Cadillac Ganti Bos Tim di Tengah Musim: Tanda Ambisi atau Kepanikan?
Baca dalam 60 detik
- Cadillac memecat Graeme Lowdon setelah 11 seri tanpa poin, digantikan Marcin Budkowski yang lebih berpengalaman.
- Keputusan ini dipicu kesenjangan ekspektasi antara pemilik dan manajemen, bukan semata masalah teknis.
- Langkah ini menjadi ujian bagi konsistensi performa tim debutan di sisa musim 2026.

Setelah libur musim panas selama empat pekan, Formula 1 kembali bergulir akhir pekan ini di Sirkuit Zandvoort, Belanda. Namun perhatian tidak hanya tertuju pada persaingan gelar, melainkan juga gejolak internal di kubu Cadillac yang baru saja melakukan pergantian pucuk pimpinan di tengah musim perdananya.
Cadillac, satu-satunya tim yang belum mengoleksi poin sepanjang musim ini, memutuskan memecat Graeme Lowdon dari posisi prinsipal tim. Posisinya digantikan Marcin Budkowski, sosok yang tidak asing dengan dinamika Formula 1. Keputusan ini diumumkan langsung oleh CEO Cadillac, Dan Towriss, yang mengakui bahwa pergantian tersebut terjadi lebih cepat dari perkiraan.
Lowdon sejatinya adalah arsitek di balik berdirinya tim ini. Bersama Towriss, ia membangun tim dari nol dalam kondisi yang tidak mudah, termasuk ketidakpastian status entry resmi yang baru keluar pada Maret 2025, hanya setahun sebelum balapan pertama. Namun, Towriss menilai bahwa laju perkembangan tim tidak sesuai dengan target yang ia bayangkan. Dalam 11 seri pembuka, Cadillac kerap tertinggal jauh, bahkan rata-rata 1,2 detik lebih lambat dari Williams yang juga sedang kesulitan. Masalah reliabilitas, terutama rem yang kerap terbakar, menjadi pemandangan yang akrab.
Towriss sendiri membantah bahwa keputusan ini murni karena masalah teknis. Ia lebih menyoroti soal visi dan kecepatan progres. "Ini tentang memiliki visi yang jelas tentang apa yang kita bangun ke depan, laju kemajuan, dan memastikan itu sejalan dengan ambisi pemilik," ujarnya. Ia juga mengakui adanya budaya saling menyalahkan dan pembentukan silo di internal tim, yang ia sebut sebagai "masalah bisnis tahap awal". Dengan mengganti Lowdon, Towriss berharap model kepemimpinan teknis yang kuat, seperti yang diterapkan McLaren bersama Andrea Stella, bisa diadopsi.
Sementara itu, kabar baik datang dari kubu Aston Martin yang akan membawa upgrade mesin Honda di Zandvoort. Tim meyakini mesin lama memiliki defisit performa sekitar 1,5 detik per lap dibandingkan yang terbaik. Dengan upgrade ini, mereka berharap bisa menutup sekitar sepertiga dari jarak tersebut. Namun, Honda enggan membeberkan angka pasti, sebuah sinyal bahwa mereka belajar dari pengalaman pahit di masa lalu bersama McLaren. Fernando Alonso, yang kabarnya menunggu hasil upgrade ini sebelum memutuskan masa depannya, akan menjadi sorotan utama.
Di sisi lain, Haas justru menunjukkan tren sebaliknya. Tim asal Amerika Serikat itu sempat tampil mengejutkan di awal musim dengan finis kelima lewat Oliver Bearman di China. Namun, seiring berjalannya musim, mereka mulai terperosok ke posisi kedelapan dalam catatan waktu kualifikasi. Meski begitu, mereka masih duduk di posisi ketujuh klasemen konstruktor. Kehadiran simulator baru hasil kerja sama dengan Toyota diharapkan bisa memberi dorongan, meski pemilik Gene Haas tetap enggan berinvestasi besar-besaran.
Di luar lintasan, Presiden F1 Stefano Domenicali membuka peluang kembalinya Grand Prix Jerman ke kalender, meski masih dalam tahap wacana. Ia juga menegaskan bahwa kalender musim depan tetap akan berjumlah 24 seri, dengan opsi cadangan jika konflik di Timur Tengah masih berlanjut. Jika Bahrain dan Arab Saudi tidak bisa menggelar seri pembuka, Australia kembali menjadi kandidat utama.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, dinamika ini menarik untuk diikuti. Meski tidak ada pembalap Indonesia di grid, perubahan manajemen tim dan rivalitas antar pabrikan sering kali memengaruhi strategi balap dan alur cerita musim. Pertanyaannya, akankah pergantian prinsipal di Cadillac menjadi titik balik atau justru awal dari keterpurukan yang lebih dalam? Hanya waktu yang bisa menjawab.



