Mengelola Kelelahan Akibat Kanker: Strategi untuk Pasien dan Peran Orang Sekitar
Baca dalam 60 detik
- Kelelahan kanker memengaruhi hampir semua pasien, namun sering dianggap remeh karena tidak hilang meski sudah istirahat.
- Penyebabnya meliputi konsumsi energi oleh tumor, efek samping pengobatan, dan gangguan psikologis seperti depresi.
- Dukungan konkret dari rekan kerja dan keluarga, seperti membantu tugas harian atau sekadar mendengarkan, sangat berarti bagi pemulihan.

Kelelahan yang dialami pasien kanker bukan sekadar rasa lelah biasa. Kondisi ini, yang dikenal sebagai cancer fatigue, bersifat menetap dan tidak kunjung reda meskipun pasien sudah beristirahat cukup. Lebih dari 80 persen penyintas kanker mengalaminya, dan dampaknya bisa berlangsung jauh setelah pengobatan selesai.
Menurut Dr. Tanujaa Rajasekaran, onkolog dari Parkway Cancer Centre Singapura, kelelahan ini muncul akibat kombinasi faktor biologis dan psikologis. Tumor menyerap banyak energi dan nutrisi untuk tumbuh, sementara sistem imun melepaskan sitokin yang memicu peradangan kronis—mirip rasa pegal dan lelah saat flu berat. Ditambah lagi, efek samping pengobatan seperti kemoterapi dapat menurunkan jumlah sel darah merah, menyebabkan anemia yang membatasi pasokan oksigen ke otot dan organ vital.
Di Indonesia, kesadaran akan cancer fatigue masih rendah. Banyak pasien dan keluarga menganggap kelelahan sebagai konsekuensi wajar yang harus diterima, tanpa mencari cara untuk mengelolanya. Padahal, dengan strategi yang tepat, kualitas hidup pasien bisa meningkat signifikan.
Untuk mengelola energi, pasien disarankan membuat prioritas tugas harian. Dr. Irene Teo, psikolog dari National Cancer Centre Singapore, menyarankan untuk mengerjakan tugas berat saat energi berada di puncak, dan menyisipkan waktu istirahat pendek—sekadar meregangkan badan atau minum air—setiap beberapa jam. “Anggap hari Anda seperti maraton dengan pos berhenti,” ujarnya.
Di tempat kerja, komunikasi terbuka dengan atasan menjadi kunci. Wa Wa Aung, konselor di Gleneagles Hospital, mengatakan bahwa penyesuaian jam kerja atau pengurangan beban fisik bisa membantu. Pasien juga bisa meminta surat dokter untuk melegitimasi jadwal khusus tanpa harus mengungkap diagnosis secara detail. Rekan kerja pun bisa berperan dengan menawarkan bantuan konkret, seperti menggantikan tugas yang membutuhkan perjalanan atau sekadar mendengarkan tanpa menghakimi.
Dukungan nutrisi juga tak kalah penting. Chloe Ong, ahli gizi di Parkway Cancer Centre, menekankan pentingnya makanan tinggi protein dan higienis. “Pilih makanan yang dimasak segar dan disajikan panas. Hindari makanan mentah atau yang sudah lama dipajang,” katanya. Untuk pasien dengan nafsu makan menurun, sup krim atau bubur dengan telur bisa menjadi alternatif padat energi.
Di sisi emosional, keluarga dan teman sering kali merasa perlu memberi nasihat. Namun, Hong Dou, konselor senior dari 365 Cancer Prevention Society, mengingatkan bahwa mendengarkan tanpa memberikan solusi justru lebih berarti. “Ungkapan seperti ‘tetap semangat’ atau ‘jangan berpikir negatif’ bisa terkesan meremehkan perjuangan pasien,” ujarnya. Alih-alih, akui kesulitan yang dihadapi dan tawarkan kehadiran tanpa syarat.
Pertanyaan besarnya: sudahkah lingkungan sekitar kita cukup peka terhadap kebutuhan penyintas kanker? Di tengah meningkatnya angka kasus kanker di Indonesia, pemahaman tentang cancer fatigue dan cara mendampingi pasien menjadi semakin mendesak untuk disebarluaskan.



