Longsor di Kamp Pengungsi Rohingya Tewaskan Delapan Orang, India Juga Dilanda Banjir Bandang
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras memicu longsor di kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh, menewaskan delapan orang termasuk lima anak-anak.
- Di India, banjir dan longsor di Maharashtra dan Himalaya utara menewaskan sedikitnya 13 orang dalam beberapa hari terakhir.
- Cuaca ekstrem ini mengingatkan pada risiko bencana hidrometeorologi di Indonesia, terutama di daerah rawan longsor dan banjir.

Hujan monsun yang mengguyur kawasan Asia Selatan sejak akhir pekan lalu memicu serangkaian bencana tanah longsor dan banjir bandang, menewaskan sedikitnya 21 orang di Bangladesh dan India. Di Cox's Bazar, Bangladesh, delapan pengungsi Rohingya—lima di antaranya anak-anak—tewas tertimbun material longsor yang menghantam permukiman padat di kamp pengungsian.
Menurut Dollar Tripura, pejabat Dinas Pemadam Kebakaran dan Perlindungan Sipil di distrik Cox's Bazar, tim penyelamat menemukan tujuh jenazah, sementara satu korban lainnya ditemukan oleh warga setelah serangkaian bukit runtuh sejak Minggu malam hingga Senin pagi. Dua anak lainnya ditemukan dalam kondisi luka-luka. Longsor terjadi di setidaknya empat titik di dalam kamp, mengubur tempat tinggal saat penghuni sedang terlelap.
Otoritas setempat telah merelokasi sekitar 1.000 pengungsi dari area perbukitan berisiko tinggi. Namun, Badan Meteorologi Bangladesh memperingatkan bahwa hujan dengan intensitas tinggi masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan, meningkatkan potensi longsor susulan.
Di India, hujan deras yang sama juga melumpuhkan sebagian wilayah utara dan barat. Di negara bagian Maharashtra, sedikitnya 13 orang meninggal dalam sepekan terakhir akibat banjir dan longsor. Di distrik Pune, longsor memaksa penutupan sementara ruas Jalan Tol Mumbai-Pune, mengganggu arus lalu lintas antara dua kota besar tersebut. Sementara itu, di kawasan Himalaya utara—Jammu dan Kashmir serta Himachal Pradesh—banjir bandang dan longsor merusak jalan, mengganggu transportasi umum, dan memutus akses ke sejumlah desa terpencil. Tim darurat dikerahkan untuk mengevakuasi warga yang terjebak.
Monsun barat daya yang berlangsung dari Juni hingga September setiap tahunnya memang membawa berkah sekaligus petaka bagi Asia Selatan. Di satu sisi, hujan ini vital bagi pertanian dan pengisian kembali cadangan air. Di sisi lain, intensitasnya yang ekstrem kerap memicu bencana, terutama di kawasan perbukitan dan kota padat dengan drainase buruk.
Bagi Indonesia, rangkaian bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan serupa. Musim hujan di Indonesia juga kerap memicu longsor dan banjir bandang, seperti yang terjadi di sejumlah daerah akhir-akhir ini. Pelajaran dari Bangladesh dan India—mulai dari sistem peringatan dini, relokasi warga dari zona merah, hingga tata kelola drainase perkotaan—relevan untuk diadopsi guna mengurangi risiko bencana hidrometeorologi di Tanah Air.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah negara-negara di kawasan ini—termasuk Indonesia—mampu meningkatkan kesiapsiagaan dan infrastruktur menghadapi pola cuaca yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim? Tanpa langkah adaptasi yang serius, jumlah korban jiwa dan kerugian material diprediksi akan terus bertambah setiap musim hujan tiba.



