Kudeta Keluarga Buss: Jeanie Lawan Penjualan Saham Lakers ke Kushner-Iger
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan senilai 12,5 miliar dolar AS untuk mengakuisisi mayoritas saham Lakers memicu pertarungan hukum internal keluarga Buss.
- Jeanie Buss, gubernur Lakers, menolak langkah saudara kandungnya yang ingin menjual sisa saham keluarga, dengan alasan melanggar perjanjian perwalian.
- Jika penjualan jadi, Jeanie akan kehilangan posisinya karena syarat kepemilikan minimum 15 persen, dan masa depan kepemimpinan Lakers menjadi tidak pasti.

Pertarungan internal keluarga Buss memasuki babak baru setelah gubernur Los Angeles Lakers, Jeanie Buss, secara resmi menggugat rencana saudara-saudaranya untuk menjual sisa kepemilikan saham keluarga kepada kelompok investor yang dipimpin Josh Kushner dan Bob Iger. Langkah ini muncul di tengah kesepakatan senilai 12,5 miliar dolar AS yang memecahkan rekor sebagai transaksi termahal dalam sejarah olahraga profesional.
Kushner, adik ipar Presiden AS Donald Trump, bersama mantan CEO Disney, Bob Iger, telah menyepakati pembelian sekitar 65 persen saham Lakers dari Mark Walter, pemilik mayoritas saat ini. Jika kesepakatan dengan keluarga Buss tercapai, total kepemilikan mereka akan melonjak menjadi 83 persen. Nilai transaksi ini melampaui rekor sebelumnya dan menandai pergeseran besar dalam peta kepemilikan klub NBA.
Jeanie Buss, yang memimpin Lakers sejak 2013, menolak rencana penjualan sisa 17,8 persen saham keluarga. Melalui pengacaranya, Adam Streisand, ia menyatakan bahwa setiap upaya penjualan tersebut "batal demi hukum" karena melanggar perjanjian perwalian yang mewajibkan menjaga kepemilikan minimal 15 persen agar ia tetap menjadi gubernur. Surat tersebut juga menegaskan bahwa tindakan saudara-saudaranya dapat dianggap sebagai pelanggaran kepercayaan dan kewajiban fidusia.
Ketegangan dalam keluarga Buss bukan hal baru. Sejak kematian patriark Jerry Buss pada 2013, enam bersaudara kerap berselisih. Jeanie pernah memecat saudaranya, Jim, dari posisi kepala operasi basket pada 2017, yang kemudian memicu tuntutan hukum balik. Baru-baru ini, dua saudara lainnya, Joey dan Jesse, juga dipecat dari posisi mereka di tim. Konflik ini mencerminkan perebutan kendali atas warisan keluarga yang bernilai miliaran dolar.
Bagi pengamat, langkah Jeanie Buss adalah upaya terakhir untuk mempertahankan kendali atas tim yang telah menjadi identitas keluarganya. Namun, tekanan dari saudara-saudaranya yang ingin segera merealisasikan keuntungan besar dari penjualan saham menunjukkan bahwa kepentingan finansial mulai mengalahkan ikatan emosional. Keputusan ini juga berpotensi memicu perpecahan yang lebih dalam di tubuh keluarga Buss.
Di Indonesia, berita ini menarik karena menunjukkan bagaimana nilai sebuah klub olahraga bisa melonjak drastis, seiring dengan meningkatnya minat investor global terhadap aset olahraga. Fenomena ini bisa menjadi pelajaran bagi pengelolaan klub-klub sepak bola nasional yang mulai dilirik investor asing, seperti yang terjadi di Liga 1. Transparansi dan tata kelola yang baik menjadi kunci untuk menghindari konflik internal yang merugikan.
Kesepakatan dengan Kushner dan Iger masih menunggu persetujuan dewan gubernur NBA, yang bisa memakan waktu berbulan-bulan. Sementara itu, nama Kushner sempat terseret dalam kontroversi rencana FIFA yang digagas Gianni Infantino untuk menjual saham kompetisi kepada investor swasta, yang akhirnya batal karena kritik tajam. Pertanyaannya, apakah NBA akan memberikan lampu hijau untuk kesepakatan ini, atau justru menjadi ajang pertarungan hukum yang panjang?



