Skotlandia Tunjuk Pelatih Belgia Sebastien Pocognoli: Misi Baru di Nations League
Baca dalam 60 detik
- Pocognoli, mantan pelatih Monaco, dikontrak dua tahun oleh Federasi Sepak Bola Skotlandia untuk menggantikan Steve Clarke.
- Kedatangan pelatih asing kedua dalam sejarah timnas Skotlandia ini menandai era baru setelah kegagalan di Piala Dunia 2026.
- Tantangan utama Pocognoli adalah membawa Skotlandia bersaing di Nations League dan mengembalikan kepercayaan publik.

Federasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) resmi menunjuk Sebastien Pocognoli, pelatih asal Belgia, sebagai kepala pelatih tim nasional dengan kontrak awal dua tahun. Keputusan ini diumumkan pada Minggu (16/8) dan langsung menjadi sorotan publik sepak bola Eropa, mengingat Pocognoli adalah manajer asing kedua dalam sejarah timnas Skotlandia setelah Berti Vogts pada awal 2000-an.
Pocognoli, yang kini berusia 39 tahun, datang dengan reputasi yang beragam. Ia baru saja dipecat dari AS Monaco pada Juni lalu setelah klub finis di posisi ketujuh Ligue 1 dan gagal lolos ke Liga Champions. Namun, sebelum itu, ia sempat dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Belgia setelah membawa Union Saint-Gilloise meraih gelar liga. Pengalaman ini menjadi modal penting baginya untuk membangun kembali skuad Skotlandia yang tengah dalam masa transisi.
Steve Clarke, pendahulunya, mengundurkan diri setelah berhasil membawa Skotlandia lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, meski harus tersingkir di fase grup turnamen di Amerika Utara. Kinerja Clarke memang layak diapresiasi, namun publik Skotlandia menuntut lebih dari sekadar partisipasi. Pocognoli diharapkan mampu membawa permainan yang lebih atraktif dan hasil yang lebih konsisten, terutama di ajang Nations League yang akan segera dimulai.
Dalam pernyataannya, Pocognoli mengaku sangat antusias dengan tantangan ini. Ia menyebut dukungan para penggemar Skotlandia yang terkenal fanatik sebagai salah satu daya tarik utama. "Saya pernah merasakan atmosfer itu saat bermain untuk Belgia di Skotlandia pada 2013," ujarnya, merujuk pada pengalamannya sebagai pemain. Namun, ia juga sadar bahwa ekspektasi tinggi menyertainya, terutama setelah kegagalan di Piala Dunia.
Bagi Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan tren global dalam sepak bola: semakin banyak federasi yang berani merekrut pelatih asing untuk mempercepat transformasi. PSSI, misalnya, juga tengah mempertimbangkan pelatih asing untuk Timnas Garuda. Pelajaran dari Skotlandia adalah bahwa kesabaran dan visi jangka panjang menjadi kunci, seperti yang ditunjukkan oleh keberhasilan Pocognoli di Union Saint-Gilloise.
Pocognoli, yang merupakan mantan bek kiri dan pernah bermain untuk Standard Liege, West Bromwich Albion, serta Brighton, diharapkan membawa filosofi sepak bola modern ala Belgia. Ia dikenal dengan pendekatan taktis yang fleksibel dan berani mempromosikan pemain muda. Ini sejalan dengan kebutuhan Skotlandia yang tengah meremajakan skuadnya.
Namun, tantangan terbesar Pocognoli adalah membangun kembali kepercayaan diri tim setelah kegagalan di Piala Dunia. Selain itu, ia harus segera beradaptasi dengan kultur sepak bola Skotlandia yang keras dan kompetitif. Pertanyaan besarnya: akankah ia mampu membawa Skotlandia lolos dari grup Nations League dan bersaing di kualifikasi Piala Dunia 2028? Publik Skotlandia tentu berharap banyak, dan hanya waktu yang akan membuktikan.



