Klinsmann: Kemenangan AS atas Belgia Jadi Tonggak Sejarah Sepak Bola Negeri Paman Sam
Baca dalam 60 detik
- Mantan pelatih Timnas AS, Jurgen Klinsmann, menilai laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 melawan Belgia akan menjadi momentum penting bagi perkembangan sepak bola Amerika Serikat.
- Klinsmann mengingat pertemuan sengit di Brasil 2014 yang berakhir 2-1 untuk Belgia, dengan kiper Tim Howard mencatat 16 penyelamatan, dan menyebut tim AS kini lebih matang serta percaya diri.
- Empat pemain Belgia yang menjadi bagian dari skuad 2014—Courtois, De Bruyne, Lukaku, dan Witsel—diprediksi kembali menjadi ancaman, namun faktor kandang dan kepercayaan diri tinggi membuat AS optimistis.

Jurgen Klinsmann, sosok yang pernah menukangi Timnas Amerika Serikat dan kini menjadi anggota Grup Studi Teknis FIFA, menegaskan bahwa kemenangan AS atas Belgia di babak 16 besar Piala Dunia 2026 bukan sekadar lolos ke perempat final, melainkan tonggak bersejarah bagi sepak bola di Negeri Paman Sam. Laga yang akan digelar di Seattle pada Senin mendatang ini langsung membangkitkan kenangan pertemuan epik di Brasil 2014, di mana AS harus mengakui keunggulan Belgia 2-1 setelah perpanjangan waktu meskipun Tim Howard mencatat rekor 16 penyelamatan.
Menurut Klinsmann, Belgia tetap layak dijagokan karena sejarah dan kualitas tim, apalagi mereka sukses menghajar AS 5-2 dalam laga uji coba Maret lalu. Namun, ia melihat perkembangan signifikan pada skuad asuhan Mauricio Pochettino. “Tim AS kini matang dan memiliki kepercayaan diri luar biasa sebagai tuan rumah. Jika mereka bisa tampil seperti saat melawan Paraguay di laga pembuka, mereka mampu mengimbangi Belgia,” ujar Klinsmann dalam wawancara dengan FIFA.
Pertandingan ini juga diwarnai nostalgia: empat pemain Belgia yang menjadi bagian dari skuad 2014—Thibaut Courtois, Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku, dan Axel Witsel—dipastikan kembali turun. Di kubu AS, kabar baik datang dari Folarin Balogun yang kartu merahnya melawan Bosnia dan Herzegovina telah dianulir, sehingga ia siap menjadi andalan lini depan.
Klinsmann menekankan bahwa pengalaman menjadi senjata utama Belgia. “Mereka tahu kapan harus meningkatkan tempo. Pemain seperti De Bruyne bisa mengubah permainan dalam sekejap. Mereka tidak akan gentar meski dihadang 70-80 ribu suporter lawan,” katanya. Namun, ia mengingatkan bahwa AS pernah nyaris mengalahkan Portugal di fase grup 2014 sebelum kebobolan di menit 94, dan hanya kalah tipis 1-0 dari Jerman. “Kepercayaan diri dari ‘Grup Neraka’ itu membuat kami yakin bisa mengalahkan Belgia,” tambahnya.
Bagi Indonesia, laga ini menarik untuk dicermati karena menunjukkan bagaimana sepak bola di negara dengan tradisi non-sepak bola bisa berkembang pesat. AS, yang selama 30 tahun terakhir terus membangun infrastruktur dan basis penggemar, kini menuai hasilnya. Jika mampu menaklukkan Belgia, bukan tidak mungkin AS akan menjadi kekuatan baru yang patut diperhitungkan di pentas global—sebuah pelajaran bagi negara-negara seperti Indonesia yang sedang giat mengembangkan sepak bola.
Klinsmann menutup dengan pandangan optimistis. “Kemenangan atas Belgia akan menjadi tonggak lain dalam perjalanan panjang sepak bola AS. Olahraga ini sudah sangat populer di sana, tetapi melaju ke babak selanjutnya akan memberikan dorongan luar biasa.” Pertanyaannya, akankah AS mampu mengulang kejutan seperti saat menahan imbang Inggris di Piala Dunia 2010, atau justru kembali patah hati seperti 12 tahun lalu?



