Duel Panas Haaland vs Gabriel Kini Pentas Piala Dunia: Siapa Tersenyum di New York?
Baca dalam 60 detik
- Perseteruan sengit Erling Haaland dan Gabriel yang lahir di Premier League berlanjut ke babak 16 besar Piala Dunia, saat Norwegia menjajal Brasil.
- Rekor buruk Brasil tak pernah menang atas Norwegia dalam empat pertemuan, menambah bumbu pertandingan yang diprediksi berjalan ketat.
- Pertarungan individu antara mesin gol Haaland dan tembok pertahanan Gabriel diperkirakan menjadi kunci penentu langkah ke perempat final.

Perseteruan pribadi paling panas di Premier League akhirnya naik ke panggung dunia. Minggu ini, Norwegia dan Brasil akan saling sikut di babak 16 besar Piala Dunia, mempertemukan dua tokoh sentral yang sudah lama saling beradu gengsi: Erling Haaland dan Gabriel.
Stadion New York New Jersey menjadi saksi duel antara kekuatan ofensif Norwegia yang diwakili Haaland dengan pertahanan kokoh Brasil yang dikomandoi Gabriel. Keduanya sudah menjadi pusat rivalitas sengit Manchester City dan Arsenal di liga domestik, dan kini mereka membawa dendam kesumat itu ke turnamen paling bergengsi di planet ini. Hasil pertarungan mereka tak hanya menentukan nasib pribadi, tapi juga akan membuka jalan menuju perempat final, di mana pemenangnya akan berhadapan dengan Inggris atau Meksiko.
Mantan striker Inggris Chris Sutton, dalam analisisnya untuk BBC Sport, menyebut duel ini sebagai yang paling menonjol di Piala Dunia sejauh ini. "Ini bukan sekadar adu fisik, tapi ada rasa tidak suka yang jelas di antara mereka. Saya yakin ada rasa hormat, tapi semua yang kita lihat menunjukkan mereka tidak saling menyukai," ujarnya. Alan Shearer, legenda Inggris lainnya, juga mengakui adanya 'niggle' alias senggolan psikologis yang membuat pertarungan ini layak ditunggu. "Mereka tidak harus saling suka, dan kita sudah melihat beberapa kali bentrokan. Ini pasti seru," kata Shearer.
Menariknya, Brasil yang lima kali juara dunia justru memiliki rekor buruk melawan Norwegia. Dalam empat pertemuan sebelumnya, Selecao tidak pernah menangโdua kali imbang dan dua kali kalah. Ini menjadikan Norwegia satu-satunya tim yang belum pernah dikalahkan Brasil. Statistik ini tentu menjadi motivasi ekstra bagi skuad asuhan Carlo Ancelotti untuk memutus kutukan sekaligus membungkam kritik yang menilai permainan Brasil kurang spektakuler.
Kisah rivalitas ini bermula pada September 2024, saat Manchester City dan Arsenal bermain imbang 2-2 di Etihad. Dalam momen kacau setelah gol penyeimbang John Stones, Haaland mengambil bola dari gawang dan melemparkannya keras ke arah kepala Gabriel yang sedang menutupi muka dengan jersey. Insiden itu memicu reaksi berantai. Pada Februari 2025, saat Arsenal menghancurkan City 5-1, Gabriel membalas dengan berteriak di wajah Haaland setelah mencetak gol. "Saya lakukan itu karena dia melempar bola ke kepala saya. Saat kami mencetak gol, dia ada di dekat saya, jadi saya langsung berteriak di telinganya," aku Gabriel.
Puncaknya terjadi pada April 2025, ketika Haaland mencetak gol kemenangan dan merayakannya dengan menyanyikan lirik lagu Flo Rida "Good Feeling" di depan kamera. Gabriel nyaris diusir wasit setelah melakukan sundulan ke arah Haaland, namun hanya mendapat kartu kuning. Balas dendam terakhir datang dari Gabriel: setelah Arsenal merebut gelar Premier League pertama dalam 24 tahun pada Mei lalu, ia mengunggah foto dirinya mengangkat trofi dengan iringan lagu yang samaโsebuah ejekan halus yang langsung viral.
Sutton memperkirakan akan ada setidaknya satu 'flashpoint' dalam pertandingan nanti. "Saya yakin akan ada gesekan, karena sifat fisik kedua pemain. Saat Haaland menarik baju Gabriel, lalu Gabriel mendekat, wasit harus ekstra waspada," katanya. Meski Haaland unggul dalam rekor gol, Gabriel adalah pilar pertahanan Brasil yang dianggap kurang greget namun efektif di bawah Ancelotti. "Brasil tidak seperti dulu yang mendominasi permainan. Mereka lebih suka bermain hati-hati, memanfaatkan Vinicius Jr. dan Rayan. Ini tim yang mengandalkan momen," ujar Sutton.
Di sisi lain, Norwegia bukan tanpa amunisi. Selain Haaland yang haus gol, mereka memiliki Martin Odegaard, kreator serangan yang meski kurang bersinar musim lalu karena cedera, kualitasnya tak perlu diragukan. "Norwegia lebih dari mampu mengalahkan Brasil. Pertandingan akan ketat, dan apa yang terjadi antara Haaland dan Gabriel bisa menjadi penentu," pungkas Sutton.
Pertanyaan besarnya: akankah Ancelotti mampu memecahkan teka-teki Norwegia yang selama ini menjadi momok? Atau justru Haaland yang akan membuat Brasil tersingkir lebih awal? Satu hal pasti, duel di New York ini bukan sekadar pertandingan sepak bolaโini adalah babak terbaru dari saga rivalitas yang sudah memanas sejak musim lalu.



