Drama VAR di Laga Hidup-Mati: Ronaldo Melaju, Modric Tersingkir
Baca dalam 60 detik
- Gol penyeimbang Croatia di menit akhir dianulir setelah teknologi chip pada bola mendeteksi sentuhan tipis Igor Matanovic yang membuatnya offside.
- Keputusan kontroversial VAR itu memicu kemarahan suporter dan pelatih Zlatko Dalic yang menilai teknologi telah membunuh emosi sepak bola.
- Kemenangan 2-1 Portugal mengantarkan Cristiano Ronaldo ke babak 16 besar, sementara Luka Modric dipastikan mengucapkan selamat tinggal pada Piala Dunia.

Sebuah keputusan VAR yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah Piala Dunia menggagalkan upaya Croatia menyamakan kedudukan di menit akhir injury time, sekaligus mengakhiri perjalanan Luka Modric di turnamen ini dan memperpanjang 'tarian terakhir' Cristiano Ronaldo.
Dalam laga yang berlangsung di Toronto, Portugal unggul 2-1 hingga injury time babak kedua memasuki menit ke-13. Josko Gvardiol berhasil menyontek bola dari jarak dekat dan membuat seluruh pemain Croatia berpesta. Namun, wasit asal Norwegia, Espen Eskas, menunda keputusan setelah menerima sinyal dari VAR. Fokus tertuju pada Igor Matanovic: apakah kepalanya menyentuh bola dalam proses gol? Jika ya, posisinya offside. Setelah meninjau ulang tayangan dan mengandalkan data dari chip di dalam bola Adidas Trionda—teknologi serupa Snickometer dalam kriket—wasit memutuskan menganulir gol. Keputusan itu memicu kemarahan suporter Croatia yang melemparkan botol plastik ke lapangan.
Pelatih Croatia, Zlatko Dalic, tak kuasa menahan kekecewaan. “Wasit sangat buruk. VAR membunuh emosi, membunuh segalanya dalam diri Anda. Kita sudah terlalu jauh dengan VAR,” ujarnya dalam konferensi pers seusai laga. Sebaliknya, pelatih Portugal, Roberto Martinez, membela keputusan tersebut. “Bola sekarang memiliki chip dan sensor menunjukkan bola disentuh. Tidak ada keputusan yang beruntung, itu momen yang jelas,” katanya.
Kontroversi ini memicu perdebatan di kalangan pengamat. Mantan bek Inggris, Matt Upson, mengaku ragu apakah Matanovic benar-benar menyentuh bola. “Putaran bola tidak berubah. Saya tidak yakin dia menyentuhnya,” katanya. Namun, mantan asisten wasit Premier League, Darren Cann, menyatakan data Snicko 100% membuktikan adanya sentuhan. “Dia offside saat bola dimainkan rekan setimnya, dan bola dibelokkan bek, bukan sengaja dimainkan, jadi offside tetap berlaku,” jelasnya.
Bagi Ronaldo, laga ini menjadi saksi bagaimana ia bangkit setelah sempat tertinggal. Ivan Perisic membawa Croatia unggul lebih dulu, lalu Ronaldo menyamakan kedudukan lewat penalti—gol pertamanya di babak gugur Piala Dunia dalam enam turnamen. Ia kemudian ditarik keluar pada menit ke-81, namun tetap berlari ke lapangan merayakan gol Goncalo Ramos yang membawa Portugal unggul 2-1. Mantan pemain Inggris, Theo Walcott, menilai keputusan menarik Ronaldo sudah tepat. “Dia punya momennya, dan pada akhirnya itu keputusan yang benar,” ujarnya.
Di sisi lain, kekalahan ini menjadi akhir pahit bagi Luka Modric. Gelandang berusia 40 tahun itu dihibur Ronaldo—mantan rekan setimnya di Real Madrid—setelah peluit panjang. Modric sebelumnya telah mengisyaratkan akan pensiun dari tim nasional. “Saya tahu saya telah mencapai fase tertentu dalam karier saya,” katanya. Dengan usia 44 tahun saat Piala Dunia 2030, hampir mustahil ia tampil lagi. Mantan gelandang Brasil, Lucas Leiva, menyebut Modric sebagai legenda yang membawa Croatia ke level tertinggi. “Sangat keras bagi Croatia tersingkir seperti ini. Tapi dia telah menunjukkan selama 20 tahun betapa hebatnya dia,” ucapnya.
Keputusan VAR ini kembali mempertanyakan batas penggunaan teknologi dalam sepak bola. Akankah FIFA meninjau ulang aturan offside yang kian ketat, atau justru teknologi chip akan menjadi standar baru yang tak terbantahkan? Yang jelas, bagi Croatia dan Modric, Piala Dunia kali ini berakhir dengan luka yang dalam.



