Afsel Hajar Inggris di Ellis Park: Dominasi Juara Bertahan Tak Terbantahkan
Baca dalam 60 detik
- Springboks mencetak tujuh try dan unggul 17 poin dalam 11 menit pertama, menunjukkan kesenjangan kelas dengan Inggris.
- Kemenangan keempat beruntun Afrika Selatan atas Inggris menegaskan status mereka sebagai tolok ukur tertinggi rugby dunia.
- Inggris harus segera berbenah sebelum menghadapi Fiji dan Argentina di Nations Championship bulan depan.

Afrika Selatan kembali menunjukkan supremasinya atas Inggris dengan kemenangan telak di Ellis Park, Johannesburg, dalam laga uji coba yang berakhir dengan skor 49-16. Tim tamu tak pernah mampu memberikan perlawanan berarti sejak peluit pertama dibunyikan.
Springboks langsung tancap gas dengan mencetak tiga try dalam 11 menit pertama, membuat Inggris kalang kabut. Kecepatan, kekuatan fisik, dan kohesi tim tuan rumah menjadi momok yang tak terpecahkan. Dua try dari Ellis Genge dan George Martin sesaat sebelum turun minum sempat memberi sedikit harapan, tetapi itu hanya menunda kekalahan.
Babak kedua menjadi panggung pembantaian. Afrika Selatan menambah tiga try lagi melalui Jesse Kriel, Malcolm Marx, dan Cameron Dixon, memastikan kemenangan keempat beruntun mereka atas Inggris. Dengan tujuh try total, Springboks membuktikan diri sebagai tolok ukur tertinggi rugby dunia, status yang mereka pegang sebagai juara dunia bertahan dua kali.
Bagi pengamat rugby, hasil ini bukan kejutan. Sejak memenangkan Piala Dunia 2019 dan 2023, Afrika Selatan telah membangun tim yang hampir sempurna: perpaduan kekuatan fisik ala tradisi mereka dengan kecepatan dan keterampilan modern. Inggris, di sisi lain, masih dalam masa transisi setelah kegagalan di Piala Dunia lalu. Pelatih Steve Borthwick harus bekerja keras untuk menutup kesenjangan yang terlihat jelas di lapangan.
Konteks bagi Indonesia: meski rugby bukan olahraga utama di Tanah Air, dominasi Afrika Selatan mengirim pesan penting tentang pentingnya pembinaan usia dini dan konsistensi program. Timnas Indonesia yang tengah membangun skuad untuk SEA Games bisa belajar dari pendekatan sistematis Springboks. Tanpa investasi jangka panjang, sulit menyaingi negara-negara yang sudah mapan.
Inggris kini harus segera bangkit. Mereka akan menghadapi Fiji di Liverpool pada 11 Juli, lalu bertandang ke Argentina pada 18 Juli dalam lanjutan Nations Championship. Dua laga itu akan menjadi ujian sejauh mana mereka mampu memperbaiki diri setelah dipermalukan di Johannesburg.
Pertanyaan besarnya: mampukah Inggris belajar dari kekalahan ini, atau Afrika Selatan akan terus mendominasi rugby global dalam beberapa tahun ke depan?



