Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi Tiga Pekan: Ketegangan Hormuz Kembali Panaskan Pasar Energi
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI masing-masing naik ke level tertinggi sejak akhir Juli, didorong ketidakpastian keamanan jalur pelayaran Hormuz.
- Kebuntuan diplomatik AS-Iran dan berakhirnya gencatan senjata membuat premi risiko geopolitik kembali menguat di pasar minyak.
- Analis memperkirakan harga berpotensi menembus tiga digit jika gangguan pengiriman melalui selat strategis itu berlanjut.

Harga minyak mentah dunia melonjak ke level tertinggi dalam tiga pekan terakhir pada Rabu (19/8), seiring meningkatnya kekhawatiran atas keamanan navigasi di Selat Hormuz dan gangguan pasokan yang masih berlanjut. Brent naik 45 sen (0,49 persen) ke 91,47 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 45 sen (0,53 persen) ke 85,39 dolar AS. Pergerakan ini menandai level tertinggi sejak 30 Juli untuk Brent dan 31 Juli untuk WTI.
Ketidakpastian yang menyelimuti selat tersibuk di dunia itu masih menjadi faktor utama penopang harga. Tim Waterer, analis pasar utama KCM, menilai keyakinan pelaku usaha terhadap keamanan jalur pelayaran masih rendah, dengan volume pengiriman yang jauh di bawah normal. "Premi risiko geopolitik tetap tertanam dalam harga minyak," ujarnya. Kondisi ini diperparah oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membantah adanya negosiasi dengan Iran dan menegaskan Selat Hormuz terbuka, bertolak belakang dengan klaim Teheran yang menyebut jalur itu ditutup.
Kebuntuan diplomatik kian nyata setelah gencatan senjata sementara berakhir pada Senin (17/8). Seorang pejabat senior Iran bahkan menyebut negaranya beralih ke postur militer "sepenuhnya ofensif" akibat kebuntuan tersebut, meski belum ada laporan serangan dari kedua belah pihak. Sebelum konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari, Selat Hormuz mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Gangguan di jalur ini pun menjadi perhatian sentral pasar energi global.
Ahmad Assiri, strategis riset di broker Pepperstone, menggarisbawahi bahwa pelayaran komersial melalui Hormuz masih menghadapi gangguan hampir total. "Perbedaan pendapat atas syarat lalu lintas maritim terus berlanjut," katanya. Data terbaru menunjukkan sebagian besar pemilik kapal menghindari selat tersebut, memperlambat arus pengiriman. Sementara itu, Irak mengumumkan mekanisme baru ekspor minyak mentah melalui perusahaan internasional dan lokal dengan berbagai jalur keluar. Kontrak di bawah skema baru ini akan berjalan tiga bulan mulai 1 September.
Lonjakan Brent di atas 91 dolar AS mengindikasikan para trader mulai memperhitungkan premi risiko yang lebih tinggi. Assiri memperkirakan harga berpotensi kembali ke level tiga digit jika gangguan berlanjut. Di sisi lain, data American Petroleum Institute menunjukkan penurunan stok minyak mentah dan distilat AS pekan lalu, sementara stok bensin naik. Data resmi dari Energy Information Administration dijadwalkan rilis Kamis (20/8) waktu setempat, dengan analis memperkirakan stok minyak mentah turun sekitar 600.000 barel pada pekan yang berakhir 14 Agustus.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak dunia selalu berdampak langsung pada anggaran subsidi energi dan harga bahan bakar domestik. Setiap kenaikan harga minyak mentah berpotensi memperlebar defisit APBN jika pemerintah tidak menyesuaikan harga jual. Selain itu, ketidakpastian di Hormuz juga mempengaruhi biaya pengiriman dan logistik, yang pada akhirnya berimbas pada inflasi. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini, terutama dalam merancang kebijakan energi jangka pendek.
Ke depan, pasar akan terus memantau eskalasi di Timur Tengah dan respons negara-negara konsumen. Apakah harga akan menembus tiga digit atau justru mereda jika ada tanda-tanda de-eskalasi? Jawabannya bergantung pada langkah diplomatik AS-Iran dan kemampuan negara lain mengisi kekosongan pasokan. Satu hal yang pasti: volatilitas masih akan mewarnai pasar energi dalam beberapa pekan ke depan.



