Landasan Pacu Naha Ditutup: Jet Tempur F-15 JASDF Alami Kerusakan Usai Misi Siaga
Baca dalam 60 detik
- Bandara Naha di Okinawa menutup salah satu landasan pacunya setelah jet tempur F-15 milik Pasukan Bela Diri Jepang mengalami kerusakan roda pendaratan saat mendarat.
- Insiden ini memaksa alih fungsi penerbangan sipil ke landasan alternatif, menyoroti risiko operasi militer di bandara bersama.
- Penutupan landasan berpotensi mengganggu jadwal penerbangan di kawasan yang menjadi pintu gerbang wisata dan militer strategis Jepang.

Bandara Naha di Prefektur Okinawa, Jepang, terpaksa menutup salah satu landasan pacunya pada Selasa (18/8) setelah sebuah jet tempur F-15 milik Pasukan Bela Diri Udara Jepang (JASDF) mengalami kerusakan saat mendarat. Peristiwa ini tidak menimbulkan korban jiwa, namun memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap operasional penerbangan sipil di bandara yang juga digunakan bersama oleh militer tersebut.
Menurut Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang, landasan pacu B yang digunakan jet tempur tersebut ditutup sejak pukul 12.55 waktu setempat. Akibatnya, seluruh penerbangan komersial dialihkan ke landasan pacu A yang masih beroperasi normal. Jet tempur yang berbasis di Pangkalan Udara Naha itu diketahui baru kembali dari misi siaga (scramble) sebelum akhirnya mengalami kendala teknis.
Dari keterangan sumber pemerintah, pesawat terlihat miring ke kiri dengan roda pendaratan utama kiri yang patah. Kerusakan ini menyebabkan pesawat tidak dapat bergerak dan menghambat aktivitas di landasan. Landasan pacu B sendiri baru beroperasi sejak Maret 2020, menjadikannya infrastruktur yang relatif baru di bandara tersebut.
Insiden ini menggarisbawahi risiko yang melekat pada bandara yang digunakan bersama oleh penerbangan sipil dan militer. Naha Airport merupakan salah satu bandara tersibuk di Jepang, melayani rute domestik dan internasional, sekaligus menjadi basis penting bagi operasi militer AS dan Jepang di kawasan Pasifik. Penutupan landasan pacu, meski hanya satu, dapat menyebabkan keterlambatan dan pembatalan penerbangan, terutama di musim liburan.
Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya manajemen bandara yang memiliki operasi campuran. Beberapa bandara di Indonesia, seperti Halim Perdanakusuma di Jakarta, juga digunakan bersama oleh militer dan sipil. Koordinasi yang ketat antara otoritas penerbangan dan militer menjadi krusial untuk meminimalkan gangguan terhadap layanan publik.
Para analis penerbangan menilai bahwa insiden seperti ini jarang terjadi, namun dampaknya bisa signifikan. โKerusakan roda pendaratan pada jet tempur biasanya memerlukan waktu perbaikan yang lama, dan jika landasan pacu harus ditutup untuk evakuasi, dampaknya akan terasa hingga beberapa hari,โ ujar seorang pengamat militer yang enggan disebut namanya.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas bandara belum memberikan perkiraan kapan landasan pacu B akan dibuka kembali. Sementara itu, maskapai penerbangan diimbau untuk memantau informasi terbaru dari pihak bandara. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: seberapa cepat Jepang dapat memulihkan operasional penuh bandara ini, dan apakah insiden ini akan memicu evaluasi ulang prosedur keamanan di bandara-bandara campuran lainnya?



