Vijaya Mehta: Sang Pembaru Panggung yang Mengubah Wajah Teater India
Baca dalam 60 detik
- Vijaya Mehta, tokoh teater eksperimental asal India, meninggal pada usia 92 tahun, meninggalkan warisan besar dalam modernisasi teater Marathi.
- Lewat grup Rangayan yang didirikannya pada 1960, Mehta menghadirkan lakon-lakon berani yang mencerminkan kehidupan kelas menengah, sekaligus menjadi mentor bagi aktor Bollywood ternama.
- Pengaruhnya melampaui panggung; ia juga menyutradarai film-film pemenang penghargaan dan memimpin pusat seni pertunjukan nasional India.

Vijaya Mehta, sutradara dan aktris yang dianggap sebagai arsitek modernisasi teater Marathi, tutup usia pada pekan lalu di usia 92 tahun. Sepanjang kariernya, ia tak hanya menyulap panggung-panggung Mumbai dengan lakon eksperimental, tetapi juga membentuk generasi baru seniman yang kemudian merajai layar lebar Bollywood.
Lahir di Vadodara, Gujarat, pada 1934, Mehta berasal dari keluarga seniman. Alih-alih meniti karier di industri film yang lebih bergemerlapan, ia memilih bergelut di dunia teater yang saat itu masih dianggap sebagai seni pinggiran. Keputusan itu justru menjadi titik tolak perubahan besar. Di bangku kuliah, seorang profesor mendorongnya untuk mulai berakting dalam lakon Marathiโsebuah langkah yang kemudian membawanya berguru pada Ebrahim Alkazi dan Adi Marzban, dua pionir teater modern India.
Pada 1960, bertepatan dengan pembentukan negara bagian Maharashtra, Mehta ikut mendirikan kelompok teater eksperimental Rangayan di Mumbai. Tahun yang sama, Undang-Undang Reorganisasi Bombay memisahkan negara bagian dwibahasa menjadi Gujarat dan Maharashtra. Momen historis itu, menurut politikus Maharashtra Raj Thackeray, menjadi latar yang pas bagi Mehta untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan teater konvensional yang sarat "set megah dan melodrama". "Vijaya Tai (kakak) mengisi kekosongan itu," tulis Thackeray dalam penghormatannya di media sosial.
Melalui Rangayan, Mehta menghadirkan lakon-lakon yang berani mengangkat kehidupan sehari-hari masyarakat kelas menengah Marathi. Penonton yang selama ini hanya disuguhi cerita-cerita heroik atau mitologis, tiba-tiba melihat diri mereka sendiri di atas panggungโdengan segala kekurangan dan kompleksitasnya. Penulis naskah Mahesh Elkunchwar, yang karya-karyanya digarap Mehta, mengenang bahwa mereka tidak tertarik pada hiburan semata. "Kami ingin mengeksplorasi teater, seni, dan kehidupan melalui karya kami," tulisnya dalam surat kabar Indian Express.
Pengaruh Mehta tidak berhenti di panggung teater. Ia juga menyutradarai film-film yang diakui kritikus, seperti Rao Saheb yang mengisahkan seorang pengacara reformis di abad ke-19, dan Pestonjee yang mengeksplorasi cinta, perselingkuhan, dan persahabatan di kalangan komunitas Parsi pada 1950-an. Aktor kawakan Anupam Kher, yang bermain dalam Rao Saheb, mengaku setiap latihan bersamanya mengingatkan betapa luasnya lautan seni peran. "Di hadapan kebijaksanaannya, pemahamannya tentang perilaku manusia, dan sensitivitasnya yang luar biasa, saya dengan senang hati menjadi murid lagi," tulis Kher di media sosial.
Bagi dunia teater Indonesia, kisah Mehta menawarkan refleksi tentang bagaimana seni panggung bisa menjadi cermin sosial. Di tengah dominasi sinetron dan film komersial, teater di Indonesia kerap berjuang untuk mendapatkan tempat. Namun, seperti yang ditunjukkan Mehta, keberanian untuk menghadirkan cerita-cerita otentik tentang keseharian justru bisa menciptakan resonansi yang mendalam dengan penonton. Langkah Mehta yang memadukan tradisi klasik Sansekerta dengan adaptasi karya Brecht dan Chekhov juga mengingatkan bahwa eksperimentasi lintas budaya dapat memperkaya khazanah seni lokal.
Aktris Sonali Kulkarni, yang menganggap Mehta sebagai panutan, mengatakan bahwa kepergiannya meninggalkan lubang yang sulit diisi. "Mengatakan bahwa kepergianmu adalah kehilangan kami adalah pernyataan yang terlalu kecil. Kekayaan yang kau berikan kepada teater tidak akan pernah bisa kami balas," ujarnya. Dengan warisan yang meliputi puluhan lakon, film, dan generasi seniman yang terinspirasi, nama Vijaya Mehta akan terus dikenang sebagai salah satu pembaru panggung terbesar India.
Pertanyaan yang kini menggantung: siapakah yang akan meneruskan semangat eksperimentalnya di tengah arus industri hiburan yang semakin komersial?



