Piala Dunia 2026: Spanyol vs Austria, Lamine Yamal Jadi Andalan di Babak 32 Besar
Baca dalam 60 detik
- Spanyol dan Austria akan bertemu di babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Los Angeles, dengan pemenang berhak melawan Portugal atau Kroasia.
- Spanyol yang belum terkalahkan di turnamen ini melakukan dua perubahan starting XI, memasukkan Pedro Porro dan Dani Olmo.
- Austria yang dilatih Ralf Rangnick mengandalkan Marko Arnautovic dan Stefan Posch, setelah melalui fase grup yang tidak konsisten.

Lamine Yamal, remaja ajaib Barcelona, kembali menjadi ujung tombak Spanyol saat mereka bersiap menghadapi Austria di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Pertandingan yang berlangsung di Los Angeles pada pukul 20.00 waktu setempat ini menjadi ujian awal bagi La Roja yang belum terkalahkan sepanjang turnamen. Kemenangan akan membawa mereka ke babak 16 besar untuk berhadapan dengan pemenang duel Portugal vs Kroasia.
Spanyol melaju ke fase gugur dengan catatan impresif meski sempat terhenti di laga pembuka. Hasil imbang 0-0 melawan Cape Verde sempat menimbulkan keraguan, namun mereka bangkit dengan menghancurkan Arab Saudi 4-0 dan menekuk Uruguay 1-0 berkat gol Alex Baena. Koleksi gol Spanyol sejauh ini menunjukkan ketajaman lini depan, dengan Lamine Yamal mencetak satu gol dan Mikel Oyarzabal dua gol.
Pelatih Luis de la Fuente melakukan dua perubahan dari susunan pemain terakhir. Pedro Porro dan Dani Olmo masuk menggantikan Marcos Llorente serta Mikel Merino. Keputusan ini menunjukkan keinginan Spanyol untuk meningkatkan kreativitas di lini tengah dan kecepatan di sisi sayap. Porro yang tampil gemilang di Tottenham diharapkan bisa memberikan suplai bola bagi Yamal dan Oyarzabal.
Di kubu Austria, perjalanan mereka di fase grup lebih bergelombang. Mereka mengalahkan Yordania 3-1, kemudian takluk 0-2 dari Argentina, dan ditahan imbang 3-3 oleh Aljazair. Meski demikian, pelatih Ralf Rangnick tetap optimis. Rangnick baru saja memperpanjang kontrak dengan federasi Austria setelah sempat hampir menerima tawaran sebagai direktur teknis AC Milan. Kehadirannya di pinggir lapangan menjadi faktor kunci bagi tim yang mengandalkan pressing tinggi.
Austria mengandalkan beberapa pemain berpengalaman seperti Marko Arnautovic, mantan striker Inter Milan, dan bek Como Stefan Posch yang baru kembali dari masa pinjaman di Mainz dan Bologna. Keduanya menjadi andalan di lini depan dan belakang. Namun, tantangan terbesar mereka adalah menghadapi lini tengah Spanyol yang diisi oleh Pedri dan Rodri, dua gelandang kelas dunia.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menarik untuk disimak karena menunjukkan bagaimana tim-tim Eropa beradaptasi dengan tekanan turnamen. Spanyol yang diunggulkan harus mewaspadai kebangkitan Austria yang dipimpin Rangnick. Gaya bermain Austria yang agresif bisa menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Spanyol yang belum benar-benar teruji.
Pertandingan ini juga menjadi ajang pembuktian bagi Lamine Yamal. Remaja berusia 16 tahun itu telah menjadi sorotan dunia setelah penampilannya di Barcelona. Jika ia mampu membawa Spanyol melaju jauh, bukan tidak mungkin ia akan menjadi bintang terbesar turnamen ini. Namun, tekanan di babak gugur bisa menjadi ujian mental yang berat bagi pemain semuda dirinya.
Di sisi lain, Austria memiliki pengalaman di turnamen besar meski jarang mencapai babak dalam. Rangnick dikenal sebagai arsitek sepak bola modern yang mampu meramu tim tanpa pemain bintang. Keberhasilan mereka menahan imbang Aljazair yang kuat menunjukkan bahwa Austria tidak bisa diremehkan. Pertanyaan besarnya: mampukah mereka mengulang kejutan seperti yang dilakukan Kosta Rika di Piala Dunia 2014?
Laga Spanyol vs Austria akan menjadi pertarungan taktik antara dua pelatih yang berbeda filosofi. De la Fuente mengandalkan penguasaan bola dan serangan terstruktur, sementara Rangnick lebih suka transisi cepat dan tekanan tinggi. Siapa yang mampu menerapkan strateginya dengan lebih baik akan melaju ke babak berikutnya.



