Bendungan Paunglaung Penuh, Myanmar Siaga Banjir: Ribuan Warga Diminta Waspada
Baca dalam 60 detik
- Bendungan Paunglaung di Nay Pyi Taw mencapai level penuh 190 meter, memicu kekhawatiran luapan spillway.
- Sungai Sittaung di Bago Timur melampaui batas bahaya, berpotensi naik 5 cm dalam 24 jam.
- Empat sekolah di Bago Barat ditutup akibat banjir; jadwal belajar akan dikejar di akhir pekan.

Bendungan Paunglaung di Nay Pyi Taw, Myanmar, mencapai kapasitas penuh pada Senin sore, memaksa otoritas setempat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi luapan air yang dapat memperparah banjir di kawasan hilir. Dinas Irigasi dan Pengelolaan Air Myanmar mengonfirmasi bahwa elevasi air telah menyentuh 190 meter, dan mereka akan melaporkan setiap luapan spillway secara real-time sesuai kondisi aliran masuk.
Meski reservoir telah penuh, 20 pintu spillway tipe HED justru dibuka untuk menambah kapasitas tampung air, yang bertujuan mendukung pembangkit listrik dan mengurangi risiko banjir di daerah hilir. Langkah ini merupakan bagian dari strategi pengendalian banjir yang mengutamakan manajemen aliran, bukan sekadar menahan air. Namun, jika debit air masuk terus meningkat, luapan spillway tetap menjadi ancaman yang harus dipantau ketat.
Di sisi lain, kondisi di hilir Sungai Paunglaung menunjukkan situasi yang lebih kritis. Berdasarkan data Dinas Meteorologi dan Hidrologi (DMH), tinggi muka air Sungai Sittaung di Madauk, Bago Timur, telah mencapai 1.129 sentimeter, melampaui batas bahaya 1.070 sentimeter. Dalam 24 jam ke depan, ketinggian air diperkirakan masih akan naik sekitar 5 sentimeter, sehingga warga di bantaran sungai diminta untuk tetap waspada dan bersiap mengungsi.
Ancaman serupa juga membayangi Sungai Bago di wilayah Bago Township. Meski saat ini masih sekitar dua kaki di bawah level bahaya, DMH memperingatkan bahwa ketinggian air bisa mencapai ambang kritis dalam sehari. Warga yang tinggal di dataran rendah telah diimbau untuk memantau perkembangan dan segera bergerak ke lokasi yang lebih aman jika diperlukan.
Dampak banjir juga telah mengganggu sektor pendidikan. Empat sekolah dasar dan menengah di Gyobingauk Township, Bago Barat, terpaksa ditutup sementara karena genangan air dari Sungai Makhah dan hujan deras yang terus mengguyur. Sekolah-sekolah yang terdampak antara lain Basic Education Post-Primary School (Htan Kone) dan Branch Basic Education Primary School (Nyaung Tan), yang terendam sejak Jumat lalu, serta dua sekolah lain yang terkena dampak pada 16 Agustus dan Senin kemarin.
Pemerintah setempat berjanji akan mengejar ketertinggalan materi pelajaran setelah banjir surut, dengan menggelar kelas tambahan pada hari Sabtu dan Minggu. Langkah ini diambil untuk memastikan para siswa tidak kehilangan hari belajar yang signifikan akibat bencana alam.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya manajemen infrastruktur air dan sistem peringatan dini banjir. Dengan curah hujan tinggi yang kerap melanda kawasan Asia Tenggara, koordinasi antara otoritas pengelola bendungan, badan meteorologi, dan pemerintah daerah menjadi krusial untuk meminimalkan korban jiwa dan kerugian ekonomi. Pengalaman Myanmar menunjukkan bahwa keterbukaan informasi dan kesiapsiagaan warga adalah kunci dalam menghadapi bencana hidrometeorologi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah otoritas Myanmar mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan listrik dan keselamatan warga saat musim hujan mencapai puncaknya. Dengan prediksi hujan yang masih tinggi, tekanan terhadap infrastruktur pengendali banjir akan terus berlanjut, dan kesiapan menghadapi skenario terburuk menjadi ujian nyata bagi ketahanan daerah tersebut.



