaya pada 'kecelakaan' yang bermakna, pada tanda-tanda yang mungkin dianggap remeh oleh orang lain. Pertanyaannya, mampukah kita, sebagai masyarakat yang semakin rasional, membuka ruang untuk hal-hal yang tak terjangkau logika? Atau justru di situlah letak kemanusiaan kitaโpada kemampuan untuk menemukan makna di balik kehilangan, dan menjadikannya bahan bakar untuk terus melangkah?



