Topan Maysak Hantam China: Banjir Bandang dan Tornado Langka Tewaskan Belasan Orang
Baca dalam 60 detik
- Topan Maysak memicu banjir kilat di Guangxi dan tornado di Hubei, menewaskan sedikitnya 15 orang dan memaksa evakuasi puluhan ribu warga.
- Bencana ini memperlihatkan kerentanan infrastruktur dan kesiapsiagaan darurat China, dengan ribuan warga masih terisolasi tanpa listrik dan komunikasi.
- Ancaman Super Topan Bavi di Pasifik menambah kekhawatiran akan gelombang bencana susulan di pesisir timur China.

Banjir bandang yang dipicu Topan Maysak melanda Provinsi Guangxi, China selatan, sejak akhir pekan lalu, menenggelamkan puluhan desa dan memicu tornado langka di Provinsi Hubei yang berjarak ratusan kilometer. Bencana ini telah menewaskan sedikitnya 15 orang dan memaksa evakuasi lebih dari 60.000 penduduk, sementara ribuan lainnya masih terisolasi di atap rumah tanpa pasokan makanan dan listrik.
Di Desa Renhe, Guangxi, air naik dengan cepat dalam hitungan jam. Seorang warga bernama Zhou menuturkan kepada BBC bahwa keluarganya tidak sempat membawa makanan saat mengungsi. "Banjir datang begitu cepat, air naik sangat deras. Kami tidak punya waktu untuk mengambil makanan," ujarnya. Zhou yang kini berada di provinsi lain masih belum bisa menjangkau sebagian keluarganya yang terjebak, termasuk keponakannya yang berusia empat bulan yang sudah lebih dari sehari tanpa susu.
Di Kota Nanning, ibu kota Guangxi, ribuan warga masih menunggu evakuasi dari atap rumah. Pemerintah setempat melaporkan bahwa setidaknya 90.000 orang terkena dampak langsung banjir. Namun, upaya penyelamatan terhambat oleh hujan lebat yang masih terus mengguyur. Presiden Xi Jinping telah memerintahkan operasi penyelamatan dan bantuan secara maksimal, menekankan pentingnya penanganan korban luka dan pemulihan warga terdampak.
Fenomena yang tak kalah mengerikan terjadi di Provinsi Hubei, di mana Topan Maysak memicu setidaknya dua tornadoโsangat jarang terjadi di wilayah tersebut. Tornado terakhir tercatat pada 2021. Di Kota Huanggang, seorang pria dilaporkan tersedot keluar dari apartemennya di lantai 12 akibat angin kencang yang memecahkan jendela. Ia kini dalam perawatan intensif. Seorang mahasiswa di Huanggang mengaku awalnya mengira itu hanya badai petir biasa, hingga melihat benda-benda beterbangan di luar jendela asrama. "Banyak mahasiswa terluka oleh pecahan kaca. Baru setelah semuanya berhenti saya sadar bahwa saya baru saja selamat dari bencana," katanya.
Di tengah kekacauan, warga juga dihadapkan pada ancaman ular berbisa yang terbawa banjir. Beberapa peternakan ular di Nanning dilaporkan jebol, menyebabkan ular-ular besar berkeliaran di permukiman. Sebuah video dari grup WeChat menunjukkan warga ketakutan saat seekor ular hitam besar melata di lantai berlumpur. Fenomena ini menambah kepanikan di lokasi pengungsian yang sudah kekurangan pasokan.
Cuaca ekstrem juga melanda wilayah utara China. Di Tongliao, Mongolia Dalam, banjir bandang menewaskan dua peternak sapi, sementara curah hujan rekor di Fushun merenggut tiga jiwa. Data menunjukkan rata-rata curah hujan di Fushun antara pukul 01.00 hingga 07.00 waktu setempat memecahkan rekor sejarah. Bencana ini memperlihatkan betapa luasnya dampak Topan Maysak, tidak hanya di selatan tetapi juga di utara China.
Bagi Indonesia, rangkaian bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi siklon tropis yang kerap melintasi wilayah kepulauan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa fenomena serupa berpotensi terjadi di Indonesia, terutama saat musim pancaroba. Sistem peringatan dini dan kapasitas evakuasi yang cepat menjadi krusial untuk meminimalkan korban jiwa. Kejadian di China juga menyoroti perlunya koordinasi lintas daerah dalam penanganan bencana, mengingat dampak cuaca ekstrem bisa menjangkau area yang sangat luas.
Sementara itu, Super Topan Bavi yang bergerak di Samudra Pasifik diprediksi akan menghantam pesisir timur China dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah China telah meningkatkan kewaspadaan di provinsi Fujian dan Zhejiang. Pertanyaannya, apakah infrastruktur dan sistem tanggap darurat China mampu menghadapi dua bencana besar dalam waktu berdekatan? Atau akankah gelombang bencana ini memicu reformasi kebijakan mitigasi bencana yang lebih ketat?



