Rhys McClenaghan Incar Emas Keempat Eropa: Adaptasi Aturan Baru Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- Pasca-finish keenam di Commonwealth Games, pejantan pommel horse asal Irlandia Utara itu kembali ke sasana untuk memoles rutinitas barunya.
- Perubahan regulasi FIG yang mempersingkat durasi dan elemen latihan dinilai menguntungkan pesenam all-around, menuntut adaptasi dari spesialis seperti McClenaghan.
- Dengan target mempertahankan gelar Olimpiade 2028, McClenaghan menegaskan pentingnya perbaikan bertahap dan pengelolaan mental dalam setiap kompetisi.

Rhys McClenaghan, peraih emas Olimpiade Paris 2024 nomor pommel horse, membidik gelar keempat Eropa pada Kejuaraan Senam Artistik Pria di Zagreb pekan ini. Kegagalan finis di posisi keenam pada Commonwealth Games beberapa waktu lalu menjadi cambuk baginya untuk segera berbenah, terutama dengan rutinitas baru yang tengah diuji coba.
Atlet asal Newtownards itu mengaku langsung kembali ke pusat latihan setelah kompetisi di Glasgow untuk mengoreksi berbagai kesalahan teknis. "Sejak hari pertama kembali, saya langsung berlatih memperbaiki kesalahan—mengubah beberapa hal dan pada akhirnya mencoba memperbaiki hasil untuk Eropa, tetapi juga tetap menjaga lintasan peningkatan rutinitas," ujarnya kepada BBC Sport NI. Ia menegaskan tidak akan merombak total program latihannya, melainkan hanya melakukan penyesuaian kecil yang diyakini berdampak besar.
Keputusan untuk tidak panik ini bukan tanpa dasar. Empat tahun lalu, McClenaghan gagal melaju ke final Eropa, namun beberapa bulan kemudian ia justru merebut gelar dunia pertamanya. Sejak saat itu, ia mengoleksi dua gelar dunia, dua sukses Eropa, dan emas Olimpiade Paris—sebuah rentetan prestasi yang sempat terhenti di Glasgow. "Saya tidak suka membuat perubahan terlalu besar ketika hanya ada beberapa pekan antara Commonwealth dan Eropa. Mengubah segalanya berarti saya tidak percaya pada rutinitas itu. Saya percaya, hanya perlu sedikit tweak," jelasnya.
Perjalanan McClenaghan tidak mulus. Cedera bahu yang dideritanya memaksanya absen sepanjang 2025, dan Commonwealth Games menjadi ajang besar pertamanya sejak Olimpiade Paris. Ia pun mengakui rasa gugup selalu menghampiri. "Saraf akan selalu berperan. Saya gugup di setiap kompetisi, tapi saya semakin terbiasa. Setelah Commonwealth, saya bisa mengambil banyak pelajaran, bukan hanya soal teknis, tapi juga bagaimana perasaan saya dan bagaimana saya akan menghadapi kompetisi berikutnya. Saya merasa akan menjadi atlet yang lebih tenang dan terukur di Eropa nanti," tuturnya.
Di tengah persiapannya, McClenaghan menghadapi tantangan baru: perubahan aturan FIG yang kini lebih menguntungkan pesenam all-around ketimbang spesialis alat. Rutinitas panjang dengan tingkat kesulitan tinggi yang menjadi ciri khasnya kini dipangkas, sehingga lebih banyak pesenam bisa bersaing di level atas. Ia menyambut tantangan ini dengan positif. "Jika saya mau menyebut diri saya salah satu pekerja pommel horse terbaik sepanjang masa, saya harus bisa beradaptasi dengan aturan ini. Ini menyenangkan," katanya.
Bagi Indonesia, dinamika ini menarik dicermati. Meski belum ada atlet Indonesia yang mentas di level elite senam dunia, perubahan regulasi FIG bisa menjadi peluang bagi pesenam Asia Tenggara yang umumnya bertubuh lebih kecil dan lincah. Dengan rutinitas yang lebih pendek, daya saing atlet dari kawasan ini berpotensi meningkat. Federasi Senam Indonesia (Persani) dapat menjadikan momen ini sebagai bahan evaluasi untuk mempersiapkan atlet muda menghadapi kompetisi internasional.
Terlepas dari hasil di Zagreb, tujuan utama McClenaghan adalah mempertahankan mahkota Olimpiadenya pada 2028 di Los Angeles. Ia menegaskan pentingnya progres bertahap. "Saya berharap bisa menceritakan kisah yang mirip dengan siklus Olimpiade lalu—beberapa gelar dunia dan emas Olimpiade di ujung terowongan. Pada final Olimpiade di Paris, saya menampilkan yang terbaik, rutinitas tersulit yang pernah saya lakukan. Itulah versi terbaik dari diri saya saat itu. Semoga saya bisa mengatakannya lagi di LA," pungkasnya.



