Mimpi Piala Dunia Hancur: Tiket StubHub Dibatalkan Mendadak, Fans Terlantar di Depan Stadion
Baca dalam 60 detik
- Praktik spekulatif di pasar tiket sekunder menyebabkan pembatalan mendadak, membuat fans kehilangan biaya perjalanan hingga ribuan dolar.
- Gugatan class action diajukan terhadap StubHub, sementara platform dan FIFA saling menyalahkan atas kegagalan sistem transfer tiket.
- Krisis diperkirakan memburuk seiring fase gugur, dengan ribuan penggemar berpotensi menjadi korban berikutnya.

Seorang penggemar sepak bola asal Meksiko, Sergio Enrique Alvarado Montalvo, harus menelan pil pahit setelah tiket Piala Dunia yang dibelinya di StubHub senilai $1.700 (£1.300) dibatalkan sepihak sehari sebelum pertandingan Argentina melawan Austria di Dallas. Ia telah mengeluarkan hampir $6.000 untuk tiket pesawat dan hotel bagi orang tuanya, namun akhirnya hanya bisa menyaksikan laga dari festival penggemar di luar stadion.
Kisah Montalvo hanyalah puncak gunung es dari apa yang disebut para pengamat sebagai salah satu kegagalan terbesar dalam industri tiket. Praktik "spekulatif"—di mana penjual mendaftarkan tiket yang belum mereka miliki dengan harapan mendapatkannya lebih murah mendekati hari pertandingan—menjadi biang kerok. Ketika harga melonjak, penjual membatalkan transaksi untuk menjual kembali dengan harga lebih tinggi, meninggalkan pembeli dengan kerugian besar.
Eben Pingree dari Boston mengalami nasib serupa. Istrinya membayar $2.800 untuk tiket Skotlandia vs Haiti di StubHub sebagai kejutan untuk putra mereka yang berusia 11 tahun. Tiket lenyap pada hari pertandingan, membuat anaknya "hancur hati". Pingree dan temannya yang juga membawa anak harus pulang dengan tangan hampa.
Dua penggemar, Julie Reeker Moghal dan Reuben Renteria, telah mengajukan gugatan class action terhadap StubHub di pengadilan AS. Mereka menuduh platform tersebut gagal menyerahkan tiket yang sudah dibayar, menyebabkan kerugian finansial besar. Dalam dokumen pengadilan, penggugat menyebut praktik ini sebagai "titik terendah baru" bagi industri yang sudah sarat masalah perlindungan konsumen.
StubHub menolak berkomentar mengenai kasus hukum ini, sementara FIFA tidak memberikan tanggapan langsung. Namun, kedua pihak saling lempar tanggung jawab. StubHub menuding aplikasi tiket FIFA yang baru diluncurkan mengalami "masalah kinerja signifikan" sehingga menghambat transfer tiket dari platform pihak ketiga. FIFA membantah dan menegaskan bahwa platform resminya beroperasi andal, dengan lebih dari 5 juta penonton telah menghadiri pertandingan.
Para ahli menilai dalih teknis tidak bisa diterima. Scott Friedman, salah satu pendiri Ticket Talk Network, menyalahkan StubHub 100%, meski ia juga mengkritik teknologi tiket FIFA yang "seperti perangkat lunak tahun 1999". Sementara itu, seorang penjual dari Austin mengaku merugi $2.600 setelah StubHub membatalkan penjualan tiket yang sah dan mendenda $1.400 dengan alasan "tidak dipenuhi".
Bagi konsumen biasa, melawan korporasi raksasa terasa mustahil. Bradford Clements, pengacara yang mewakili klaim senilai $2,4 juta terhadap StubHub, mengatakan perusahaan sengaja menggunakan proses sengketa yang rumit untuk mengintimidasi dan membuat korban menyerah. "Mereka ingin Anda takut, tunda, dan tolak," ujarnya. StubHub menolak menanggapi tuduhan ini.
Meskipun StubHub menjamin pengembalian dana melalui FanProtect Guarantee, jaminan itu tidak menutup biaya perjalanan non-refundable yang sudah dikeluarkan. Dengan Piala Dunia memasuki babak gugur, pengamat memperingatkan krisis pembatalan tiket bisa semakin parah, meninggalkan lebih banyak keluarga di depan pintu stadion tanpa kepastian.



