Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Belum Diturunkan
Baca dalam 60 detik
- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda erupsi pada Selasa pagi, memuntahkan kolom abu setinggi 100 meter ke udara.
- Status gunung masih di Level III (Siaga) sejak dinaikkan pekan lalu, dengan aktivitas vulkanik yang terus meningkat.
- Pemerintah daerah mengimbau nelayan dan pelaku wisata untuk tidak mendekati zona larangan demi keselamatan.

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada Selasa (7/7) pagi, dengan erupsi yang melontarkan kolom abu setinggi 100 meter ke langit. Letusan yang terekam pada pukul 08.21 WIB ini menghasilkan abu vulkanik berwarna abu-abu pekat yang bergerak ke arah barat laut, menurut laporan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Seismograf mencatat amplitudo maksimum 11 milimeter dengan durasi sekitar 15 detik saat erupsi berlangsung. Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan, Andi Suwardi, menyatakan bahwa status gunung tidak berubah meskipun erupsi terus terjadi. โAktivitasnya fluktuatif, namun status masih di Level III (Siaga),โ ujarnya seperti dikutip Kompas.com.
Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau sebenarnya sudah terdeteksi sejak 10 Juni lalu, setelah periode tenang yang panjang. Data pengamatan menunjukkan lonjakan frekuensi gempa letusan dan gempa frekuensi rendah pada 18-19 Juni, dengan rata-rata lebih dari 50 kejadian per hari. Angka itu terus naik hingga mencapai rata-rata 97 kejadian per hari pada periode 16 Juni hingga 2 Juli.
Meskipun zona larangan telah diberlakukan, sejumlah nelayan dan operator wisata masih nekat beraktivitas di perairan sekitar gunung. Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, mengimbau mereka untuk tidak memaksakan diri mencari nafkah di tengah bahaya. โKami memahami dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat, tetapi keselamatan harus menjadi prioritas utama sampai status gunung diturunkan,โ tegasnya.
Gunung Anak Krakatau yang lahir pada 1927 di kaldera hasil letusan dahsyat Krakatau 1883 menyimpan sejarah kelam. Letusan 1883 menewaskan sekitar 36.000 orang dan memicu tsunami, serta mempengaruhi iklim global. Pada 2018, longsoran sebagian tubuh gunung memicu tsunami yang menerjang pesisir Sumatra Selatan dan Banten, menewaskan sedikitnya 429 orang dan melukai lebih dari 7.200 jiwa.
Dengan aktivitas yang masih tinggi, Badan Geologi terus melakukan pemantauan 24 jam. Masyarakat diimbau waspada terhadap potensi perubahan aktivitas, terutama ancaman tsunami jika terjadi longsoran. Pertanyaan yang mengemuka: akankah pola erupsi kali ini berujung pada bencana serupa 2018, ataukah aktivitas akan mereda dalam waktu dekat?



