£185 Miliar untuk Dua Gelandang: De Zerbi Pangkas Skuad Tottenham, Conor Gallagher Terancam
Baca dalam 60 detik
- Tottenham menggelontorkan dana £185 juta untuk mendatangkan Mateus Fernandes dan Sandro Tonali, memecahkan rekor transfer klub dua kali dalam satu bursa.
- Conor Gallagher, yang baru bergabung enam bulan lalu, terancam kehilangan tempat utama karena gaya bermainnya kurang cocok dengan filosofi penguasaan bola De Zerbi.
- Kedatangan duet gelandang anyar ini memicu gelombang pemain keluar di lini tengah Spurs, termasuk potensi hengkangnya Lucas Bergvall dan Archie Gray.

Roberto De Zerbi tak main-main dalam merombak Tottenham Hotspur. Hanya dalam beberapa pekan sejak resmi menjabat, pelatih asal Italia itu telah mendatangkan enam pemain anyar, termasuk dua gelandang mahal yang memecahkan rekor transfer klub: Mateus Fernandes dan Sandro Tonali. Total biaya yang digelontorkan untuk duet ini mencapai £185 juta, sebuah angka yang belum pernah dikeluarkan Tottenham dalam satu jendela transfer sekalipun.
Langkah berani ini sekaligus menjadi sinyal bahwa era baru di Tottenham Hotspur Stadium telah dimulai. Setelah musim lalu yang mengecewakan di Premier League—dengan catatan pertahanan terburuk keempat—De Zerbi memilih memperkuat lini tengah sebagai prioritas. Fernandes, gelandang muda Portugal, dan Tonali, bintang Italia yang didatangkan dari Newcastle United, diharapkan menjadi motor permainan yang selama ini hilang dari skuad asal London utara tersebut.
Namun, di balik gebrakan tersebut, muncul pertanyaan besar: nasib para pemain yang sudah ada, khususnya Conor Gallagher. Gelandang Inggris yang baru bergabung pada Januari lalu itu sempat mendapat pujian dari De Zerbi, yang mengaku "mengagumi" permainannya saat masih di Chelsea. Namun, gaya bermain Gallagher yang mengandalkan intensitas tinggi dan pressing tanpa henti dinilai kurang cocok dengan filosofi De Zerbi yang mengutamakan penguasaan bola dan build-up yang sabar.
Perbandingan statistik musim lalu menunjukkan kesenjangan yang jelas. Gallagher hanya berada di 28% terbawah gelandang di lima liga top Eropa untuk umpan ke depan per 90 menit, dan 30% terbawah untuk umpan progresif. Sebaliknya, Fernandes menempati 40% teratas dan 36% teratas di dua kategori yang sama, sementara Tonali bahkan lebih baik dengan berada di 40% dan 33% teratas. Akurasi umpan Gallagher (85%) juga kalah dari Fernandes (87%). Bahkan dalam duel bertahan, Fernandes unggul jauh: ia berada di 7% teratas untuk kemenangan duel per 90 menit, sementara Gallagher hanya di 43% teratas.
Kedatangan dua gelandang baru ini juga memicu gelombang kepergian di lini tengah. Yves Bissouma telah pergi dengan status bebas transfer, sementara Joao Palhinha yang dipinjam dari Fulham tampaknya tak akan dipertahankan. Lucas Bergvall dikabarkan mendorong hengkang, dan Archie Gray menjadi incaran Newcastle United—klub lama Tonali. Situasi ini membuat Gallagher, yang baru enam bulan berseragam Spurs, berada di posisi yang tidak nyaman.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perombakan besar-besaran Tottenham ini menarik dicermati karena menunjukkan bagaimana klub besar Eropa berani mengambil risiko finansial demi membangun skuad impian. Keputusan De Zerbi memilih pemain yang cocok dengan sistemnya—bukan sekadar nama besar—bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Asia, termasuk Indonesia, yang kerap tergoda membeli pemain bintang tanpa mempertimbangkan kesesuaian taktik.
Dengan investasi sebesar itu, De Zerbi hampir pasti akan menjadikan Fernandes dan Tonali sebagai starter reguler musim depan. Gallagher, yang sempat menjadi andalan di akhir musim lalu, harus berjuang keras untuk membuktikan bahwa ia layak mendapat tempat di tim utama. Pertanyaannya, akankah ia bertahan atau menjadi korban berikutnya dari revolusi De Zerbi?



