Afrika Selatan Hajar Inggris 45-21: Bukti Kesenjangan Kelas di Puncak Rugby Dunia
Baca dalam 60 detik
- Springboks mencetak tiga percobaan dalam 11 menit pertama untuk menghancurkan Inggris 45-21 di Johannesburg.
- Kekalahan ini memperpanjang rekor buruk Inggris menjadi lima kekalahan beruntun, mempertegas krisis di bawah asuhan Steve Borthwick.
- Dua laga berikutnya melawan Fiji dan Argentina akan menjadi ujian krusial bagi masa depan Borthwick sebagai pelatih kepala.

Hanya butuh waktu 11 menit bagi Afrika Selatan untuk membuktikan bahwa mereka masih menjadi penguasa absolut rugby dunia. Dalam laga Nations Championship di Johannesburg, Sabtu (13/7), Springboks melumat Inggris dengan skor telak 45-21, memperlihatkan jurang kualitas yang begitu lebar di antara kedua tim.
Tiga percobaan cepat dari Thomas du Toit, Cheslin Kolbe, dan Kurt-Lee Arendse langsung membuat Inggris limbung sejak awal laga. Meski sempat memperkecil ketertinggalan menjadi 21-18 di akhir babak pertama lewat percobaan Ellis Genge dan George Martin, dominasi tuan rumah di babak kedua tak terbendung. Mantan pemain fly-half Inggris, Paul Grayson, menyebut babak kedua "bukanlah pertandingan yang seimbang".
Yang membuat kekalahan ini semakin perih adalah fakta bahwa Afrika Selatan tampil tanpa sejumlah pilar utama. Kapten Siya Kolisi, Eben Etzebeth, serta beberapa pemain kunci seperti Sacha Feinberg-Mngomezulu dan Franco Mostert harus absen karena cedera. Namun, kedalaman skuad juara dunia dua kali berturut-turut itu terbukti luar biasa. Mereka tetap tampil garang, disiplin, dan efisien—hanya memainkan beberapa fase sebelum mencetak poin.
Dari sisi taktik, keputusan pelatih Steve Borthwick untuk memainkan Marcus Smith sebagai full-back—posisi yang bukan keahlian utamanya—menuai kritik. Smith memang pemain serbabisa, tetapi lini belakang Inggris tampak rentan, terutama saat menghadapi tendangan tinggi Damian Willemse yang mendominasi udara. Sementara itu, Tommy Freeman yang biasanya kuat dalam duel udara justru ditempatkan di posisi outside centre yang kurang ia kuasai.
Inggris sebenarnya menunjukkan secercah harapan lewat beberapa serangan tajam, seperti kombinasi Fin Smith dan Ben Earl, serta umpan satu tangan Jack van Poortvliet yang membuka ruang. Namun, ambisi menyerang itu tidak konsisten. Masalah disiplin yang sudah menjadi momok sejak Six Nations kembali menghantui: 13 penalti yang diberikan membuat Inggris kehilangan momentum dan terus tertekan.
Bagi Indonesia, pertandingan ini menjadi pengingat betapa pentingnya pengembangan olahraga rugby secara sistematis. Di level internasional, dominasi Afrika Selatan menunjukkan bahwa investasi pada pembinaan usia muda dan kompetisi domestik yang ketat adalah kunci. Sementara Inggris, dengan sejarah panjang dan sumber daya melimpah, masih kesulitan menembus elit dunia. Pelajaran ini relevan bagi negara berkembang seperti Indonesia yang tengah membangun ekosistem rugby.
Kini, sorotan beralih ke dua laga berikutnya: melawan Fiji di Liverpool dan Argentina di Twickenham. Mantan pemain Inggris Paul Grayson menegaskan, "Inggris harus mengalahkan Fiji akhir pekan depan karena awan gelap mulai berkumpul lagi." Jika kembali kalah, tekanan terhadap Borthwick akan semakin besar, dan pertanyaan soal masa depannya sebagai pelatih kepala hingga Piala Dunia 2027 akan kembali mencuat. Kekalahan dari Afrika Selatan mungkin bisa dimaklumi, tetapi kegagalan mengatasi tim-tim di bawah mereka akan menjadi indikator sesungguhnya.



