Petkovic Tepis Sentimen: Lawan Swiss, Fokus pada Performa
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Aljazair Vladimir Petkovic menolak anggapan bahwa pengalamannya bersama sepak bola Swiss menjadi keuntungan di babak 32 besar Piala Dunia.
- Aljazair lolos setelah mencatat satu kemenangan dan satu hasil imbang, tetapi kebobolan tujuh gol dalam tiga laga penyisihan grup.
- Pertandingan melawan Swiss akan menjadi ujian berat bagi Aljazair yang harus memperbaiki pertahanan dan tampil maksimal.

Pelatih tim nasional Aljazair, Vladimir Petkovic, menepis anggapan bahwa kedekatannya dengan sepak bola Swiss akan menjadi faktor penentu saat kedua tim bertemu di babak 32 besar Piala Dunia 2026, Kamis (2/7) waktu setempat. Meski memiliki sejarah panjang di Negeri Cokelat—pernah menjadi pemain, pelatih klub, hingga menukangi tim senior Swiss pada 2014–2021—Petkovic menilai pengetahuan semacam itu tidak lagi relevan di era sepak bola modern.
“Dunia sepak bola sudah universal, semua orang saling kenal. Tidak ada lagi rahasia dalam permainan. Saya rasa mengenal pemain lawan bukanlah keuntungan besar,” ujar Petkovic dalam konferensi pers di Vancouver, seperti dikutip Channel News Asia. Ia justru menyambut positif pertemuan dengan rekan-rekan lamanya, termasuk pelatih Swiss Murat Yakin, namun menegaskan bahwa begitu peluit dibunyikan, urusan pribadi harus dikesampingkan.
“Bukan Petkovic melawan Yakin, tapi Aljazair melawan Swiss,” tegasnya. Pelatih yang juga memiliki kewarganegaraan Swiss dan keluarganya tinggal di sana itu mengakui laga nanti akan berjalan ketat. “Kami harus memberikan 120 persen melawan tim Swiss yang sangat solid.”
Aljazair sendiri melaju ke fase gugur setelah melalui jalan terjal. Mereka kalah 0-3 dari Argentina di laga pembuka, lalu bangkit mengalahkan Yordania, dan ditahan imbang 3-3 oleh Austria. Petkovic blak-blakan mengakui kelemahan timnya. “Kami kebobolan terlalu banyak, terutama dari tembakan jarak jauh. Itu juga karena kualitas lawan, seperti yang terlihat saat melawan Argentina.”
Meski demikian, ia menyoroti sisi positif: produktivitas gol dan keberhasilan menembus babak knockout. “Ini baru kali kedua Aljazair mencapai babak gugur Piala Dunia. Kami harus terus berkembang dan tampil di puncak performa melawan Swiss, tidak hanya 90 menit, mungkin lebih.”
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, pertandingan ini menarik karena memperlihatkan bagaimana tim Afrika Utara beradaptasi di panggung global. Aljazair, yang kerap dianggap underdog, kini berhadapan dengan Swiss yang disiplin dan terorganisir. Pelajaran bagi timnas Indonesia: konsistensi pertahanan dan efektivitas serangan menjadi kunci di turnamen sekelas Piala Dunia.
Petkovic menegaskan bahwa sentimen tidak punya tempat di lapangan. “Saya senang bertemu mereka, tapi setelah itu, semua tentang pertandingan. Kami harus siap tempur.” Pertanyaan besarnya: mampukah Aljazair menambal kebocoran di lini belakang dan memanfaatkan peluang yang ada? Jawabannya akan terlihat di Vancouver.



