Leicestershire ke Final One-Day Cup: Debutan Shaikh Jadi Penentu
Baca dalam 60 detik
- Hamza Shaikh, yang baru bergabung sebulan lalu, mencetak 104 run dan membawa Leicestershire menang 23 run atas Notts di semifinal.
- Kemenangan ini mengantarkan Leicestershire ke final One-Day Cup keenam di Trent Bridge, dengan Middlesex sebagai lawan.
- Final akan menjadi ajang pembuktian bagi tim non-unggulan, yang telah mendominasi kompetisi sejak 2021.

Leicestershire memastikan tiket ke final One-Day Cup setelah menaklukkan Notts Outlaws dengan selisih 23 run dalam laga semifinal yang berlangsung di Grace Road, Selasa (20/8/2025). Kemenangan ini menjadi yang kedua bagi tim berjuluk Foxes dalam empat tahun terakhir, sekaligus menegaskan dominasi mereka di kompetisi List A Inggris.
Penentu kemenangan Leicestershire adalah Hamza Shaikh, pemain berusia 20 tahun yang baru bergabung dari Warwickshire sebulan lalu. Shaikh mencetak 104 run dari 109 bola, dengan tujuh four dan dua six, membawa timnya menetapkan target 303-7 dalam 50 over. Ia bersama Nick Kelly (53) membangun kemitraan 117 run untuk wicket keempat, yang menjadi fondasi kemenangan.
Notts sebenarnya memulai dengan baik. Pasangan pembuka Ben Martindale dan Freddie McCann mencetak 63 run dalam 11 over. Namun, Rehan Ahmed, all-rounder Inggris, memecah kemitraan itu dengan menjebak Martindale leg-before pada bola pertamanya. McCann (64) dan kapten Haseeb Hameed (54) sempat membangun kemitraan 69 run, tetapi kecelakaan lari menyebabkan McCann run out. Pada akhirnya, Alex Green yang baru berusia 19 tahun menjadi mimpi buruk Notts dengan memecat Kyle Verreynne (43) dan Farhan Ahmed dalam empat bola di over ke-48, memastikan kemenangan Leicestershire.
Kemenangan ini mengantarkan Leicestershire ke final melawan Middlesex, yang akan digelar di Trent Bridge. Ini akan menjadi final keenam di stadion tersebut sejak kompetisi List A pindah dari Lord's pada 2019. Menariknya, sejak 2021, seluruh final One-Day Cup selalu dimenangkan oleh tim-tim yang tidak diunggulkan: Glamorgan (dua kali), Kent, Leicestershire, dan Worcestershire. Fenomena ini menunjukkan bahwa kompetisi ini menjadi panggung bagi tim-tim kelas menengah untuk bersinar.
Bagi pengamat kriket Indonesia, dominasi tim non-unggulan di One-Day Cup bisa menjadi pelajaran berharga. Di tengah gencarnya pengembangan kriket di Tanah Air, konsistensi dan strategi jangka panjang seperti yang dilakukan Leicestershire—mempercayakan tempat pada pemain muda seperti Shaikh dan Green—dapat menjadi inspirasi. Keberanian untuk memberi kesempatan pada talenta muda seringkali berbuah manis, sebagaimana dibuktikan oleh performa gemilang Shaikh yang baru sebulan berseragam Foxes.
“Kami percaya pada proses dan memberi kesempatan pada pemain muda. Hasil ini adalah buah dari kerja keras seluruh tim,” ujar pelatih Leicestershire, Paul Nixon, dalam konferensi pers usai pertandingan.
Dengan final yang tinggal menunggu waktu, pertanyaan besarnya adalah: akankah Leicestershire mampu mengulang sukses 2023, atau justru Middlesex yang akan mematahkan tradisi kemenangan tim non-unggulan? Satu hal yang pasti, final nanti akan menjadi pertarungan sengit antara dua tim yang sama-sama haus gelar.



