Weston McKennie: Mesin Penggerak Tim AS yang Tak Tergantikan di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Weston McKennie menjadi pemain paling vital bagi Amerika Serikat di Piala Dunia 2026, tampil penuh dalam empat laga dan hanya absen lima menit.
- Gelandang Juventus itu memimpin tim dalam umpan terobosan pertahanan (13) dan membantu AS mencetak 10 gol, rekor baru untuk tim Concacaf.
- AS akan menghadapi Belgia pada 6 Juli di Seattle untuk pertama kalinya lolos ke perempat final sejak 2002, dengan McKennie sebagai kunci.

Weston McKennie bukan sekadar pemain dengan kepribadian menular di luar lapangan. Gelandang berusia 27 tahun asal Texas itu telah menjadi motor utama kebangkitan Amerika Serikat di Piala Dunia 2026, membawa tim tuan rumah melaju ke babak 16 besar setelah mengalahkan Bosnia dan Herzegovina 2-0 di San Francisco Bay Area Stadium.
Perjalanan McKennie bersama tim nasional AS dimulai pada November 2017, saat ia masih berusia 19 tahun dan dipanggil untuk laga uji coba melawan Portugal di bawah pelatih interim Dave Sarachan. Kala itu, AS baru saja gagal lolos ke Piala Dunia 2018 setelah kalah 2-1 dari Trinidad dan Tobago—sebuah titik terendah bagi tim yang sebelumnya selalu tampil di tujuh edisi Piala Dunia. McKennie langsung mencuri perhatian, tidak hanya dengan energi dan antusiasmenya di latihan, tetapi juga dengan kepribadiannya yang ekstrover, seperti saat ia membawakan lagu Lil' Wayne di makan malam pertama tim. Beberapa hari kemudian, ia mencetak gol pembuka dalam hasil imbang 1-1 melawan Portugal, memberikan secercah harapan bagi para penggemar AS.
Kini, lebih dari delapan tahun kemudian, peran McKennie jauh lebih besar. Ia menjadi satu-satunya pemain AS yang tampil sebagai starter di keempat pertandingan Piala Dunia 2026, hanya absen lima menit dari total 360 menit. Pelatih Mauricio Pochettino tidak ragu memuji kontribusinya, terutama dalam hal umpan terobosan pertahanan. Melawan Bosnia dan Herzegovina saja, McKennie mencatatkan lima umpan seperti itu, sehingga totalnya menjadi 13 sepanjang turnamen—empat lebih banyak dari pemain mana pun. Meski belum mencetak gol atau assist, kehadirannya di lini depan membantu AS mencetak 10 gol, menjadikan mereka tim Concacaf pertama yang mencapai angka dua digit dalam satu edisi Piala Dunia.
Di sisi pertahanan, McKennie juga sama berharganya. Ia memenangkan dua duel udara melawan Bosnia dan Herzegovina, dan terus berlari tanpa lelah saat AS bermain dengan 10 pemain selama 30 menit terakhir. Bek Sergino Dest menggambarkannya sebagai pemain box-to-box yang sangat penting bagi keseimbangan tim. “Dia banyak berlari, membantu, dan masuk ke duel dengan segenap tenaga. Itu sangat membantu karena kami butuh keseimbangan,” ujar Dest.
Pochettino menambahkan, “Dia pantas mendapatkan pujian penuh karena bakat, kapasitas, dan kualitas yang dimilikinya. Dia menyadari bahwa dia bisa lebih baik dan mampu memenuhi tuntutan permainan. Saya ucapkan selamat karena dia adalah pemain fantastis dan penting bagi kami.”
Bagi Indonesia, perjalanan McKennie dan AS di Piala Dunia 2026 menjadi pelajaran tentang pentingnya regenerasi dan kepercayaan pada pemain muda. Gagal lolos ke Piala Dunia 2018 menjadi titik balik yang justru melahirkan generasi emas baru. Timnas Indonesia, yang tengah membangun fondasi menuju Piala Dunia 2034, dapat mengambil inspirasi dari bagaimana AS bangkit dari kegagalan dan menjadikan pemain seperti McKennie sebagai tulang punggung tim.
Pada 6 Juli mendatang, AS akan menghadapi Belgia di Seattle untuk memperebutkan tiket perempat final. Jika berhasil, itu akan menjadi pertama kalinya sejak 2002 mereka melaju sejauh itu. McKennie, dengan segala kontribusinya, dipastikan akan menjadi pusat perhatian—baik dalam kemenangan maupun selebrasi. Pertanyaannya, mampukah ia membawa AS melangkah lebih jauh dan menulis ulang sejarah sepak bola Amerika?



