Lukaku Akui Belum Siap Mental, Serahkan Penalti Krusial ke Tielemans
Baca dalam 60 detik
- Romelu Lukaku secara jujur mengakui kondisi mentalnya belum cukup kuat untuk mengeksekusi penalti penentu di menit 125+ melawan Senegal.
- Penyerang Belgia itu lebih memilih menyerahkan bola kepada kapten Youri Tielemans yang sukses menjalankan tugasnya dan membawa Belgia menang 3-2.
- Kemenangan dramatis ini memperkuat solidaritas tim Belgia dan menegaskan Senegal sebagai salah satu lawan terberat di Piala Dunia 2026.

Romelu Lukaku membuat pengakuan mengejutkan setelah laga Belgia vs Senegal: ia merasa mentalnya belum siap untuk momen krusial seperti penalti di menit akhir. Penyerang andalan Belgia itu justru memilih menyerahkan bola kepada Youri Tielemans, yang kemudian sukses mengeksekusi penalti pada menit ke-125 dan memastikan kemenangan 3-2 di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Laga yang berlangsung Rabu malam itu berjalan dramatis. Senegal, finalis Piala Afrika, unggul dua gol lebih dulu. Namun Belgia bangkit dengan dua gol dalam tiga menit antara menit ke-86 dan 89, salah satunya dicetak Lukaku, untuk memaksa pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu. Di masa tambahan, Belgia mendapat hadiah penalti kontroversial yang sempat diprotes keras pemain Senegal.
Saat terjadi keributan di sekitar titik putih, Lukaku terlihat memegang bola di bawah lengannya. Setelah menunggu beberapa menit, ia memutuskan memberikan bola kepada Tielemans. Dalam wawancara usai pertandingan, Lukaku mengakui bahwa ia secara sadar tidak mengambil tanggung jawab tersebut. โSecara mental saya belum siap untuk momen sesulit dan sekrusial itu,โ ujarnya. โTim di atas segalanya.โ
Keputusan Lukaku menuai beragam reaksi. Di satu sisi, pengakuannya dianggap jujur dan dewasa. Di sisi lain, publik bertanya-tanya apakah seorang striker bintang seperti Lukaku seharusnya tidak menolak tanggung jawab di momen genting. Namun bagi pelatih Roberto Martinez, yang terpenting adalah hasil akhir. โYang kami butuhkan adalah pemain yang tahu kapan harus maju dan kapan harus memberi ruang,โ ujar Martinez dalam konferensi pers.
Bagi Indonesia, momen ini menjadi pelajaran berharga tentang manajemen tekanan di level tertinggi. Dalam sepak bola nasional, kasus penalti sering menjadi momok, seperti yang terlihat di final Piala AFF 2020. Kejujuran Lukaku bisa menjadi contoh bahwa mengakui keterbatasan mental bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kecerdasan emosional yang justru memperkuat tim.
Lukaku juga memuji Senegal sebagai salah satu tim terkuat di turnamen. โSecara teknis, fisik, taktis, sangat sulit,โ katanya. Namun ia menekankan bahwa semangat tim Belgia akhirnya muncul. Kemenangan seperti ini, menurutnya, bisa menyatukan grup lebih erat lagi. Pertanyaan selanjutnya: mampukah Belgia mempertahankan mentalitas ini hingga partai puncak?



