Carlos Queiroz Pamit dari Ghana Usai Tersingkir di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Pelatih veteran Carlos Queiroz resmi meninggalkan kursi pelatih Ghana setelah timnya kalah dari Kolombia di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
- Di bawah asuhannya, Ghana mampu lolos dari fase grup dengan kemenangan atas Panama dan hasil imbang melawan Inggris, sebelum akhirnya tersingkir.
- Kepergian Queiroz meninggalkan tanda tanya besar mengenai arah masa depan skuad Black Stars, terutama dalam menghadapi turnamen internasional berikutnya.

Carlos Queiroz, pelatih berusia 73 tahun yang membawa Ghana ke babak gugur Piala Dunia 2026, memastikan langkahnya meninggalkan kursi kepelatihan Black Stars setelah kekalahan tipis 1-0 dari Kolombia di babak 32 besar. Keputusan ini mengakhiri masa tugas singkat namun penuh warna yang dimulai pada April lalu, ketika ia ditunjuk untuk mempersiapkan tim menghadapi panggung terbesar sepak bola dunia.
Queiroz, yang sebelumnya pernah menangani timnas Portugal, Iran, dan Kolombia, berhasil membawa Ghana melaju dari fase grup yang berat. Mereka mengalahkan Panama 1-0 dan menahan imbang Inggris tanpa gol, sebuah hasil yang patut diacungi jempol. Meski kalah 2-1 dari Kroasia di laga terakhir grup, Ghana tetap lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik. Namun, langkah mereka terhenti di tangan Kolombia yang tampil efisien di babak 32 besar.
Dalam pernyataan resminya, Queiroz mengucapkan terima kasih kepada presiden federasi, dewan, pemain, staf, dan para penggemar. Ia menegaskan bahwa meskipun hasil akhir tidak sepenuhnya memuaskan, timnya telah berhasil mengembalikan rasa hormat dan kredibilitas Black Stars di panggung sepak bola dunia. "Kami tidak bisa mengklaim kepuasan olahraga yang sempurna, tetapi kami dapat dengan bangga mengatakan bahwa kami menghormati warna Ghana," ujarnya.
Kepergian Queiroz meninggalkan pekerjaan rumah besar bagi Federasi Sepak Bola Ghana (GFA). Mereka harus segera mencari pengganti yang mampu melanjutkan fondasi yang telah dibangun. Nama-nama seperti Milovan Rajevac atau bahkan pelatih lokal seperti Otto Addo kembali mencuat sebagai kandidat potensial. Namun, tantangan utamanya adalah mempertahankan konsistensi performa tim di tengah regenerasi pemain.
Bagi Indonesia, perjalanan Ghana di Piala Dunia 2026 memberikan pelajaran berharga. Sepak bola Afrika kerap menjadi tolok ukur bagi tim-tim Asia, termasuk Indonesia, dalam hal pengembangan pemain dan strategi turnamen. Keberhasilan Ghana lolos dari grup yang dihuni Inggris dan Kroasia menunjukkan bahwa perencanaan matang dan kepemimpinan pelatih berpengalaman mampu mengangkat performa tim yang dianggap underdog. Langkah GFA selanjutnya dalam memilih suksesor Queiroz bisa menjadi studi kasus bagi PSSI dalam membangun timnas yang kompetitif.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Ghana mampu mempertahankan momentum positif ini tanpa Queiroz? Atau justru akan kembali terpuruk seperti sebelum kedatangannya? Jawabannya akan mulai terlihat pada kualifikasi Piala Afrika 2027 dan persahabatan internasional mendatang.



