Sunderland Ganti Target: Matias Soule Jadi Alternatif Lebih Tajam dari Methalie
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan Sunderland dengan bek Toulouse, Dayann Methalie, terancam batal setelah masalah medis terungkap.
- Klub Liga Premier itu kini membidik winger Roma, Matias Soule, dengan nilai transfer sekitar £35 juta.
- Soule dinilai lebih sesuai kebutuhan lini serang Sunderland yang masih tumpul, terutama untuk mendukung Brian Brobbey.

Bursa transfer musim panas Sunderland memasuki babak baru yang menegangkan. Setelah nyaris mengamankan tanda tangan bek kiri muda Toulouse, Dayann Methalie, dengan nilai mencapai £26 juta, kabar mengejutkan datang dari tim medis klub. Hasil pemeriksaan fisik dikabarkan memunculkan kekhawatiran pada sejumlah aspek kondisi pemain, sehingga kesepakatan yang sempat dianggap hampir final itu kini menggantung. Di tengah ketidakpastian tersebut, Sunderland dikabarkan telah mengalihkan radar ke lini serang, dengan menargetkan winger Roma asal Argentina, Matias Soule.
Langkah ini bukan sekadar rencana cadangan. Soule, yang kini berusia 23 tahun, dinilai memiliki profil yang justru lebih menjawab kebutuhan mendesak Sunderland. Musim lalu, pelatih Regis Le Bris berhasil membawa tim promosi itu finis ketujuh di Premier League dan menembus kualifikasi Europa League—sebuah pencapaian yang melampaui ekspektasi banyak pihak. Namun, untuk melanjutkan momentum tersebut, kedalaman skuad, terutama di sektor penyerangan, menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Kehadiran Brian Brobbey sebagai ujung tombak memang memberi dimensi baru, tetapi dukungan kreatif dari sayap masih dirasa kurang.
Menurut jurnalis Italia Lorenzo Canicchio, Sunderland tengah menjajaki kemungkinan memboyong Soule di penghujung bursa. Roma sendiri dikabarkan mematok banderol sekitar £35 juta dan terbuka untuk melepas pemainnya. Faktor kunci yang memuluskan negosiasi adalah kehadiran Florent Ghisolfi, sosok yang justru membawa Soule ke Roma pada 2023, kini berada di balik layar kesepakatan ini. Kedekatan personal dan pemahaman terhadap potensi pemain bisa menjadi jembatan yang mempercepat proses transfer.
Soule bukanlah nama asing di Serie A. Pada musim 2023/24, analis Ben Mattinson bahkan menyebutnya sebagai "bakat terbaik di Serie A". Namun, dua musim di Roma belum mampu mengulang performa puncaknya. Catatan musim lalu—enam gol dan lima assist di liga—membantu Roma lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya sejak 2017/18, tetapi masih di bawah standar yang diharapkan. Di usianya yang masih muda, Soule membutuhkan lingkungan baru untuk berkembang, dan Premier League bisa menjadi panggung yang tepat.
Dari sisi teknis, Soule menawarkan sesuatu yang selama ini kurang di skuad Sunderland: kreativitas dan kelincahan dalam ruang sempit. Jurnalis Zach Lowy menyebutnya sebagai "teknisi spesial" dengan kemampuan dribel yang halus dan pemikiran cepat. Meski bukan tipe pemain yang terus-menerus membawa bola dengan kecepatan tinggi, Soule unggul dalam membaca situasi dan memberikan umpan-umpan terobosan. Data musim lalu menunjukkan ia menyelesaikan 84,4% umpan dan 62,5% umpan jauh, angka yang mengindikasikan kualitas distribusi bola yang bisa membuka ruang bagi penyerang seperti Brobbey.
Perbandingan dengan Methalie pun menarik. Methalie, yang baru berusia 20 tahun, dianggap sebagai salah satu bek kiri muda paling menjanjikan di Ligue 1. Namun, ia masih membutuhkan waktu untuk mencapai level elite. Soule, di sisi lain, sudah membuktikan diri di kompetisi top Eropa dan memiliki pengalaman bermain di level internasional. Bagi Sunderland yang ingin langsung bersaing di papan atas, Soule bisa menjadi investasi yang lebih siap pakai. Meski begitu, risiko tetap ada: adaptasi dengan intensitas Premier League dan konsistensi performa yang sempat menurun di Roma menjadi catatan yang perlu diwaspadai.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, saga transfer ini memberikan gambaran bagaimana klub-klub Inggris berburu talenta muda Amerika Selatan dan Eropa. Sunderland, yang memiliki basis penggemar besar di Indonesia, tentu menjadi sorotan. Kehadiran pemain seperti Soule tidak hanya meningkatkan kualitas tim, tetapi juga daya tarik kompetisi. Jika transfer ini terwujud, para penggemar di Tanah Air bisa menyaksikan aksi pemain yang pernah disebut sebagai bakat terbaik Serie A tersebut di layar kaca setiap pekan.
Keputusan akhir kini berada di tangan manajemen Sunderland. Apakah mereka akan tetap memaksakan transfer Methalie dengan segala risikonya, atau berbelok arah ke Soule yang lebih siap secara mental dan teknis? Satu hal yang pasti: bursa transfer belum berakhir, dan kejutan masih mungkin terjadi. Yang menjadi pertanyaan, akankah Sunderland berani mengambil langkah berani demi mengamankan tiket Eropa musim depan?



